Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 92


__ADS_3

"Sayang bangun, kamu kuliah gak?" Arsen mengusap pipi Naya karena sampai matahari bersinar terang Naya masih saja tertidur. "Kemarin minta dibangunin."


"Iya, Ar." Naya justru meraih tubuh Arsen dan memeluknya. "Kok kamu udah harum?"


"Iya, aku udah mandi."


"Sekarang jam berapa?" Kedua mata Naya masih terasa lengket. Setelah melewati malam panas bersama Arsen tidurnya sangat nyenyak.


"Hampir jam 7."


Seketika Naya membuka matanya lebar. "Udah siang, aku ada kelas jam 8." Naya bangun dan turun dari ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Sayang, pelan-pelan. Gak papa kalau telat dikit." Kemudian Arsen menyiapkan baju Naya lalu memasukkan laptoo dan buku Naya ke dalam tas.


Beberapa saat kemudian Naya keluar dari kamar mandi. Dia mengeringkan tubuhnya lalu memakai bajunya yang dibantu Arsen.


"Jangan buru-buru. Santai aja. Nanti kalau gak boleh masuk kelas ya pulang aja." Arsen mengancing kemeja Naya sedangkan Naya kini menyisir rambutnya.


"Sejak hamil aku jadi gampang capek. Dapat fast charging aja langsung tidur nyenyak sampai pagi."


"Iya, kan ibu hamil. Emang gitu sayang. Makanya aku gak terlalu ajak kamu bergadang."


Setelah memoles tipis wajahnya, kemudian Naya memakai kacamatanya. "Minus aku kayaknya nambah. Kok burem gini?" Naya mengernyitkan dahinya sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang sedikit buram


"Ya udah, nanti aku antar periksa ke dokter mata sekalian lihat dedek. Memang kamu gak pernah cek mata lagi?"


"Iya udah lama banget. Pengen deh bisa lepas dari kacamata. Minus bukannya berkurang malah makin nambah dari tahun ke tahun."


"Iya, nanti kita coba konsultasi. Siapa tahu ada alternatif untuk mengurangi mata minus. Ya udah, kita sarapan dulu. Nih, buku dan laptop kamu udah aku masukan. Buku periksa juga udah." Arsen membawa tas Naya dan mengajaknya keluar dari kamar.


"Makasih ya. Suami idaman banget." Naya mencubit pipi Arsen saking gemasnya. Semakin hari Arsen memang semakin perhatian dengannya. Dia diperlakukan seperti seorang ratu di rumahnya.


...***...


Sampainya di kampus, Arsen mengantar Naya sampai ke kelasnya.

__ADS_1


"Naya!" Rani datang menggandeng lengan Naya dan mengusir Arsen. "Biar Naya sama gue, lo ke kelas aja."


"Iya, iya." Arsen memutar langkahnya menuju kelasnya karena dia juga ada kelas pagi hari itu.


Naya dan Rani kini masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya. Tiba-tiba saja Tika mendekat dan memeluk Naya. "Nay, makasih ya."


"Buat apa?" tanya Naya. Dia melepas pelukan Tika dan menatapnya.


"Karena lo udah tolong gue. Galang udah mau bertanggung jawab sama gue. Nanti kedua orang tuanya akan ke rumah untuk membahas pernikahan kita," cerita Tika.


Naya ikut bahagia mendengarnya. Cepat juga Arsen bertindak. "Wah, selamat ya. Aku ikut senang dengarnya."


"Gue dengar lo juga akan menikah sama Rangga. Selamat ya, Ran," ucap Tika pada Rani.


Rani tersenyum dan membalas jabatan tangan Tika. "Iya, makasih."


"Kita kembali berteman lagi ya. Lupakan masa lalu yang udah lewat," kata Naya. Dia tidak mau lagi mengungkit kesalahan yang telah terjadi. Apa yang sudah Naya dapatkan sekarang, semuanya berkat kesalahan yang dilakukan Tika.


Tika menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Akhirnya dia bisa berdamai dengan keadaan.


...***...


