Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 76


__ADS_3

"Mama, Papa." Naya mematung beberapa saat di ambang pintu kamarnya. Apa kedua orang tuanya menemuinya karena akan memarahinya?


Arsen berdiri dan menuntun Naya agar duduk di dekatnya. Dia tahu pasti Naya takut.


"Naya, sudah lama tidak bertemu kamu. Kamu sudah hamil berapa bulan?" Pak Aji mendekat dan mengusap perut putrinya.


"Empat bulan, Pa. Hmm, Pa maaf. Bukan maksud Naya menyebarkan rahasia itu. Naya..."


"Ssttt, sudah." Pak Aji menarik tangan Naya agar duduk di sampingnya. "Ini bukan salah kamu tapi ini salah Papa. Papa selalu tidak ada disaat kamu terpuruk. Semua orang menyudutkan kamu, padahal ini sama sekali bukan salah kamu. Maafkan Papa." Pak Aji merengkuh bahu Naya dan memeluknya. "Kamu putri Papa yang hebat. Seseorang yang sengaja menyebar video itu pasti seseorang yang tidak suka sama Papa. Kamu jangan memikirkan soal ini, biar Papa yang menyelesaikannya."


Naya hanya menganggukkan kepalanya.


Bu Nita yang sedari tadi terdiam, kini mengusap rambut Naya. "Naya, maafkan Mama selama ini Mama jahat sama kamu."


Naya melepas pelukan Papanya dan menatap Bu Nita. "Mama, Naya mengerti ini semua tidak mudah buat Mama. Selama ini Mama sangat baik merawat dan mendidik Naya. Naya yang seharusnya terima kasih sama Mama."


Bu Nita hanya menatap nanar Naya. Anak yang selama ini dia benci, bahkan dia merasa tidak pernah ikhlas merawatnya tapi sekarang Naya tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat dan sangat baik. Bahkan Naya tidak pernah membalas perlakuan kasarnya.


Beberapa saat kemudian terdengar suara mobil dan sepeda motor berhenti. Rangga dan satu anak buahnya kini masuk ke rumah Arsen. Sebenarnya ada satu hal penting yang ingin dibicarakan Rangga pada Arsen, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat karena ada kedua orang tua Naya.


"Arsen, ini kunci mobil lo." Rangga memberikan kunci mobil itu pada Arsen. Tanpa berkata apa-apa lagi, Rangga langsung keluar dari ruang tamu.


"Ngga, mau langsung pulang?" Arsen mengikuti langkah Rangga.


Akhirnya mereka mengobrol di dekat mobil Arsen. Rangga menyuruh anak buahnya kembali terlebih dahulu.


"Apa benar yang menyebarkan video itu Tika?" tanya Arsen. Dia sudah menebak sebelum Rangga mengatakannya.

__ADS_1


"Iya, lebih tepatnya ini rencana orang tuanya karena bokap Tika calon walikota yang bersaing dengan Pak Aji. Soal Tika gampang, nanti biar gue urus karena partai bokapnya Tika mendapat sumber dana dari Papa. Ada yang lebih penting daripada ini."


"Apa?" Arsen menatap serius Rangga.


"Karena video itu menyebar dan juga siaran langsung Naya yang viral, Pak Sagara tahu tentang keberadaan Naya."


"Maksudnya keluarga Bara mengincar Naya?"


Rangga menganggukkan kepalanya. "Dia takut, kasus pembunuhan itu diusut lagi. Kamu harus benar-benar jaga Naya. Sepertinya Naya dalam bahaya." Pandangan mata Rangga kini tertuju pada Pak Aji yang berdiri tak jauh darinya.


"Jadi kamu sudah tahu yang sebenarnya?" tanya Pak Aji.


Kedua pria beda umur itu saling bertatap tajam.


"Inilah alasan saya kenapa melarang kamu berhubungan dengan Naya. Saya sudah tahu rahasia besar itu. Jika semua terbongkar Naya benar-benar dalam bahaya."


"Pak Aji sudah tahu semuanya? Mengapa selama ini Pak Aji membiarkan kasus pembunuhan tante Maya tidak diusut."


Rangga menghela napas panjang. Tekadnya sudah bulat. Dia harus berani mengambil keputusan ini. "Saya akan tetap mencari bukti dan saksi. Kalau masalah ini tidak diberantas sampai kapanpun masalah ini akan tetap mengambang dan tidak ada ujungnya."


"Iya, lo benar. Gue akan minta bantuan anak buah Papa untuk menjaga Naya."


"Ya sudah, tapi saya tidak bisa banyak membantu. Tolong jaga Naya dengan baik, karena dulu saya telah gagal menjaga Maya. Sebenarnya ada satu saksi mata dalam kejadian itu yaitu sahabatnya Maya. Tapi kemudian dia menghilang. Entah dia masih hidup atau memang sengaja bersembunyi karena takut dengan Sagara." jelas Pak Aji.


"Sahabat Tante Maya? Namanya siapa?" tanya Rangga. Sepertinya dia akan menemukan titik terang.


Pak Aji nampak mengingat-ingat. "Namanya Ririn."

__ADS_1


Seketika Arsen membulatkan matanya. "Ririn? Ririn itu nama Mama saya."


"Bukannya Mama kamu ada diluar negeri?"


"Sudah 6 bulan Mama tinggal di sini." Arsen mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Mamanya. "Ini Mama saya."


Pak Aji menggelengkan kepalanya sambil menatap ponsel Arsen. "Saya tidak ingat wajahnya. Coba kamu tanya saja sama Mama kamu."


Arsen menganggukkan kepalanya.


"Kenapa malah mengobrol di depan? Papa, ayo ke rumahnya Arsen. Kita belum pernah menemui Mamanya Arsen." teriak Bu Nita dari ambang pintu.


"Iya, Ma. Ya sudah kita ke rumah kamu saja." Kemudian Pak Aji membisikkan sesuatu pada Arsen. "Jangan bahas masalah ini kalau ada Naya. Papa gak mau kalau dia sampai kepikiran masalah ini."


Arsen menganggukkan kepalanya. Kemudian dia masuk ke dalam rumah dan membereskan barang Naya. Setelah mereka keluar dari rumah, mereka masuk ke dalam mobil masing-masing.


Di samping Arsen, Naya terus menunjukkan senyum bahagianya. Sedangkan pikiran Arsen kini menjelajah kemana-mana. Dia sangat tidak tenang dengan masalah ini. Semuanya seolah berhubungan.


Sesekali dia melirik Naya. Satu usapan mendarat di puncak kepala Naya. "Bahagianya."


Naya menganggukkan kepalanya, kemudian Naya mengungkapkan rasa bahagianya hari itu pada Arsen.


Arsen ikut tersenyum mendengar cerita bahagia Naya. Dia tidak ingin senyuman bahagia itu hilang dari wajah Naya.


.


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2