Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 116


__ADS_3

Akhirnya hari yang ditunggu Laras dan Virza pun tiba. Setelah melakukan ijab qabul, mereka berdua mengadakan resepsi di sebuah hotel bintang lima.


Laras terus menarik Naya agar ikut masuk ke dalam kamar yang sudah dijadikan sebagai ruangan make up.


"Kak, aku udah dandan. Gak usah." kata Naya yang sedang menggendong Arnav di tangan satunya.


"Arnav, biar sama Mama kamu siap-siap saja." Bu Nita mengambil Arnav dari gendongan Naya. "Ganteng banget cucu oma." Bu Nita menciumi bayi gemoy yang sekarang sudah berumur tiga bulan itu. Tawanya sangat nyaring saat digoda. "Tawanya penyemangat banget. Biar Ibu sama Ayah siap-siap dulu ya. Arnav sama Oma dan Opa."


"Siap-siap apa, Ma?" tanya Arsen saat masuk ke dalam kamar itu bersama kedua orang tuanya.


"Jadi gini, kami semua juga menyiapkan resepsi ini untuk kalian berdua. Dulu kan kalian gak ada resepsi apapun."


"Resepsi? Tapi kan sudah lama menikah." kata Naya. "Arnav juga udah ada. Gak perlu resepsi segala."


"Naya, putri Papa ada dua, jadi biar adil," kata Pak Aji


"Iya, Arsen, kamu juga anak Mama satu-satunya. Dulu Mama tawarin resepsi, kamu selalu gak mau. Jadi sekarang harus mau." kata Bu Ririn, dia mengambil baju untuk Arsen yang telah disiapkan oleh MUA.


"Nay, kita jadi pengantin baru lagi?" Arsen tertawa sambil setelan kemejanya.


Naya hanya tertawa. Dia juga tidak bisa membayangkan menjadi pasangan pengantin lagi di resepsi setelah menikah lama dengan Arsen, bahkan sekarang sudah ada buah hatinya yang berusia tiga bulan.


"Gak papa, biar seru!" Virza yang telah selesai berganti pakaian kini menyisir rambutnya lalu dipoles sedikit make up oleh MUA.


"Hadeh, gak kebayang kalau teman-teman kita datang. Mereka bakal goda kita abis-abisan kalau barengan duduk di pelaminan." Arsen juga sudah selesai berganti baju. Dia justru meraih Arnav yang sedari tadi ingin ikut dengannya lalu mendekati Naya yang sedang merapikan gaunnya. "Ibu, cantik banget ya."


"Tuh kan, pasti kalian juga pengen kan ngerasain jadi pengantin dalam sehari. Nikmati aja hari ini," kata Laras. Dia juga memakai gaun yang sama dengan adiknya.


"Wah, cantik banget dua pengantin ini." Rani kini masuk ke dalam ruangan itu bersama Rangga. "Kalian tenang aja ya, biar Arnav sama aku. Aku bakal jagain seharian ini." Kemudian Rani mengambil Arnav dari gendongan Arsen. "Kedua orang tua kalian kan pasti ikut sibuk di atas pelaminan."


"Ya udah, jagain ya. Susu dan perlengkapannya ada di kamar sebelah. Nih, kuncinya." Arsen memberikan kunci kamar hotel pada Rani. Dia memang sengaja menyewa satu kamar hotel untuk istirahat Arnav saat tidur. "Dua jam lagi waktunya tidur, nanti kalau udah ngantuk kamu buatin susu aja, dia tidur sendiri."


"Oke, beres." Lalu Rani menggoda Arnav yang sangat murah senyum itu. Lalu dia berjalan bersama Rangga keluar dari ruang make up.


Satu tangan Arsen masih setia menggenggam tangan Naya. Mereka melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Virza dan Laras. Senyum itu terus mengembang di wajah mereka. "Kita pengantin-pengantinan hari ini, berarti nanti malam kita malam pertama lagi," bisik Arsen yang seketika mendapat satu cubitan dari Naya.


"Ih, udah ada anak satu. Udah bukan malam pertama lagi."