Naya hanya menganggukkan kepalanya. Dia duduk di sebelah Arsen sambil memakan roti sandwich yang dia bawa dari rumah. "Mau?" Kemudian Naya menyuapi Arsen yang langsung digigit oleh Arsen.


"Udah, kamu makan aja. Biar gak lapar."


Naya menganggukkan kepalanya lalu menghabiskan sandwichnya.


Beberapa saat kemudian, mobil Arsen berhenti di tempat parkir rumah sakit. Mereka keluar dari mobil dan segera menuju poli kandungan karena sebelumnya Arsen sudah membuat janji dengan Dokter yang selalu menangani Naya.


Mereka berdua kini masuk ke dalam ruangan Dokter Sinta yang langsung disambut dengan senyuman ramahnya.


Naya kini berbaring di atas brankar untuk melakukan USG. Dia tak berhentinya tersenyum saat melihat buah hatinya berkembang dengan baik di dalam perutnya. "Bagus, semua sehat. Sudah terlihat nih jenis kelaminnya. Mau tahu sekarang atau menunggu acara gender reveal?" tanya Dokter Sinta sambil mengarahkan alat perekam USG di perut Naya.


"Nanti saja, Dok. Biar jadi kejutan," kata Arsen. Dia memang sudah mempunyai rencana untuk mengadakan acara gender reveal sekalian tujuh bulanan di rumah.

__ADS_1


"Baik, nanti saya kasih tahu ke EO yang menangani." Dokter Sinta menutup perut Naya lalu memeriksa tensi darah. "Tensi darahnya juga normal. Sekalian kita cek darah, untuk mengetahui hb dan lainnya." Dokter Sinta mengambil sample darah melalui jarum kemudian dia serahkan pada asistennya untuk segera dilakukan pemerikasaan lab.


Setelah itu Naya dan Arsen duduk di depan Dokter Sinta yang sedang mencatat hasil pemeriksaan.


"Maaf, mata Bu Naya minus berapa ya?" tanya Dokter Sinta.


"Tiga Dok, kebetulan saya juga akan ke Dokter spesialis mata karena sepertinya minus saya bertambah."


"Bu Naya rencana mau melahirkan secara normal atau operasi sesar?" tanya Dokter Sinta.


"Saya ingin melahirkan normal," kata Naya.


"Saya jelaskan sebentar ya, pada Ibu hamil yang mempunyai mata minus bisa sangat beresiko saat melahirkan secara normal karena efek dari mengejan akan membuat pembuluh darah di retina pecah dan retina beserta struktur lainnya di dalam mata juga bisa rusak. Saya sarankan untuk melakukan pemeriksaan retina terlebih dahulu, kalau memang retina lemah, lebih baik Bu Naya melahirkan secara operasi." jelas Bu Sinta.


Mendengar hal itu Arsen menjadi khawatir. Dia jelas tidak mau terjadi apa-apa pada Naya. "Sayang, kamu nanti melahirkan secara sesar saja ya. Aku gak mau kamu mengambil resiko." bisik Arsen di telinga Naya.


"Tapi aku mau merasakan secara normal." kata Naya sambil berbisik di dekat telinga Arsen.


"Sesar ataupun normal sama-sama berjuang. Aku gak mau kamu mengambil resiko." Keputusan Arsen sudah bulat, dia tidak akan membahayakan Naya. "Saya ingin istri saya melahirkan secara sesar saja, Dok. Saya tidak mau mengambil resiko."


"Baik, nanti bisa diatur jadwal menjelang HPL. Untuk hasil lab jika mau menunggu masih satu jam lagi, atau bisa saya kirim lewat e-mail."


"Tidak apa-apa kita tunggu, kita mau ke Dokter spesialis mata dulu." Arsen berdiri lalu bersalaman dengan Dokter Sinta, begitu juga dengan Naya.


"Baik, Pak."


Kemudian Arsen dan Naya keluar dari ruangan Dokter Sinta dan menuju poli mata.


"Udah, jangan dipikirkan. Aku gak mau kamu menanggung resiko saat melahirkan. Apapun prosesnya, kamu tetap menjadi seorang Ibu yang sempurna."


Naya hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


.


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2