Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 74


__ADS_3

Arsen sangat terkejut mendengar pernyataan Rangga. "Jadi lo sepupuan sama Naya?"


"Udah, udah, nanti aja bahas masalah ini." Rani melerai mereka berdua. "Ada yang lebih penting. Naya pergi, gue gak tahu kemana. Dia lari ke arah utara."


"Lari? Aduh, Naya." Arsen segera mencari Naya ke arah yang ditunjuk Rani. Kampus mereka sangat luas yang terdiri dari beberapa fakultas.


Arsen berusaha menghubungi Naya tapi panggilannya tak juga Naya angkat.


Sedangkan Rangga kini menghubungi anak buahnya agar menghapus semua video yang tersebar di internet. Dia juga akan mencari siapa penyebar video itu.


"Ar, lo udah cari di kantin?" tanya Rangga.


"Udah. Di perpus juga gak ada."


"Gue suruh anak fakultas lain buat cari juga." Rangga menghubungi beberapa temannya yang ada di fakultas lain.


Arsen mengacak rambutnya frustasi. Dia sangat mengkhawatirkan Naya dan juga kandungannya. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada keduanya. Dia kembali mencari Naya ke tempat-tempat yang belum dia datangi.


"Ar, tadi sebelum Naya kabur dia ditelpon sama Papanya. Apa jangan-jangan dia pulang ke rumahnya," kata Rani.


"Iya, mungkin aja." Arsen segera berlari menghampiri Rangga. "Ngga, gue pinjam motor lo biar cepat. Lo bawa mobil gue." Mereka bertukar kunci setelah itu Arsen segera berlari menuju tempat parkir.


Dia segera membawa motor Rangga menuju rumah Naya. Setelah sampai di depan rumah Naya, ternyata ada banyak wartawan yang sudah stand by di depan rumah.

__ADS_1


"Gimana caranya gue bisa masuk. Tapi kayaknya Naya juga gak mungkin ke sini. Dia gak mungkin bisa melewati wartawan itu." Arsen menghela napas panjang. Dia mencoba menghubungi Naya lagi tapi teleponnya tetap tidak diangkat.


"Naya, semoga kamu gak kenapa-napa. Aku khawatir banget." Kemudian dia menghubungi Rangga dan berusaha mencari Naya lagi.


...***...


Hampir seluruh penjuru kampus kini membicarakannya. Naya tak tahu harus kemana, dia kini keluar dari kampus dan berjalan di pinggir jalan. Perutnya terasa kaku karena dia berlari cukup lama.


"Aku harus gimana? Ini semua salah aku." Naya menghapus air matanya lalu mengusap perutnya. Dia kini duduk di depan ruko sambil berpikir. "Iya, aku punya satu ide untuk membersihkan nama baik Papa."


Naya mengatur napasnya lalu dia bediri dan berjalan menuju tukang ojek yang sedang mangkal. Dia kini menuju rumah lama Arsen. Untunglah kunci rumahnya juga dia bawa karena beberapa hari ini dia sering mampir ke rumah itu bersama Rani disaat Arsen sedang sibuk di kantor.


Beberapa saat kemudian dia berhenti di depan rumahnya. Dia kini masuk ke dalam rumah lalu menutup kembali pintu rumah itu dan menguncinya. Dia mengambil air putih terlebih dahulu untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Lalu dia mengambil jeruk dan mangga yang telah matang di dalam kulkas lalu membawanya ke ruang tamu.


Naya menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Kemudian dia mengambil ponselnya dan melihat banyak panggilan dari Arsen tapi dia abaikan. Ada hal yang lebih penting yang harus dia lakukan.


Dia kini mengambil tongsis lalu lalu memasang ponselnya. Dia letakkan di atas meja dan dia arahkan ke dirinya. Dia buka salah satu akunnya. Meskipun followernya baru ribuan tapi setidaknya mereka pasti akan menyebar siaran livenya yang terbuka untuk publik. Ditambah lagi sebagian besar teman kampusnya berteman dengannya.