Tangan Arsen berpindah ke pinggang Naya dan merengkuhnya erat. "Iya, memang bukan malam pertama yang sebenarnya tapi malam pertama setelah aku puasa hampir 6 bulan."

__ADS_1


Naya hanya tersenyum malu, memang sejak kandungannya bermasalah di usia 6 bulan sampai sekarang Arsen tidak pernah melakukannya lagi.


Mereka kini memasuki ruangan resepsi. Langkah mereka disambut dengan iringan biola dan juga asap di sepanjang karpet merah dengan hiasan bunga di kedua sisinya menuju ke pelaminan.


"Jadi seperti ini rasanya jadi pengantin." bisik Naya di dekat telinga Arsen. Sedari tadi dadanya berdebar tak karuan.


Serangkaian acara demi acara mereka lewati. Banyak sahabatnya yang datang ke acara itu. Ternyata semua keluarga dan sahabat sudah tahu jika resepsi itu juga untuk Naya dan Arsen. Hanya mereka berdua saja yang tidak mengetahuinya.


Ucapan selamat dan candaan silih berganti dari sahabat dan kerabat untuk mereka. Begitu juga dengan Rani dan Rangga. Mereka berdua naik ke atas pelaminan bersama Arnav.


"Arnav, duduk sama Ibu ya di sini." Naya meraih Arnav dan menggendongnya. Berulang kali Arnav menguap panjang.


"Udah ngantuk banget. Kamu tenang aja, biar Arnav aku yang jaga. Biar dia istirahat di kamar ya. Kamu nikmati aja acara kamu hari ini," kata Rani. Dia kembali mengambil Arnav setelah memberi selamat pada Laras dan Virza.


"Arnav, gak boleh rewel sama aunty ya. Nanti kalau sudah selesai, Ibu langsung ke kamar."


"Iya, Ibu. Dada..." Kemudian Rani turun dari pelaminan bersama Rangga.


"Ar," panggil Virza. Dia membisikkan sesuatu pada Arsen yang langsung dijawab anggukan oleh Arsen. Kemudian mereka berdua turun dari pelaminan.


"Mas, mau kemana?" Pertanyaan Naya sudah tidak dijawab Arsen. Naya kini mendekati kakaknya. "Kak, mereka mau kemana?"


Beberapa saat kemudian terdengar suara Virza dan Arsen dari microfon. "Lagu ini kita persembahkan untuk istri kita yang telah mengizinkan kita melabuhkan cinta terakhir kita dalam hidupnya. Semoga kita selalu bersama sampai tua nanti, tidak hanya dalam suka tapi juga dalam duka."


Naya menutup mulutnya sambil menatap Arsen yang sekarang berjalan ke arahnya.


Arsen meraih tangan Naya dan menggenggamnya, begitu juga dengan Virza. Mereka turun dari pelaminan dan berhenti di panggung hiburan.


Satu tangan Arsen masih setia menggenggam tangan Naya.


Akhirnya ku menemukanmu


Saat hati ini mulai merapuh


Akhirnya ku menemukanmu


Saat raga ini ingin berlabuh


Virza mulai bernyanyi, dia juga menggenggam tangan Laras dengan mesra.

__ADS_1


Ku berharap engkau lah


Jawaban sgala risau hatiku


Dan biarkan diriku


Mencintaimu hingga ujung usiaku...


Lalu berganti Arsen yang menyambung lagu itu. Dia tatap kedua bola mata Naya yang sedari tadi menatap dirinya.


Kemudian Arsen dan Virza menyanyikan lagu itu bersama-sama.


Jika nanti ku sanding dirimu


Miliki aku dengan segala kelemahanku


Dan bila nanti engkau di sampingku


Jangan pernah letih tuk mencintaiku


Semua tamu undangan bertepuk tangan meriah saat mereka selesai menyanyikan lagu itu.


Naya masih saja menatap Arsen dengan mata yang telah mengembun karena rasa harunya.


Kemudian jemari Arsen menyusut air mata yang mengembun di ujung mata Naya. "Semoga kita sekalu bersama sampai tua nanti. Aku mencintaimu, Naya..."


"Aku juga mencintaimu..." Kemudian Naya memeluk tubuh Arsen dengan erat.


.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...


.


🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2