
Arsen dan Naya tersenyum bahagia setelah mengetahui kandungan Naya sehat. Kantong janin juga sudah terlihat, hanya saja detak jantung masih belum terdeksi karena janin baru berusia 6-7 minggu.
Mereka kini berjalan melewati koridor rumah sakit menuju tempat parkir karena Arsen juga sudah diperbolehkan pulang. Saat akan sampai di tempat parkir, mereka berpapasan dengan Laras dan Virza.
"Kak Laras," panggil Naya.
Seketika Laras dan Virza menghentikan langkah mereka. "Naya, Arsen, kalian ngapain ke sini?"
"Arsen kena GERD, dia rawat inap semalam," kata Naya.
"Bukan GERD tapi ngidam," tambah Arsen.
"Naya, kamu hamil lagi?" tanya Laras memastikan.
Naya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Selamat ya, Nay." Laras memeluk adiknya sesaat. "Aku juga mau periksa ke Dokter kandungan."
"Loh, Kak Laras hamil juga?"
Laras menganggukkan kepalanya. "Iya, tadi pagi baru aja tespek dan hasilnya positif. Aku sekarang mau periksa."
"Selamat bro." Arsen juga memberi selamat pada Virza. "Kok bisa barengan gini."
"Iya, gue gak nyangka bisa barengan gini. Ini pasti gara-gara resepsi kita barengan, padahal lo yang bulan madu duluan."
"Iya. Tokcer banget lo. Ke Dokter Sinta saja rekomended. Udah ya, kita duluan."
"Iya." Kemudian Virza kembali merengkuh pinggang Laras dan berjalan menuju ruang pemeriksaan.
Sedangkan Naya dan Arsen kini masuk ke dalam mobil. "Ger, udah gak ada pengharum kan?"
"Gak ada tuan, AC juga sudah saya matikan."
"Bagus, kalau gak gitu aku bisa teler." kata Arsen sambil menutup pintu mobil. Dia juga membuka kaca mobil yang berada di dekatnya.
Naya hanya tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di bahu Arsen saat berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Sampai rumah kamu langsung istirahat," kata Arsen saat mobil itu mulai melaju. Satu tangan Arsen kini mengusap perut Naya.
Naya hanya menganggukkan kepalanya dengan satu tangan yang mengikuti gerakan Arsen di perutnya.
"Kira-kira cowok atau cewek ya?" tanya Naya.
"Bagi aku sama aja. Tapi semoga saja Shena yang hadir di antara kita."
"Iya, amin."
...***...
"Ngga, aku pengen sate ayam," pinta Rani sambil bergelayut manja di lengan Rangga.
Rangga yang sedang menatap layar laptopnya seketika menghentikan pekerjaannya. Dia melihat jam dinding yang sudah pukul delapan malam. Dia menghela napas panjang lalu merengkuh bahu Rani. "Mau sate? Tapi dimakan ya. Kemarin-kemarin kamu pengen ini pengen itu tapi cuma kamu makan sedikit."
Seketika Rani melepas pelukan Rangga. "Udah bosen nuruti kemauanku ya. Ya udah gak jadi." Rani berdiri dan berjalan masuk ke kamarnya.
"Loh, sayang kok marah." Akhirnya Rangga menyimpan tugas skripsinya yang baru selesai tiga bab, belum lagi laporan keuangan restoran yang belum dia cek, dan juga kontrak kerjasama di perusaahan Papanya yang sudah menumpuk di email juga belum dia cek.
Rangga kini menyusul Rani ke kamarnya. "Sayang, jangan marah. Aku beliin tapi DO aja ya."
"Maaf ya, aku salah ngomong. Jangan marah." Rangga mendekatkan dirinya dan mengusap perut Rani yang sudah membesar. Terkadang juga ada tendangan kecil dari dalam. Usia kandungan Rani kini memang sudah jalan lima bulan.
"Ya udah, aku berangkat sekarang beliin kamu sate." Karena Rangga tahu, Rani hanya ingin dia yang membelinya sendiri.
"Gak usah, ini udah malam." Rani kini memejamkan matanya.
