Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 111


__ADS_3

"Do'akan operasi Ibu lancar ya." Arsen memangku Arnav sambil memberinya susu dari botol di ruangannya. Matanya berkaca-kaca melihat binar mata putranya yang sedang menatapnya. "Arnav, gak boleh ikut sedih. Gak bisa minum punya Ibu, gak papa. Nanti Ayah yang buatin susu. Enak kan?"


Arsen tersenyum saat susu dalam botol itu telah habis. Dia lebih memilih menunggu Naya di ruangannya bersama Arnav. Di depan ruang operasi sudah ada kedua orang tua Naya dan kedua orang tuanya.


"Arnav, sekarang tidur ya." Arsen berdiri dan menimang putranya pelan.


Tapi kedua mata Arnav justru semakin lebar menatapnya.


"Ya sudah kalau tidak mau tidur main sama Ayah saja ya." Kemudian Arsen kembali duduk di sofa dan berceloteh dengan putranya. Meskipun putranya masih baru lahir dan belum mengerti apa-apa tapi Arsen sangat bersemangat mengajaknya berbicara.


"Ar." Bu Ririn masuk dan duduk di sebelah Arsen. "Arnav gak tidur? Nungguin Ibu ya?" Kemudian Bu Ririn meraih Arnav dan memangkunya.


"Operasinya belum selesai?"


"Masih 15 menit lagi. Nanti langsung diantar ke sini. Semoga saja operasinya lancar. Kata Dokter setelah dioperasi, kedua mata Naya akan diperban selama satu minggu," jelas Bu Ririn


"Iya, aku kasiham sama Naya. Semoga saja dia segera bisa melihat. Dia sangat ingin melihat wajah Arnav."


Bu Ririn menganggukkan kepalanya. Dia kini melihat Arnav yang sudah tertidur dengan sendirinya di pangkuannya. "Pintar banget, udah tidur sendiri. Malam juga gak rewel ya?"


"Iya, semalam setelah aku kasih susu langsung tidur lagi." Karena memang semalam hanya Arsen yang menjaga Naya dan juga putranya. Dia menyuruh kedua orang tuanya pulang agar tidak ikut merasakan capek.


Bu Ririn menurunkan Arnav yang sudah tertidur di box nya kemudian dia duduk bersama Arsen di sofa. "Mama tidak menyangka, kamu benar-benar jadi seorang Ayah yang hebat. Jadi suami yang hebat juga."

__ADS_1


Seketika Arsen memeluk Mamanya. "Ini semua berkat Mama. Aku minta maaf, karena dulu aku sempat membenci dan menyalahkan Mama. Aku benar-benar baru melihat berjuangan seorang Ibu saat melahirkan secara nyata. Seorang Ibu rela kehilangan apapun bahkan nyawanya sekalipun demi putranya lahir ke dunia ini dengan selamat. Makasih Mama sudah melahirkanku ke dunia ini."


"Iya, semua ibu pasti seperti itu. Satu pesan Mama, jangan pernah menyakiti hati istri kamu yang telah melahirkan anak kamu. Jadikan dia prioritas utama kamu. Selalu bantu dia meskipun dia menolak bantuan kamu."


Arsen melepas pelukannya dan menganggukkan kepalanya. "Iya Ma, itu pasti."


"Kadang Mama masih tidak menyangka, kamu bisa sangat bertanggung jawab seperti ini. Mama sangat bersyukur. Kalau ingat dulu waktu Ayah kamu sering cerita kalau kamu gabung geng motor dan sering mabuk-mabukan, Mama sangat takut dan khawatir sekali. Setiap hari Mama selalu berdoa agar kamu berubah. Ternyata Allah mengirim Naya untuk kamu."


Arsen tersenyum kecil. Hidupnya di masa lalu memang sangat kelam. Dia tidak mau lagi berada di masa itu. "Tapi Naya bilang, aku tidak boleh berubah karena dirinya. Sejak saat itu, aku harus mengubah mindset aku bahwa aku berubah demi kebaikan aku sendiri."


Bu Ririn mengusap puncak kepala Arsen. Dia sangat bangga memiliki putranya sekarang.


Beberapa saat kemudian, suster dan kedua orang tua Naya mengantar Naya masuk ke dalam ruang rawatnya. Naya duduk di kursi roda dengan kedua mata yang terperban.


"Gimana operasinya?" tanya Arsen kemudian dia menggendong Naya berpindah ke brankarnya.


"Iya, Sus. Terima kasih."


Setelah suster keluar, Arsen duduk di sebelah brankar Naya. Dia genggam kedua tangan Naya yang terasa dingin itu.


"Kamu takut? Tangan kamu dingin banget."


Naya menganggukkan kepalanya. "Iya, aku takut banget. Aku akan bisa lihat lagi gak ya?"

__ADS_1


"Bisa, aku yakin kamu bisa melihat lagi." Lalu Arsen mengusap puncak kepala Naya.


"Arnav gak rewel kan?" tanya Naya.


"Nggak, baru aja dia tidur. Pintar banget anak ibu dan ayah."


"Aku udah gak sabar ingin melihat Arnav."


"Iya, satu minggu lagi kamu pasti akan melihat Arnav."


Naya bercerita banyak hal tentang pengalaman operasi matanya pada Arsen. Sedangkan Arsen hanya tersenyum menatap Naya. Bagi dia, Naya adalah seorang wanita yang sangat hebat. Sudah banyak cobaan yang dilalui Naya, tapi dia selalu kuat melewatinya. Bahkan senyuman itu begitu mudah tercetak di wajahnya.


"Aku sayang kamu, Nay." Tiba-tiba saja Arsen memotong cerita dan memeluk perut Naya.


Naya hanya tersenyum sambil menyugar rambut Arsen. "Kamu kenapa jadi mellow gini? Kamu gak nangis lagi kan?"


"Nggak, malu sama anak. Anaknya aja gak rewel, masa Ayahnya rewel."


Naya semakin tersenyum mendengar Arsen. "Aku juga sayang sama kamu."


.


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya.. Aku kebut di sini, udah mau akhir bulan... 😪 sampai belum up di novel sebelah.


__ADS_2