
Arsen kini duduk di sebelah Virza yang sedari tadi senyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya. "Yang lagi jatuh cinta bawaannya senyum-senyum sendiri terus."
"Emang lo aja yang bisa seneng-seneng." Virza kini memasukkan ponselnya ke saku lalu mengambil rokoknya dan diberikan pada Arsen. "Udah selesai motornya?"
"Udah, udah gue cek semua. Udah bisa diambil sama orangnya." Arsen menghidupkan rokok lalu menyesapnya.
"Bentar lagi gue mau ngumpul sama anak-anak. Lo gak ikut?"
Arsen menggelengkan kepalanya. "Enakan pulang ke rumah. Naya udah nunggu di rumah."
"Wih, mantap. Tiap malam udah ada yang nemenin. Bikin gue envy aja."
"Makanya cepat nikah sana!"
Virza tertawa sambil menepuk bahu Arsen. "Gak semudah itu. Bokap gue gak mungkin izinin sebelum gue lulus kuliah."
"Ngomong-ngomong lo udah jadian sama Rani?" tanya Arsen.
"Masih pendekatan."
"Kelamaan. Langsung aja tembak, sebelum dia kabur."
"Iya, gue planning dulu biar romantis. Emangnya lo gak pernah romantis."
Arsen tertawa. Dia memang belum pernah romantis dengan Naya.
"Gimana semalam, asyik?" tanya Virza
"Apanya?"
"Gue sama Rani udah kasih kado yang bermanfaat buat lo. Emang belum Naya pakai?"
__ADS_1
Arsen mengingat-ingat kado yang diberikan Rani dan Rangga semalam. "Microwave?"
"Bukan. Itu baju dinas malam, yang sexy."
"Baju dinas malam, yang biasanya nerawang dan hanya pake tali itu."
"Yoi, gue dan Rani beliin buat Naya. Kurang baik apa gue buat nyenengin sahabat yang kadang gak tahu diri ini."
Arsen masih saja berpikir. Dia sama sekali tidak tahu kado itu. "Gue gak tahu kado itu, Naya juga gak pakai apa-apa. Eh, maksud gue..." Arsen menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal. Iya, memang semalam Naya tidak memakai apa-apa alias polosan.
Virza semakin tertawa. "Pasti Naya takut lo makan habis kalau pakai itu."
Arsen mematikan rokoknya di asbak lalu dia menepuk bahu Virza. "Gue jadi penasaran. Gue pulang dulu ya. Kerjaan gue udah selesai." Arsen segera berjalan menuju motornya. Setelah memakai helmnya, Arsen menaiki motornya. Beberapa saat kemudian, Arsen sudah melajukan motornya pulang ke rumah.
...***...
"Pakai yang mana ya?" Naya menatap dirinya di cermin. Dia kini mencoba lingerie sexy itu. "Aduh, ini sebenarnya apa yang ditutupi sih? Transparant semua."
Akhirnya Naya menjatuhkan pilihannya pada lingerie warna merah. Kemudian dia mengambil piyama kimononya dan memakainya agar tubuhnya yang sexy itu tidak terlihat. Setelah itu dia menyiapkan kue ulang tahun yang dia beli. Tidak terlalu besar, yang penting habis dimakan berdua.
Naya melihat jam di ponselnya. "Sebentar lagi Arsen pulang." Dia mematikan lampu ruang tamu lalu masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang.
Dia tunggu sampai terdengar suara motor Arsen lalu dia nyalakan lilin itu.
Beberapa saat kemudian terdengar Arsen membuka pintu lalu menutupnya kembali dan menguncinya.
"Nay, udah tidur? Kok tumben kamu matiin lampunya." teriak Arsen dari luar kamar. Kemudian Arsen membuka pintu kamar dan saat itu juga Naya mendekat sambil membawa kue ulang tahun lengkap dengan lilin yang telah menyala.
"Selamat ulang tahun. Cuma ini yang bisa aku kasih buat kamu."
Arsen menatap Naya dengan mata berbinarnya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan perhatian Naya sampai sebesar ini. "Nay, ini udah lebih dari cukup. Aku..." Arsen menghela napas panjang lalu memejamkan matanya dan berdoa dalam hatinya. Kemudian dia membuka matanya. "Semoga kita selalu bersama selamanya."
__ADS_1
"Amin."
Kemudian Arsen meniup lilin itu hingga padam. Setelah itu, Arsen memotong kue dan menyuapi Naya. Sekarang berganti Naya yang menyuapi Arsen.
"Malam ini kamu wangi dan cantik banget gini," kata Arsen sambil menghirup dalam leher Naya.
Naya hanya tersenyum lalu meletakkan kue itu di atas meja. Dia membalikkan badannya dan bergelayut manja di leher Arsen. "Emang biasanya aku gak cantik?"
"Cantik pake banget."
Naya mendekatkan dirinya dan memulai ciumannya di bibir Arsen. Tubuh mereka saling berhimpitan. Ciuman itu sudah semakin dalam dan menuntut. Perlahan Naya mendorong tubuh Arsen ke atas ranjang.
Arsen hanya menatap Naya. Kira-kira apa yang akan dilakukan Naya? Naya terlihat lebih agresif dari biasanya. "Sayang mau apa?"
"Mau jadikan malam ini spesial buat kita." Naya mendekat dan naik ke atas tubuh Arsen. Kemudian dia membuka piyamanya dan terlihatlah tubuh sexy dan indah itu.
Arsen melebarkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka. Dia menelan salivanya melihat lekuk tubuh yang sangat indah dan menggoda itu hanya terbalut kain berenda dan tipis. Kedua buah sintal itu semakin terlihat menggoda di balik kain berlubang tanpa memakai apapun lagi. Lengkap dengan g-string yang hanya selembar tali saja.
"Kamu sexy banget." Arsen mengusap kedua lengan Naya lalu perlahan bergeser dan me re mas kedua buah sintal itu. "Rasanya udah gak tahan ingin makan kamu."
Naya tersenyum malu lalu menggerakkan pinggulnya di atas milik Arsen yang sudah menegang.
"Ough, sayang kamu di atas ya..."
💕💕💕
.
.
🙄🙄🙄
__ADS_1