Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 114


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, hari itu adalah hari pelepasan perban di mata Naya. Sedari tadi dada Naya sudah berdebar-debar. Apakah dia akan bisa melihat lagi? Dia sudah sangat ingin melihat wajah putranya.


"Ar, aku udah gak sabar ingin melihat Arnav." kata Naya sambil menunggu Dokter Herman datang.


"Iya, Arnav juga udah gak sabar. Sedari tadi dia gak mau tidur," kata Arsen yang sedang menggendong putranya. Ada kedua orang tua Arsen juga yang ikut menemani mereka.


Beberapa saat kemudian Dokter Herman datang. Dia memeriksa kondisi Naya terlebih dahulu lalu secara perlahan melepas perban di kedua mata Naya.


"Buka kedua matanya secara perlahan," kaya Dokter Herman.


Kemudian Naya membuka kedua matanya secara perlahan. Ada seberkas cahaya yang bisa dia tangkap oleh kedua matanya. Awalnya pandangannya masih kabur. Setelah berkedip beberapa kali secara perlahan, dia kini bisa melihat Arnav yang sengaja di dekatkan oleh Arsen di depan Naya.


Naya tersenyum, dia meraih tubuh Arnav dan menggendongnya. Dia telusuri wajah tampan putranya. Lalu menyentuh hidungnya yang mancung, menyentuh bibir Arnav yang tipis seperti dirinya.


Tiba-tiba bibir Arnav tersenyum dengan binar mata Arnav yang memandang Naya.


"Mirip kamu kan?"


Naya menganggukkan kepalanya lalu memciumi pipi putranya. "Arnav, akhirnya Ibu bisa melihat kamu."


"Bagaimana? Apa masih terlihat buram?"


Naya menggelengkan kepalanya. "Sudah jelas, Dok."


"Syukurlah. Operasinya berhasil. Masih harus sering kontrol ya. Nanti saya beri jadwal kontrolnya."


Naya hanya menganggukkan kepalanya. Pandangannya kini masih tidak bisa lepas dari putranya.


"Sayang, kamu gak mau lihat aku?" goda Arsen yang kini duduk di sebelah Naya.


Naya hanya tersenyum kemudian dia menatap Arsen. "Aku kangen sama kamu." Dia cubit pipi Arsen sesaat lalu dia pandang lagi wajah putranya. "Tapi kalau wajah Ayah Arsen kan udah sering Ibu lihat. Ini hari pertama Ibu melihat wajah Arnav. Ibu ingin memandang wajah Arnav seharian penuh."


"Ya sudah, kita sekarang pulang ya. Kamar kita sudah didekor nuansa biru, sesuai keinginan kamu. Ada box Arnav juga di dekat ranjang kita."


Naya menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka berdiri dan keluar dari ruangan Dokter Herman.

__ADS_1


"Nay, biar Mama yang gendong."


Naya menggelengkan kepalanya. "Biar Naya aja, Ma. Makasih Mama sudah membantu Naya dan merawat Arnav."


"Jangan bilang makasih, Mama cuma bantu sedikit waktu siang, sisanya semua dikerjakan sama Arsen." Kemudian Bu Ririn berjalan di samping suaminya karena Arsen terus merengkuh pinggang Naya.


"Makasih Mas Arsen." Naya menoleh Arsen sesaat sambil tersenyum kecil.


"Kamu panggil aku apa?" Arsen semakin mengeratkan rengkuhan tanganya.


"Ayahnya Arnav."


"Bukan itu, yang barusan?"


Naya hanya tersenyum malu karena Arsen terus menatapnya. "Mas Arsen. Gak boleh aku panggil gitu? Soalnya aku mau panggil sayang malu."


"Ya boleh. Aku malah seneng." Kemudian Arsen berbisik di telinga Naya. "Aku makin sayang sama kamu."


Naya masih saja tersenyum. Dia merasa sangat bahagia dengan keluarga kecilnya ini. Setelah sampai di tempat parkir, Naya yang dibantu Arsen masuk ke dalam mobil. Mereka duduk di jok belakang, sedangkan kedua orang tua Arsen duduk di depan.


"Akhirnya tidur."


"Lucu banget kalau tidur. Jadi anak yang pintar ya. Semoga kelak kamu tidak meniru sesuatu yang buruk dari kedua orang tua kamu. Jadi lelaki yang pemberani, baik, dan bertanggung jawab seperti Ayah ya."


"Dan satu lagi yang paling penting, harus berbakti pada kedua orang tua terutama pada ibu." Mereka berdua sama-sama tersenyum sambil terus memandangi wajah pulas Arnav.


...***...


"Syukurlah, kamu bisa melihat lagi Nay." Rani ikut bahagia saat melakukan video call dengan Naya malam hari itu. "Maaf ya aku belum bisa ke rumah kamu soalnya aku tadi bantu Rangga di resto."


"Iya, gak papa. Kak Rangga kemana?"


"Lagi di kamar mandi. Ya udah kamu sekarang istirahat saja. Besok aku sama Rangga ke rumah kamu."


"Iya, thanks ya Ran."

__ADS_1


"Udah cepetan gas poll, gak mau baby lucu kayak gini. Lihat nih, udah sering senyum." Terlihat Arsen menunjukkan Arnav yang sedang tersenyum lucu.


"Ih, Arnav. Lucunya. Pengen gendong terus aku culik bawa ke rumah."


"Enak aja. Buat sendiri. Ngga, cepat Ngga, gas."


Seketika Rani mematikan panggilan videonya. "Ngeselin banget tuh Arsen."


"Kenapa? Aku dengar suara Arsen tadi."


"Biasa tukang rusuh." Rani meletakkan ponselnya di atas nakas lalu merebahkan dirinya di atas ranjang.


"Kenapa cemberut?" Rangga menyusul Rani naik ke atas ranjang lalu memeluk tubuh Rani dari samping.


"Jadi pengen punya baby."


"Iya, sabar ya. Kita berusaha dulu. Kan baru dua bulan. Atau mau konsultasi saja ke Dokter?"


Rani menggelengkan kepalanya. "Kita tunggu saja selama enam bulan, kalau belum kita konsultasi. Aku gak pengen cepet-cepet sebenarnya, tapi pas lihat Arnav yang lucu itu rasanya pengen punya sendiri soalnya Arsen rusuh banget, ih, ngeselin."


Rangga hanya tertawa. "Arsen dari dulu kan emang kayak gitu." Kemudian Rangga semakin mengeratkan pelukannya. Lalu wajahnya kini bersembunyi di ceruk leher Rani. Dia mulai menyusurinya lembut dengan bibirnya.


Rani semakin mendongak merasakan sentuhan bibir Rangga. Semakin lama ciuman itu semakin turun ke dada Rani. Kemudian Rangga menyingkap daster pendek Rani hingga melewati kepalanya. Dia semakin memberi sensasi pada Rani dengan menyentuh titik-titik sensitif Rani dengan jemarinya.


Tubuh mereka kini sudah sama-sama polos. Rangga memiringkan Rani dan membuka kedua pa ha nya.


"Ngga!" Rani sedikit terkejut saat Rangga memasukinya secara tiba-tiba. "Pelan-pelan, ih."


"Udah gak tahan sayang." Satu tangan Rangga memegang pinggul Rani saat dia semakin menambah gerakannya.


.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2