Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 52


__ADS_3

Malam itu, Naya merasa bosan di rumah menunggu Arsen. Setelah satu minggu lebih selalu ditemani Arsen, kini Arsen sudah kembali bekerja. Meskipun hanya beberapa jam Arsen bekerja tapi rasanya sangat lama.


Dia menekan remote tv berulang kali mencari film yang bagus. "Enakan kerja daripada di rumah gini. Bosan banget. Tugas sekolah udah selesai, setrika juga udah. Tinggal nanti aja belajar bareng sama Arsen."


Kemudian dia mengambil ponselnya dan melihat jam masih menunjukkan pukul 7 malam. "Arsen lembur atau gak ya?" Naya menghela napas panjang lalu mengirim pesan pada Arsen.


Beberapa saat kemudian ada yang mengetuk pintu rumahnya. "Siapa ya? Masak Arsen udah pulang?" Naya berdiri dan mengintip terlebih dahulu siapa yang datang, ternyata Rani dan Rangga. Naya segera membuka pintu itu.


"Rani, Rangga, ada apa? Tumben ke sini. Masuk dulu gih." Naya mempersilakan mereka masuk. "Tapi Arsen belum pulang."


"Iya, gak papa. Biarin aja Arsen belum pulang. Lagian Rangga sama gue kok, Arsen gak mungkin salah paham." kata Naya.


Kemudian Rangga meletakkan dua kotak berpita di atas meja.


"Ini buat apa?"


"Kado pernikahan buat lo. Kan kita belum ngasih apa-apa sama lo. Oiya, tadi dari Kak Virza gue jadiin satu di kado gue."


"Gak perlu kasih-kasih kayak gini. Do'a yang terbaik aja udah cukup." Naya akan mengambil kotak itu.


"Tapi nanti aja dibuka. Jangan sekarang." Rani mencegah tangan Naya saat akan membuka kado itu. Berbahaya jika Rangga sampai tahu apa yang dia beri.


"Ya udah, kalau gitu aku taruh kamar aja." Kemudian Naya mengangkat satu kotak besar dan satu kotak kecil itu ke dalam kamar. Lalu dia membuatkan minuman untuk Rani dan Rangga.


Setelah selesai, dia letakkan minuman itu di atas meja.


"Repot aja sih, Nay."


"Gak papa. Kalian kan gak pernah ke sini. Nih ada cemilan juga." Naya membuka dua toples cemilannya yang selalu menemaninya saat menonton televisi.


"Hmm, Ngga. Sorry, gue udah tahu kalau lo sebenarnya pemilik resto itu. Makasih ya, selama hampir satu bulan gue udah kerja di resto lo dan lo sangat baik."


Rangga hanya tersenyum menatap Naya. Dia sudah mengubur dalam-dalam perasaannya karena perasaan itu memang tak seharusnya ada. "Iya, sama-sama. Sorry, aku udah bohongi kamu."


Naya menganggukkan kepalanya. "Iya, gak papa. Mungkin lo punya alasan sendiri buat nyembunyiin identitas lo yang sebenarnya."


Rangga menghela napas panjang. Memang lambat laun orang lain pasti akan tahu siapa dia yang sebenarnya.


"Nyaman juga ya rumah lo, simple banget. Cocok buat pasangan muda," kata Naya sambil mengedarkan pandangannya.


"Iya. Ini sebenarnya komplek perumahan anak buahnya Papanya Arsen. Rata-rata orang sibuk sibuk, lingkungannya sepi jadi gak ada tetangga julid." Naya tertawa diujung kalimatnya karena memang sejak tinggal di tempat itu dia hampir tidak pernah berbicara dengan para tetangga.


"Iya, lo aman banget di sini. Gak mungkin ada yang julid. Semua karyawan Arsen, jelas hormat sama Arsen." Rani kembali tertawa.

__ADS_1


"Gimana tadi jalannya sama Virza?" tanya Naya yang membuat tawa Rani seketika berhenti.


"Nih," Rani memukul lengan Rangga karna dia masih merasa kesal. "Dia gangguin aja. Kesel gue. Masak orang lagi pendekatan disusulin."


"Kalau nyokap lo gak nyariin gue juga ogah nyusulin lo." kata Rangga.