Rangga menghela napas panjang lalu dia mengambil laptopnya dan berpindah ke kamarnya. Sesekali dia melirik Rani yang sekarang sudah tertidur. Dia kembali fokus dengan pekerjaannya yang masih menumpuk.
Maaf ya, Ran. Aku lakuin ini semua juga demi kamu. Aku ingin cepat wisuda biar aku bisa fokus dengan keluarga kecil kita.
Hingga malam telah larut, Rangga masih menatap layar laptopnya. Dia menguap panjang beberapa kali lalu menyandarkan kepalanya di meja. Akhirnya dia tertidur dengan posisi duduk.
Beberapa saat kemudian Rani terbangun dari tidurnya. Dia melihat Rangga yang tertidur sambil duduk dengan kepala di atas meja. "Rangga, kok tidur di meja."
Perlahan Rani turun dari ranjang dan menghampiri Rangga. Dia berlutut menatap wajah pulas Rangga. Sangat terlihat sekali gurat lelah itu di wajah Rangga. Tiba-tiba hatinya berkabut, dia memang sedang hamil tapi harusnya dia juga bisa mengerti kesibukan Rangga.
__ADS_1
"Ngga, pindah di ranjang. Jangan tidur gini." Rani mengusap rambut Rangga agar dia terbangun.
"Ran." Seketika Rangga berdiri dan membantu Rani berdiri. "Jangan berlutut di lantai nanti kamu jatuh." Rangga membantu Rani duduk di tepi ranjang. "Kamu terbangun karena haus, sebentar aku ambilkan. Aku lupa gak ambilin kamu air putih dulu."
Tanpa menunggu jawaban dari Rani, Rangga mengambil air putih di dapur lalu dia bawa ke kamar. "Kamu minum dulu." Dia bantu Rani minum sampai habis, setelah itu dia letakkan gelas yang telah kosong di atas nakas.
"Sekarang kamu tidur, udah tengah malam."
Tapi Rani justru menatap nanar Rangga.
"Sayang, kenapa?" Rangga menangkup kedua pipi Rani. "Masih mau sate, ya udah aku beliin di tengah kota ya, biasanya buka sampai pagi."
Rani menggelengkan kepalanya lalu memeluk Rangga. "Maafin aku ya. Aku selalu merepotkan kamu. Aku gak pernah bantu pekerjaan kamu. Kamu selalu manjain aku tapi aku gak pernah ngertiin kamu kalau kamu sedang sibuk."
Rangga mengusap punggung Rani. "Gak papa. Semua itu memang sudah menjadi kewajiban aku. Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, aku belum bisa jadi suami siaga. Kadang aku masih terbawa emosi juga sama kamu. Maaf ya. Udah jangan sedih, nanti dedek ikut sedih."
Rani melepaskan pelukannya lalu dia menatap Rangga. "Makasih, kamu sabar menghadapi aku yang masih labil dan emosian."
"Bumil memang seperti itu. Wajar, aku ngerti. Aku yang harusnya bisa lebih bersabar."
"Aku udah gak pengen sate tapi aku pengen ini." Rani mencium bibir Rangga sesaat tapi Rangga justru menahan tengkuk leher Rani dan memagutnya dalam. Ciuman itu semakin lama semakin meliar. Perlahan Rangga merebahkan Rani tanpa melepas ciumannya. Satu tangannya kini menyusup ke dalam daster pendek Rani lalu mengusap perut Rani sesaat kemudian semakin ke atas dan me re mas dada Rani.
"Ah, Ngga." Rani melepas ciumannya saat tangan Rangga sudah bermain di puncak dadanya.
Rangga tersenyum menatap Rani lalu menggodanya dengan kedipan mata.
"Udah, ayo. Bentar aja ya, soalnya ini sudah tengah malam."
"Oke, gas kan." Mereka sama-sama tertawa karena baru saja mereka marahan sekarang justru akan melakukan sesuatu yang enak.
Beberapa saat kemudian tawa renyah mereka sudah berganti dengan suara de sah nikmat. Hawa panas seketika memenuhi kamar itu dan membuat kedua tubuh polos itu berpeluh.
.
💕💕💕
.
__ADS_1
Udah gak ada konflik lagi nih, udah menjelang tamat ya... 🤠Ada usul nama gak sih buat anaknya Rangga sama Virza. Komen ya...