
Dua bulan itu Arsen dan Naya fokus belajar untuk mempersiapkan ujian nasional. Hari yang menegangkan bagi Naya itu akhirnya telah mereka lalui. Selama ini dia salah menilai Arsen, ternyata jika Arsen sudah serius dengan sekolahnya, hampir semua nilai Naya dikalahkan oleh Arsen.
"Akhirnya kita selesai ujian. Tinggal nunggu hasilnya aja. Pasti guru private aku kalah sama nilai anak didiknya." Arsen merebahkan dirinya di atas ranjang. Dia menatap Naya yang masih saja sibuk di meja belajar.
"Kamu santai banget sih. Aku aja deg-deg an nunggu hasilnya."
"Dulu nilai aku hancur karena aku sering bolos bukan karena aku bo doh. Calon pemegang perusahaan harus punya IQ di atas rata-rata."
"Dih, sombong!" Naya mengemas buku-bukunya lalu menyusul Arsen naik ke atas ranjang.
"Nanti kuliah satu kampus ya." Arsen memutar tubuhnya dan melepas kacamata Naya lalu memeluk tubuhnya.
"Tapi tetap, status kita jangan dibongkar."
"Iya, tapi kamu gak boleh dekat dengan cowok lain. Soalnya kita ambil jurusan yang beda dan nanti aku juga udah mulai kerja di kantor Papa."
Naya menganggukkan kepalanya. "Gak kebalik nih. Ntar pasti banyak cewek yang kepincut sama kamu."
"Aku cuma milik kamu." Arsen mendekatkan dirinya dan mencium bibir Naya. "Dan kamu juga cuma milik aku." Arsen kembali melabuhkan ciumannya. Ciuman yang lembut itu lama-lama semakin menuntut.
Arsen kini sudah mengungkung tubuh Naya. Satu per satu tangan Arsen mulai membuka kancing piyama Naya.
"Ar," Naya menahan tangan Arsen. "Jangan lupa pengamannya."
"Iya," Kemudian dia melanjutkan aksinya. Akhir-akhir ini Arsen memang lebih suka melakukannya tanpa pengaman. Dia tidak takut jika nantinya telat karena sebentar lagi mereka akan lulus sekolah.
Naya sudah terbuai oleh sentuhan Arsen. Mereka kini sudah sama-sama polos dan saling berbalas sentuhan.
"Ah, Ar. Kamu masukin langsung lagi?" Naya menahan dada Arsen saat Arsen tiba-tiba memasukinya.
Arsen menganggukkan kepalanya. "Enak gini. Kamu tenang aja sayang."
"Awas ya kalau sampai kebablas."
__ADS_1
Arsen menganggukkan kepalanya lalu menciumi wajah Naya. "Kata kamu enak gini kan? Ya udah mulai sekarang gak usah pakai pengaman, lebih simple."
Naya sudah dibuat men de sah oleh permainan Arsen. Dia cakar punggung Arsen saat rasa nikmat itu semakin nyata.
"Iya Ar, memang enak gini tapi aku masih belum siap kalau harus jadi Ibu."
"Iya, aku kan tunggu sampai kamu siap." Arsen mengangkat tubuh Naya hingga Naya kini berada di pangkuannya.
"Ar." Tubuh Naya ikut bergetar seiring pacuan Arsen dari bawah.
"Iya sayang." Arsen melepas miliknya sesaat lalu memutar tubuh Naya dan kembali memasukinya dari belakang. "Uhh, mantap sayang."
"Ar, jangan gini, aku gak tahan." Naya berpegangan pada bantal saat Arsen terus memacunya.
"Gak papa. Keluarin aja, sampai kamu lemas." Arsen semakin mempercepat gerakannya. Mendengar suara Naya yang semakin keras membuatnya semakin bersemangat untuk berpacu.
Arsen tak menyudahi permainannya, bahkan sampai Naya sudah mencapai pelepasan dua kali.
"Ar, aku udah lemas."
"Ar, jangan dikeluarin di dalam." Naya mendorong perut Arsen karena dia tahu pasti sebentar lagi Arsen akan keluar.
"Iya sayang. Jangan diingatin terus. Aku tahu." Arsen menegakkan dirinya dan semakin mempercepat gerakannya. "Ahh, Nay..." Arsen melepas miliknya dan menumpahkan cairan hangat itu di atas perut Naya.
Kemudian Arsen mengambil tisu basah dan membersihkan perut Naya.
"Makasih sayang. Makin hari makin mantap." Arsen mencium singkat bibir Naya. "Mau ke kamar mandi dulu gak? Terus pakai baju lagi biar gak kedinginan kalau malam."
Naya hanya menganggukkan kepalanya. Rasanya dia sudah sangat mengantuk setelah melakukan hal melelahkan tapi menyenangkan bersama Arsen.
...***...
"Akhirnya kita lulus, Nay." Rani memeluk Naya karena akhirnya dia lulus dan mendapat nilai bagus. Dia sudah merencanakan untuk kuliah satu kampus dengan Naya.
__ADS_1
"Iya, Ran. Kita jadi satu kampus kan?"
"Jadi dong."
"Tapi gue sebel." Naya melepas pelukan Rani. "Bisa-bisanya Arsen juara dua."
"Tapi juara satu tetap Rangga, Arsen gak bisa geser Rangga."
"Tapi gue yang kegeser. Nanti pasti digodain terus sama Arsen."
Rani menyenggol bahu Naya. "Digodain sama suami pasti enak lah." Tiba-tiba Rani memelankan suaranya. Mereka kini menjauh dari yang lainnya. "Nay, gue sebenarnya penasaran. Gimana sih rasanya itu?"
Naya mengernyitkan dahinya. "Itu apa?"
"Hubungan suami istri?"
Naya tersenyum kecil. Tidak usah ditanya soal rasa, jelas rasanya sudah membuatnya mabuk kepayang dan ketagihan. "Ya enak, tapi khusus untuk hubungan yang udah sah. Kalau masih pacaran gak boleh. Jangan bilang kamu mau staycation sama Kak Virza?"
Seketika Rani membungkam mulut Naya dengan tangannya. "Ih, nggak gitu."
Naya melepas tangan Rani dari bibirnya. "Ran, gue kasih tahu ya, meskipun lo dan Kak Virza saling mencintai jangan pernah lakuin itu. Nanti lo nyesel."
Rani hanya menganggukkan kepalanya. Entah apa yang Rani pikirkan saat ini tapi yang jelas Naya takut kalau Rani benar-benar akan melakukannya dengan Virza.
"Kita makan-makan yuk! Gue traktir." ajak Arsen yang datang bersama Rangga. Hubungan Rangga dan Arsen semakin hari memang kian membaik.
"Ramai-ramai sekalian, Ar. Biar seru." Rangga mengajak teman yang lainnya juga.
Roni dan temannya hanya menatap sinis mereka. Dia tidak mungkin bergabung lagi dengan Arsen karena gengsinya terlalu tinggi. Meski sebenarnya Roni dan temannya yang bergabung di geng Bara juga sudah tidak dianggap lagi.
.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...