Naya tertawa melihat mereka berdua. "Kalian cocok loh. Kenapa gak kalian aja yang jadian?"


"Hah? Nggak mungkin." kata Rangga.


"Lagian siapa juga yang mau sama lo. Udah bosen dari kecil sama lo terus."


Rangga kini mencubit pipi Rani yang sesekali menggembung itu.


Beberapa saat kemudian terdengar motor Arsen berhenti di depan rumah. Dia buru-buru masuk ke dalam rumah saat melihat motor Rangga yang terparkir di depan rumah.


Arsen menghela napas panjang saat melihat ada Rani juga. "Kirain cuma Rangga doang ke rumah. Baru aja darah gue mau ngegas naik." Arsen kini duduk di sebelah Naya dan mengecup pipi Naya.


"Ar, ada mereka."


"Ngga, minum dulu gih. Bentar lagi kita pulang. Jangan ganggu pengantin baru."


"Iya." Mereka berdua segera menghabiskan minumannya.


"Buru-buru banget sih. Udah biarin aja Arsen."


"Makasih banget ya."


"Iya." Naya kini mengantar Rani dan Rangga sampai teras rumah.


Setelah mereka berdua pergi, Naya menutup pintu dan berjalan menuju kamarnya.


"Nay, aku mandi dulu. Gerah banget." teriak Arsen sambil masuk ke dalam kamar mandi.


"Iya," jawab Naya. Dia kini masuk ke dalam kamarnya dan segera meraih dua kotak itu. Dia sangat penasaran apa isi dari kado itu.


Naya membuka kado dari Rani. Dia membuka pita lalu membuka tutup kotak itu. Kedua matanya membulat saat melihat lingerie yang sangat sexy dan transparant. "Bisa habis dimakan Arsen kalau pakai ini."


Naya segera menyembunyikan kado itu lalu dia membuka kado dari Rangga. Kotaknya lumayan berat dan besar.


"Microwave. Tahu aja kalau aku gak punya ini."


Beberapa saat kemudian Arsen masuk ke dalam kamar sambil mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


"Ar, udah makan?"


"Udah. Kamu udah makan juga kan?"


Naya menganggukkan kepalanya.


"Dari siapa?" tanya Arsen.


"Dari mereka berdua. Kado pernikahan katanya."


Arsen meletakkan handuk di tempatnya lalu menyisir rambutnya.


"Cariin tempat di belakang, Ar."


"Iya." Setelah selesai menyisir rambut, Arsen segera membawa microwave itu ke dapur.


Sedangkan Naya kini duduk di meja belajarnya dan menyiapkan buku karena dia sudah janji akan belajar dengan Arsen.


Beberapa saat kemudian Arsen masuk sambil membawa dua cangkir coklat hangat.


"Belajar satu jam tiap hari kan lumayan." kata Arsen sambil tersenyum dan duduk di samping Naya. Mereka kini membuka buku pelajaran dan mempelajari materi-materi yang akan diujikan di ujian akhir. Kemudian Naya menjelaskan beberapa soal yang ditanyakan Arsen.


"Oo, jadi caranya gitu ya." Arsen tersenyum mendengar penjelasan dari Naya.


"Kamu kan sebenarnya udah ngerti." Naya kini juga menatap Arsen.


"Oke. Cukup sampai di sini belajarnya." Arsen menutup buku-buku itu setelah satu jam belajar. "Sekarang saatnya melakukan yang lainnya."


"Apa?"


Arsen mendekatkan dirinya dan mencium bibir Naya. Kemudian dia menggendong Naya dan memindahkannya ke ranjang.


"Ar, tadi siang kan udah."


"Tapi malamnya kan belum." Arsen menyingkap kaos Naya hingga lolos melewati kepalanya. Dia kembali mencumbui Naya. Rasanya dia benar-benar sudah kecanduan dengan Naya.


Naya hanya memejamkan matanya menikmati sentuhan dari Arsen dengan suara de sah yang sudah tidak bisa dia tahan. Lagi, dia terhanyut dalam pusara Arsen untuk kesekian kalinya.


.


💕💕💕


.

__ADS_1


Lagi, mau lagi, mau lagi..


🤣🤣


__ADS_2