Kemudian dia membuka siaran live, menunggu beberapa detik agar ada yang bergabung. Tak disangka teman-temannya bergabung dengan cepat bahkan lebih banyak dari yang dia kira.


"Terima kasih yang sudah bergabung. Kalian semua pasti tahu video yang telah diunggah oleh seseorang yang ingin menjatuhkan orang tua saya. Saya tidak menyangkal. Isi dari video itu memang benar." Naya melepas kacamatanya dan menyusut air mata yang kembali mengembun di ujung matanya. "Dan suara itu memang suara saya."


Beragam komentar sudah memenuhi kolom komentar, ada yang merasa iba dan tentu saja banyak juga yang menghujat.

__ADS_1


"Masalah itu sudah dua puluh tahun berlalu bahkan kalian semua yang menghujat pasti juga masih anak-anak atau bahkan belum lahir, masih belum mengerti kerasnya dunia ini. Kalian tidak bisa menilai seseorang hanya karena masa lalunya. Kalian rasakan saja selama lima tahun ini, bagaimana kinerja Papa saya. Semua bantuan merata diserahkan pada orang yang membutuhkan, beberapa lapangan kerja baru juga telah dibuka, banyak pelatihan ketenagakerjaan dan lain sebagainya. Masih banyak yang tidak bisa saya sebutkan, kalian harusnya bisa menilai itu. Coba tanyakan pada orang tua kalian yang juga merasakan kinerja Papa, jangan hanya mencari info di media sosial. Saya berkata sesuai realita bukan karena saya anak dari Pak Aji karena saya juga sudah tidak tinggal bersama Papa. Dan terkait masa lalu itu, Papa memang salah."


Air mata Naya tidak bisa dia tahan, dia kembali menangis. Kini semakin banyak yang bergabung di siaran langsungnya. Kolom komentar sudah penuh bahkan banyak yang memberinya gift.


"Apa kalian pernah membayangkan bagaimana berada di posisi saya? Saya tidak meminta dilahirkan di dunia ini, saya tidak tahu apa-apa tapi semua orang menyudutkan saya." Naya mengambil tisu dan menghapus air matanya. "Saya hanya cerita masalah ini sama beberapa orang yang dekat dengan saya karena tidak mungkin saya menyimpan masalah ini sendiri. Entah siapa yang telah menyebarkan suara saya."


Naya menghela napas panjang dan menatap gift bertubi-tubi yang diberikan padanya. "Tolong tidak usah memberi gift karena saya tidak menjual kisah ini."


Naya terdiam, dia membaca beberapa komentar. Ternyata Kakak dan Mamanya ikut bergabung dalam siaran live itu. "Saya mau mengucapkan terima kasih pada Mama Nita yang telah merawat saya selama 18 tahun. Tidak ada wanita sehebat Mama Nita yang mau merawat anak dari selingkuhannya. Mama hebat, Naya bangga telah tinggal bersama Mama selama 18 tahun. Naya sangat sayang sama Mama Nita dan buat Papa, Papa harus tetap semangat. Jangan hiraukan mereka yang ingin menghancurkan Papa. Papa orang yang sangat baik, masa lalu itu sudah berlalu dan semua sudah selesai."


Naya kini membuka tasnya dan mengambil buku nikahnya.


"Buat kalian yang masih mengira saya hamil diluar nikah, kalian lihat." Naya menunjukkan tanggal yang tertera di buku nikah itu. "Saya sudah menikah satu tahun lebih dengan Arsen. Saya selama ini diam saja karena saya tidak merasa berbuat salah. Tapi saya tidak akan tinggal diam kalau kalian mengusik orang tua saya."


Kemudian Naya terdiam. Setelah bicara panjang lebar perutnya terasa lapar. Dia hanya menatap layar siarannya yang semakin ramai. Lalu Naya meraih pisau tapi tiba-tiba koneksi jaringannya buruk.


"Kok nge-bug?"


.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2