
"Kak Rangga..."
Rangga tersenyum lalu mengusap puncak kepala Naya. "Kamu sudah tahu? Jangan panggil Kak, kayak biasanya aja."
Naya menggelengkan kepalanya. "Dari dulu aku pengen punya kakak laki-laki."
"Kan kamu udah punya aku," celetuk Arsen.
"Ih, kamu kan suami," kata Naya.
"Tahu tuh Arsen." Rani juga ikut menimpali.
"Njir, suami kan bisa jadi kakak juga. Kalau kakak gak bisa jadi suami." Arsen tertawa. Ya, setidaknya kehidupan rumah tangganya sekarang sudah terbebas dari bayang-bayang Rangga yang dulu sempat dia takutkan.
"Gimana luka Kak Rangga?" tanya Naya, dia kini melihat bahu Rangga yang dibalut perban.
"Gak terlalu parah, untunglah pelurunya gak dalam. Calon ponakanku gak papa kan?" tanya Rangga. Sejak tahu Naya hamil, dia ikut bahagia dan sudah sangat menunggu kehadiran ponakannya itu.
Naya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Gak papa. Dia kuat."
"Pantesan Rangga sangat excited saat tahu Naya hamil gak tahunya ponakan sendiri," kata Arsen. Dia kini membenarkan selimut Naya yang tersingkap.
"Lo kalau ngidam juga ngeribetin gue. Kalau bukan sama ponakan sendiri gue ogah. Sampai beliin tespek segala. Lucu aja bad boy kalau lagi takut sama istri." Rangga tertawa mengingat kekonyolan Arsen dulu.
Arsen mendorong lengan kanan Rangga. "Jangan buka kartu napa. Naya jadi tahu kan."
Naya hanya tersenyum kecil, karena selain tidak boleh gerak, dia juga tidak boleh tertawa terlalu keras. "Iya, memang lucu banget waktu itu."
"Yah, hiburan setelah ketegangan gini nih." Rangga menghela napas panjang lalu memijat pelipisnya yang terasa pusing. "Ar, anterin gue kembali ke kamar. Kepala gue keliyengan. Biar Rani di sini dulu."
"Oke," Arsen membawa tabung infus Rangga lalu dia berjalan sambil menahan lengan Rangga.
"Kak Rangga cepat sembuh ya." kata Naya.
"Iya, kamu juga."
__ADS_1
Setelah itu Rangga dan Arsen keluar dari ruangan Naya. "Ngga, Bara masih lolos. Kita harus tetap waspada."
"Iya, tapi setidaknya darkweb mereka sudah terbongkar. Kalau Bara berbuat ulah lagi, langsung saja kita singkirkan. Dia udah gak punya power."
Arsen menganggukkan kepalanya. "Lo sendirian?" tanya Arsen saat membantu Rangga naik ke atas brankar dan tidur miring ke kanan.
"Ada anak buah gue diluar. Kalau orang tua gue masih urus masalah tadi."
"Oo," Arsen kini duduk di dekat brankar Rangga. "Gue temani sebentar. Pasti Rani juga masih mengobrol dengan Naya. Di sana juga ada Mama. Pasti Naya lupa mau bilang sama kamu soal Tika."
"Bilang apa?"
"Naya ingin bokap lo turunin dana partai bokapnya Tika. Ya, lo tahu kan Naya itu terlalu baik."
"Ya, sebenarnya gak masalah juga soal itu. Gampanglah nanti aja gue bilang sama bokap." Rangga kini menatap kosong jendela yang tertutup tirai itu, dia sedang memikirkan perasaannya pada Rani. "Ar, gue mau tanya tapi lo jangan tertawa."
"Apa?"
"Apa bisa rasa sayang pada sahabat berubah jadi cinta?" tanya Rangga.
"Ya gue gak tahu, makanya gue tanya." Rangga menghela napas panjang. Sebenarnya dia terpaksa juga minta pendapat Arsen. "Sekarang yang dekat sama gue cuma lo doang."
"Ya, sebenarnya bisa aja karena cinta itu datang karena terbiasa, cuma masalahnya Rani mau gak sama lo. Yakin, dia udah gak ada hubungan sama Virza?"
Rangga mengalihkan pandangannya. Perkataan Arsen membuatnya berpikir. Iya juga, Rani mana mungkin mau dengannya. Atau memang Rani masih ada hubungan dengan Virza tapi backstreet? Setelah curhat dengan Arsen, hati Rangga semakin tidak tenang saja. "Curhat sama lo buat hati gue makin gak tenang aja."
"Gini aja biar Naya yang selidiki ini. Rani pasti sering curhat sama Naya."
Seketika Rangga tersenyum. "Lo bener juga. Nanti bilang sama Naya ya."
"Iya, iya, makanya kalau cinta itu bilang langsung. Gak usah bingung dan dipendem."
"Kayak lo dulu nggak aja."
Arsen tertawa. "Sekarang beda bro. Udah mau jadi bapak, loss."
__ADS_1
...***...
"Ran, mungkin gue libur lama kuliahnya." kata Naya.
"Iya gak papa, yang penting kamu dan dedek yang ada dalam perut sehat sampai lahiran nanti. Aunty udah gak sabar pengen gendong asal gak ngeselin aja kayak bapaknya."
Naya tersenyum kecil. "Iya, kadang Arsen memang ngeselin tapi dia sekarang udah dewasa, udah gak kayak dulu lagi."
"Ih, yang udah bucin."
"Lo kapan bucinnya sama Rangga?"
"Loh, kok sama Rangga?"
Naya melirik orang tua Arsen yang sibuk sendiri dan tidak mungkin mendengarkan obrolannya. "Iya, sama siapa lagi?"
Rani semakin mendekatkan dirinya pada Naya. "Eh, masak tadi Rangga tiba-tiba ngajak gue nikah. Pasti dia cuma nge-prank gue."
"Kalau serius gimana? Kita bisa jadi saudara loh." kata Naya.
Rani menggembungkan pipinya, tidak bisa dia bayangkan jika dia akhirnya bersama Rangga. "Harus gitu jadi saudara lewat jalur nikah sama Rangga."
"Emang lo masih nungguin Kak Virza?"
"Ya gak terlalu nunggu juga sih. Biasa aja. Kadang Kak Virza juga masih hubungi gue." Beberapa saat kemudian ponsel Rani berbunyi dan ada panggilan masuk dari Virza. "Nah kan, baru juga diomongin."
Kemudian Rani mengangkat panggilan dari Virza. "Iya, hallo... Iya, aku lagi di rumah sakit, ini di ruangan Naya... Oke, aku tunggu..." Setelah itu Rani mematikan panggilannya.
"Kak Virza dan teman-temannya mau ke sini jenguk Rangga dan lo. Gue disuruh nunggu." Rani hanya terdiam sambil menatap layar ponselnya. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba dilema.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1