Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 105


__ADS_3

"Hmm, makasih ya buat hari ini," kata Laras saat dia berada di dalam mobil Virza setelah pulang dari acara pertunangan Riki.


"Iya, sama-sama," kata Virza


"Ternyata kamu memang bisa diandalkan."


"Dari dulu aku juga gini, Mbak. Baru tahu ya," kata Virza. Dia fokus dengan jalanan sore hari itu menuju rumah Laras.


"Jangan panggil Mbak lagi."


"Oiya, udah terbiasa." Virza hanya tersenyum kecil. "Tapi apa yang aku lakukan barusan gak gratis ya."


Seketika Laras menatap Virza. "Kamu mau bayaran? Berapa?"


Virza menggelengkan kepalanya. "Tidak dengan uang."


"Terus?"


"Kamu gantian datang ke wisuda aku, masih sebulan lagi sih soalnya kemarin sempat kepending sidang skripsinya."


"Datang ke wisuda kamu? Kenapa aku?"


Tiba-tiba Virza menghentikan mobilnya di depan sebuah taman. "Kita ngobrol sebentar."


Laras hanya menatap bingung Virza lalu dia mengikuti Virza keluar dari mobil dan duduk di bangku taman. Udara taman sore hari itu sangat sejuk dengan angin sepoi-sepoi. Langit juga sudah berwarna jingga dan menambah keindahan taman yang dipenuhi bunga.


"Gimana? Kamu mau datang ke wisuda aku?" tanya Virza lagi.


Laras masih saja menatap langit jingga sore hari itu yang terlihat indah. "Wisuda itu penting, buat apa aku datang untuk pura-pura jadi pasangan kamu?" Kemudian Laras menatap Virza yang juga menatapnya. "Lebih baik kamu datang hanya bersama kedua orang tua kamu kan, daripada sama aku tapi hanya pura-pura. Bukannya gak mau gantian, tapi wisuda itu beda dengan acara barusan."


Virza hanya terdiam.


"Kamu bayangin aja, masa' kamu mau foto wisuda bareng pasangan pura-pura. Foto wisuda itu sama pasangan yang real, kalau gak ada pasangan ya cukup dengan orang tua saja."


"Ya, sebenarnya aku udah janji sama orang tua aku untuk mengenalkan pasangan aku waktu wisuda. Aku pernah minta pada orang tua aku untuk melamar seorang cewek setelah wisuda tapi sekarang dia udah nikah," cerita Virza dengan helaan napas di ujung kalimatnya.


"Terus? Kamu mau bohongi orang tua kamu?"


Virza menggelengkan kepalanya. "Nggak! Kalau kamu mau serius ya gak papa." Virza mengalihkan pandangannya. Dia hanya mengikuti apa kata hatinya. "Kalau kamu mau datang ke wisuda aku, kamu hubungi aku ya." Kemudian Virza juga menatap langit jingga itu.


Laras menatap Virza sesaat lalu mengalihkan pandangannya. Mereka kini sama-sama menatap langit sore hari itu tanpa bersuara.

__ADS_1


...***...


"Happy 8 months sayang." Arsen mencium perut besar Naya. Kini usia kandungan Naya sudah 8 bulan dan tinggal dua minggu lagi jadwal operasi sesar akan dilakukan.


"Yee, akhirnya dua minggu lagi kita bertemu." Naya juga mengusap perutnya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu buah hatinya.


Arsen menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Iya, aku udah gak sabar banget."


"Ayo Ar, kita berangkat sekarang. Aku mau belanja sepuasnya hari ini, setelah itu tinggal dekor kamar kita dan Arnav aja di rumah."


"Iya, ingat ya, jangan sampai kecapekan. Ini yang terakhir kamu belanja di mall. Bukan sayang sama uangnya, tapi aku sayang sama kamu."


"Iya, aku ngerti."


Kemudian Arsen menggandeng tangan Naya keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil mereka.


Naya memang sudah membuat janji dengan Rani untuk berbelanja hari itu. Mereka langsung meluncur menuju mall tempat mereka berbelanja.


