Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 104


__ADS_3

Virza menatap dirinya di depan cermin. Dia telah memakai kemeja putih dan blazer silver. Kemudian dia menyisir rambutnya rapi, tidak diacak seperti biasanya.


"Gak pernah kebayang jalan sama cewek yang lebih tua dari gue. Biasanya gue suka cewek yang umurnya di bawah gue karena bikin gemes. Lah ini, kayaknya bikin gue emosi aja. Terpaksa nolong biar gak ditindas sama mantannya."


Kemudian dia menghubungi Laras. "Mbak aku jemput aja bawa mobil." Setelah itu dia keluar dari rumahnya dan membawa mobil Papanya menuju rumah Laras.


Beberapa saat kemudian, Virza menghentikan mobilnya di depan rumah Laras. Dia keluar dari mobil dan berjalan menuju teras rumah Laras. Saat dia akan mengetuk pintu yang terbuka itu ada Arsen yang tiba-tiba muncul.


"Wih, rapi banget lo." Arsen tertawa cukup keras melihat Virza yang datang ke rumah Laras dan berpakaian rapi.


"Lo ngapain ada di sini?" Virza menatap kesal Arsen. Sahabatnya yang terkadang suka usil itu pasti akan menertawakannya habis-habisan.


"Loh, ini rumah mertua gue." Arsen masih saja tertawa. "Lo masuk dulu bro. Kak Laras masih sama Naya."


Virza akhirnya masuk ke dalam rumah Laras dan duduk dengan Arsen.


"By the way, lo serius mau jadi kakak ipar gue?"


Seketika Virza menendang kaki Arsen. "Maksud lo apa? Gue cuma nolong aja, gak serius."


"Kirain? Eh, tapi gak papa. Kalian berdua cocok kok. Sama-sama jomblo karena ditinggal pacar jadi bersatu pasti lebih indah." Arsen masih saja menahan tawanya.


Virza hanya mengalihkan pandangannya dan menghela napas panjang.


Beberapa saat kemudian Laras yang ditemani oleh Naya masuk ke dalam ruang tamu.


"Kak Virza, gimana sekarang?" tanya Naya agar Virza menatap Laras.


Virza kini menatap Laras, penampilannya sangat berbeda. Saat pertama kali bertemu dulu, Laras terlihat sangat dewasa dan berpakaian resmi. Tapi sekarang, dia terlihat lebih muda dan seperti sama dengan umurnya. Gaun berwarna silver itu juga sangat cocok di tubuhnya.

__ADS_1


"Tuh kan, bajunya serasi. Gak janjian padahal. Jangan-jangan jodoh." kata Arsen lagi tapi dia langsung mendapat tatapan tajam dari Laras dan Virza.


"Ya udah, kita berangkat sekarang," ajak Laras.


"Iya Mbak. Hmm, pamitan dulu sama orang tua Mbak."


"Njir, kalau jadi pasangan serasi gini jangan panggil Mbak dong." kata Arsen lagi.


"Kan menghormati yang lebih tua." kata Virza. Dia berdengus kesal terus digoda Arsen seperti ini.


"Papa sama Mama keluar. Kita berangkat aja. Apa yang dikatakan Arsen benar, kamu gak usah panggil mbak. Kita kan cuma selisih tiga tahun."


Kemudian mereka berdua keluar dari rumah.


Sedangkan Naya dan Arsen masih saja tertawa. "Nay, kayaknya mereka jodoh."


"Ya semoga aja, Ar. Lucu banget mereka."


Tidak ada pembicaraan di antara mereka selain Laras yang memberi petunjuk jalan. Sesekali Laras melirik wajah tampan Virza. Saat Virza berpakaian rapi dan formal, Virza terlihat lebih dewasa daripada saat dia pertama bertemu dulu.


Virza kini menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung yang digunakan untuk acara pertunangan Riki. Laras dan Virza turun dari mobil lalu masuk ke dalam gedung itu. Para tamu undangan sudah banyak yang datang.


Mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan selayaknya pasangan sesungguhnya. Beberapa pasang mata menatap pasangan yang nyaris sempurna itu termasuk Riki.


Virza dan Laras sengaja mendekati Riki dan juga pasangannya untuk memberi selamat terlebih dahulu.


"Selamat ya atas pertunangan kalian," kata Laras.


"Kamu sendiri kapan bertunangan sama dia?" tanya Riki. "Tapi dia cuma pekerja bengkel mana bisa menghidupi kamu. Dia juga masih bocah pasti dia yang akan numpang hidup sama kamu."

__ADS_1


Virza hanya tersenyum miring. "Om, bener-bener terlalu merendahkan seseorang. Ck, lihat saja Laras pasti akan bahagia sama aku." Kemudian Virza menatap Laras. "Sayang kita pulang saja ya, yang penting kita sudah penuhi undangan dia."


Laras hanya menatap Virza. Sayang? Benarkah yang dia dengar itu? Mengapa dadanya berdebar setelah dipanggil sayang? Meskipun itu hanya pura-pura tapi dia tidak pernah diperlakukan spesial seperti ini.


"Kamu putranya Pak Zayn?" tanya seorang yang berdiri di dekat Riki dan menghentikan langkah Virza yang akan pergi.


"Iya, Pak. Saya Putra Pak Zayn."


"Wah, saya Romi. Teman Papa kamu yang kemarin servis mobil di bengkel kamu."


"Kemarin bukannya dia yang ambil?"


"Iya, kemarin Riki yang ambil. Riki adik aku."


Virza hanya menganggukkan kepalanya.


"Kak, bukankah dia cuma pegawai bengkel itu?" kata Riki.


"Ngawur kamu! Dia itu anak pemilik bengkel itu, dan sekarang sudah dikelola sendiri sama dia. Hebat, bengkelnya semakin berkembang karena pelayanannya bagus. Masih muda sudah sukses dan mau terjun untuk mengerjakan sendiri."


"Iya Om, itu juga berkat ajaran Papa." kata Virza merendahkan dirinya.


Virza dan Zayn mengobrol tentang perjalanan bengkel Virza yang sekarang semakin berkembang. Hal itu jelas membuat Riki kesal. Akhirnya dia menjauhkan dirinya bersama tunangannya dari Virza dan Laras.


Laras tersenyum kecil. Rasanya dia puas sudah membuat Riki kesal. Sepertinya Virza memang bisa dia andalkan.


.


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya... Yang belum follow othor follow yuk...


__ADS_2