
"Kamu benar-benar mirip dengan Maya."
Naya hanya menatap Pak Rahardi. Inikah keluarga barunya? "Pak, hmm, Papanya Rangga?"
Pak Rahardi menganggukkan kepalanya. "Iya, panggil saja Paman. Sekarang kamu adalah bagian dari keluarga Rahardi."
Naya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Sudah baikan? Kemarin kena efek obat bius ya?" tanya Bu Lita. Dia kini mengusap lembut perut Naya.
Naya menganggukkan kepalanya. "Iya, sudah baikan."
"Calon cucu kita, Pa."
"Iya, kita gak cuma menemukan seorang putri tapi juga mendapatkan cucu."
Arsen tersenyum menatap kebahagiaan yang terpancar dari wajah Naya. Semoga setelah ini tidak ada lagi kesedihan yang menimpa keluarga mereka.
Setelah melakukan pemeriksaan USG hari itu, untuk memastikan kondisi kandungan Naya, barulah Dokter memperbolehkan Naya pulang satu hari lagi. Tapi masih tetap harus istirahat total di rumah.
...***...
Pagi hari itu, Rangga terus menatap layar ponselnya. Rani sama sekali tidak menghubunginya setelah menjenguknya beberapa hari yang lalu. Apakah Rani sudah kembali dengan Virza setelah Virza mengantarnya pulang?
Hatinya semakin gundah. Haruskah dia memperjelas semuanya dan mengatakan yang sejujurnya tentang perasaannya?
"Ayo kita pulang." Bu Lita membantu Rangga berkemas karena hari itu Rangga sudah diperbolehkan untuk pulang.
Tapi Rangga masih saja menatap kosong ponselnya dan sama sekali tak melihat Mamanya.
__ADS_1
"Rangga? Melamun saja?"
"Eh, iya Ma." Seketika Rangga menatap Mamanya.
"Mikirin apa? Untuk sementara kamu fokus sama pemulihan luka kamu dulu."
Rangga hanya menghela napas panjang.
"Rani kok gak ke sini? Biasanya dia paling semangat bantu kamu. Kalian berantem?" tanya Bu Lita karena memang Rani sudah biasa mengerjakan apapun bersama Rangga.
"Dia udah punya cowok."
Seketika Bu Lita tertawa. "O, jadi kamu dari tadi mikirin Rani. Makanya jadi cowok harus cepat beri kepastian. Udah yuk, Riki udah nunggu di tempat parkir soalnya Papa lagi sibuk di kantornya."
Kemudian mereka berdua keluar dari ruang rawat dan berjalan menuju tempat parkir.
"Ma, kalau seandainya aku menikah menurut Mama gimana?" tanya Rangga tiba-tiba.
"Ya, aku ingin minta pendapat Mama dulu."
Bu Lita tersenyum lalu menggandeng tangan Rangga. "Ya, meskipun kamu masih muda, tidak apa-apa Mama setuju. Kamu juga sudah punya penghasilan sendiri pasti kamu bisa membahagiakan pasangan kamu. Tapi siapa nih? Rani? Katanya udah punya cowok."
"Iya, nanti-nanti aja. Aku masih berpikir."
"Gak usah ditunda lama-lama. Nanti keburu diambil orang, baru nyesel. Tuh, Arsen sama Naya saja sebentar udah punya anak."
Rangga hanya tersenyum kecil. Mereka kini sampai di tempat parkir dan segera masuk ke dalam mobil.
Rangga masih saja memikirkan Rani. Haruskah dia segera mengatakan semua perasaannya pada Rani? Mengungkapkan perasaan pada Rani rasanya sangat sulit daripada menyatakan cinta pada Naya dulu.
__ADS_1
...***...
Setelah satu hari berlalu, akhirnya Naya bisa pulang ke rumahnya. Dia bisa tidur dengan nyaman di kasurnya yang empuk. Tanpa ada lagi jarum infus yang terpasang di tangannya.
"Akhirnya bisa tidur di rumah." kata Naya sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Tapi tetap, gak boleh banyak gerak dulu." Arsen membenarkan selimut Naya lalu tidur di sampingnya. Satu tangannya kini memeluk Naya. "Cepat tidur."
Naya menganggukkan kepalanya. "Udah beberapa hari tidur gak kamu peluk gini. Makasih ya, kamu sudah merawat aku."
"Gak usah bilang makasih. Ini sudah menjadi tugas aku dan satu lagi, aku sayang sama kamu." satu kecupan singkat mendarat di bibir Naya. "Sebenarnya bukan hanya kamu yang harus istirahat total tapi aku juga."
"Kamu?" Naya mengernyitkan dahinya menatap Arsen.
"Iya, aku gak boleh nengok dedek sampai usia kandungan kamu 9 bulan. Takutnya terjadi kontraksi lagi sebelum waktunya. Tapi gak papa, yang penting kamu dan anak kita lahir dengan sehat. Nanti setelah anak kita lahir, aku bisa gas lagi buat adik."
Satu tangan Naya mencubit dada Arsen. "Ih, memang mau punya anak berapa?"
"Berapa ya? Kamu mau berapa?"
Naya mengangkat kedua bahunya.
Arsen tersenyum dan mengeratkan pelukannya. "Aku bercanda. Aku tahu perjuangan kamu sangat luar biasa saat hamil, belum lagi nanti saat melahirkan. Kita besarkan anak pertama kita dulu. Tapi kalau cepat dikasih lagi gak papa."
Naya hanya tersenyum. "Itu sama aja cuma beda penyampaiannya." Kemudian dia mulai memejamkan matanya dalam dekapan Arsen.
.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...