Setelah sampai di tempat parkir, mereka turun dari mobil lalu menghampiri Rangga dan Rani yang sudah menunggu di depan mall.


"Lo bawa motor, Ngga?" tanya Arsen.


Rani dan Naya sudah berjalan bergandengan sambil merencanakan beli apa saja hari itu.


"Ar, lo yang mau punya anak, istri gue ikutan ribet belanja." kata Rangga yang kini berjalan dengan Arsen di belakang Naya dan Rani.


"Makanya cepat jadiin."


"Tiap hari udah gue buatin."


"Kalau mau cepat jadi jangan giat-giat."


"Lo dulu gimana?"


"Ya tiap hari." Arsen tertawa yang langsung mendapat jitakan dari Rangga.


"Baru juga dua bulan. Gue dulu hampir satu tahun baru jadi, tapi emang gue tunda dulu sih. Ya mungkin nunggu lo sama Rani lulus dulu dikasihnya biar bisa fokus skripsi."


"Iya, bener juga. Bentar lagi kita udah skripsi."


"Kayaknya Naya mulai skripsi tahun depan. Dia udah mulai cuti, dan gak tahu kapan masuk kuliah lagi. Yang penting aku udah lulus lalu fokus sama perusahaan. Tinggal mikir lagi nanti lanjut S2 atau gak."

__ADS_1


Rangga tersenyum sambil menepuk bahu Arsen. "Keren hidup lo sekarang. Penuh dengan perencanaan."


"Iyalah, udah jadi bapak harus gini. Demi masa depan Naya dan anak-anak gue ntar." kata Arsen sambil tertawa. Dia juga tidak menyangka hidupnya sesempurna ini sekarang.


"Ar, kamu tunggu di depan sini atau ikut masuk?" tanya Naya setelah mereka sampai di kids store.


"Aku tunggu di sini saja sama Rangga sambil ngopi. Jangan lama-lama, nanti kalau lama aku susul," kata Arsen.


"Iya." Kemudian mereka berdua masuk ke dalam kids store. Sedangkan Rangga dan Arsen kini duduk di kedai kopi yang berada di depan store itu.


Mereka mengobrol banyak hal hingga ada seseorang yang kini menghampiri mereka berdua.


"Udah lama gak ketemu."


Arsen mendongakkan kepalanya, seketika dia berdiri saat melihat Bara yang menghampirinya. "Bara! Urusan gue sama lo belum selesai!"


Bara hanya tersenyum miring. "Belum selesai? Ck, udah lama gue gak balapan sama lo. Kita balapan sekarang, kalau lo menang, gue gak akan ganggu lo dan gue akan menyerahkan diri."


Arsen hanya mengepalkan tangannya.


"Kenapa? Takut karena sekarang udah jadi bos besar? Lo sama Rangga boleh lawan gue, sekarang! Mumpung sirkuit kosong!" Kemudian Bara pergi dari tempat itu.


"Jangan pergi lo!" Arsen mengambil ponselnya dan menghubungi Gery. "Ger, kamu ke mall sekarang, jagain Naya dan Rani di kids store. Kamu langsung berangkat sekarang!"


"Ar, biar gue aja yang urus Bara. Lo di sini aja, tunggu sampai Gery datang." Rangga mengikuti Arsen yang melangkah jenjang.


"Gak bisa! Kalau Naya tahu pasti dia juga gak bolehin gue pergi. Naya baru belanja 5 menit. Gue usahain balik sebelum dia selesai belanja."


Rangga masih saja mengikuti Arsen. Dia juga tidak tega membiarkan Arsen berangkat seorang diri, dia takut Arsen dijebak dan dikeroyok. Rangga juga menghubungi anak buahnya. "Roy, suruh Firman ke mall sekarang. Suruh dia stand by di depan kids store, ada Rani dan Naya belanja di sana dan kamu bawa motor aku ke sirkuit balap sekarang!"


Mereka kini sampai di tempat parkir.


"Ngga, gue ikut motor lo aja." Kemudian mereka berdua naik ke atas motor dan segera mengejar motor Bara.


.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2