
Arsen melihat Naya yang kini telah terlelap dalam dekapannya. Perlahan dia melepas pelukannya dan turun dari ranjang. Dia mengambil ponselnya lalu duduk di ruang tamu sambil menghubungi Virza.
"Hallo Za, malam ini lo ke tempat biasa. Rangga akan balapan dengan Bara."
"Lo gak ikut? Ngapain Rangga balapan sama Bara?"
"Gue gak bisa ikut soalnya Naya juga baru sembuh. Kata Rangga anak buah Bara mau membakar basecamp kita semalam. Lo nanti hubungi gue, gimana hasil balapan mereka. Semoga aja tuh anak beneran hebat bisa ngalahin Bara."
"Oke, oke. Nanti biar gue ke sana sama anak-anak."
Setelah itu Arsen mematikan panggilannya. Dia menyandarkan dirinya lalu memikirkan apa yang akan dilakukan setelah ini. "Gue gak mau lagi terlibat masalah kayak gini. Gue harus jagain Naya."
Kemudian Arsen berdiri dan berjalan ke dapur untuk membereskan piring dan gelas kotor. Dia tersenyum miring, bisa-bisanya dia sekarang berkutat dengan pekerjaan rumah dari mulai membersihkan rumah, cuci piring sampai cuci baju selama Naya sakit dan masa penyembuhan.
"Ck, Bapak rumah tangga kayak gini ternyata. Nanti seteleh lulus aku akan bawa kamu ke rumah, Nay. Agar kamu bisa merasakan bagaimana rasanya jadi nyonya besar."
...***...
"Rangga! Cepat kamu bereskan si Bara!"
Rangga menghentikan langkah kakinya saat akan keluar dari rumahnya. Dia kini menatap Papanya.
"Kalau bisa kamu tabrak dia sampai mati!"
Rangga hanya tersenyum miring. "Kenapa Papa gak nyuruh anak buah Papa saja. Aku sudah bilang, aku gak mau mengikuti jejak Papa."
__ADS_1
"Ini untuk latihan buat kamu, betapa kerasnya kehidupan kamu nanti di dunia bisnis."
"Bisnis gelap? Hidup aku pilihan aku sendiri. Cukup, kali ini Papa yang mengatur." Rangga kembali memutar langkahnya.
"Jadi kamu lebih suka hidup ditindas dan dihina seperti itu. Papa masih ingat hinaan dari Aji pada kamu. Kenapa kamu tidak membiarkan Papa membalasnya. Papa bisa membuat dia dipecat dari walikota sekarang juga."
Rangga menghela napas panjang. Dia mengurungkan niatnya untuk pergi lalu duduk di sofa dekat Papanya. Sebenarnya dia sangat mirip dengan Papanya, sama-sama memiliki sifat yang keras dan tegas.
Dia mengambil sebuah foto yang ada di sakunya. "Papa dendam dengan keluarga Bara karena dia telah berhasil membunuh adik Papa kan? Dan sampai sekarang Papa tidak tahu makam adik Papa dimana. Aku sudah menemukan titik terang, bahkan sebenarnya adik Papa memiliki seorang anak. Dia menjalin hubungan dengan seseorang setelah kabur dari rumah karena dia tidak betah dikurung dan disembunyikan terlalu lama."
Pak Rahardi menatap foto itu. Adik semata wayangnya yang memang sengaja disembunyikan identitasnya oleh keluarganya dulu, telah dibunuh oleh keluarga Bara karena orang tua kalah bersaing dengannya yang menyebabkan keluarga Bara merugi milyaran rupiah karena kehilangan investor dari Amerika. Hanya foto mayat adiknya yang terkirim ke rumahnya tanpa tahu dimana mayat itu berada.
"Kamu sudah menemukan titik terang?"
"Iya. Papa harus bersabar menunggu info selanjutnya. Jangan ikut campur lagi masalah ini. Kalau papa sampai ikut campur, semua akan berantakan." kata Rangga.
"Aku memang punya masalah dengan Bara tapi aku akan selesaikan dengan caraku sendiri, sesuai kenakalan tingkah anak remaja. Tidak perlu merusak nama baik." Rangga berdiri dan mulai melangkahkan kakinya. "Aku juga sudah atur anak buah Papa untuk berjaga."
Pak Rahardi hanya menatap langkah putranya keluar dari rumah.
Rangga kini menaiki motor sport nya yang baru dia service karena jarang sekali dia pakai. Setelah memakai helmnya, dia segera melajukan motornya menuju tempat balapan.
"Bara, mungkin lo pikir gue lemah dibanding Arsen. Lo salah. Lo gak akan mungkin menang melawan gue." Rangga menambah laju motornya. Setelah sampai, dia berhenti di dekat anak buah Arsen dan sudah ada Virza juga di tempat itu.
"Kalian sudah berkumpul di sini? Dikasih tahu sama Arsen?" tanya Rangga sambil membuka kaca helmnya.
__ADS_1
"Iya," pandangan mata Virza kini tertuju pada motor sport Rangga yang jelas lebih mahal dari motor Arsen. "Gila, kualifikasi di atas Arsen."
"Motor pinjam." Rangga kini meluruskan pandangannya saat Bara dan anak buahnya sudah datang.
"Besar juga nyali lo!" kata Bara sambil tersenyum miring.
"Gak usah kebanyakan ngomong!"
"Oke, kali ini gue gak mau taruhan uang tapi kalau lo kalah, basecamp Arsen akan jadi milik gue!"
Rangga hanya tersenyum miring. Dia tidak mungkin dikalahkan Bara, "Kalau gue yang menang apa lo rela serahin basecamp lo!"
"Oke! Siapa takut!"
Rangga menutup helmnya lalu bersiap di garis start. Setelah hitungan ketiga motor mereka melaju dengan kencang.
Virza melipat tangannya sambil melihat laju motor Rangga yang menjauh secepat kilat.
"Gak main-main nih anak. Arsen udah pensiun ternyata sekarang udah ada gantinya."
Beberapa saat kemudian ada seorang gadis yang menabrak bahu Virza. "Eh, sorry, aku cari Rangga. Dia di sini kan?"
.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...