
"Ada apa, Ran?" tanya Naya karena Rani sangat bersemangat hari itu.
"Lo yang ngasih tahu nomor gue ke Kak Virza?" tanya Rani. Mereka kini duduk di dalam kelas dan mengobrol.
"Iya, dia yang minta sama Arsen. Gak papa kan? Kak Virza baik kok orangnya." kata Naya. Meskipun dia hanya bertemu Virza satu kali saat menolongnya tapi dia yakin Virza adalah orang yang baik.
"Ya gak papa. Cuma nanya aja. Dia lumayan ganteng juga sih."
"Ciee, langsung cap cus aja deh."
"Eh, Nay, nanti sepulang sekolah jalan yuk," ajak Rani. "Gue mau beliin sesuatu buat lo." Kemudian dia membisikkan sesuatu pada Naya. "Sebagai hadiah pernikahan lo."
"Ran, gak usah repot-repot."
"Gak papa, lo kan sahabat gue. Lagian kita juga udah lama gak jalan bareng." Rani kini mengeluarkan buku pelajarannya pagi hari itu.
"Mau jalan kemana?" sahut Arsen. Dia tanpa sengaja mendengar obrolan Naya dan Rani.
"Lo kepo banget. Gue cuma mau pinjam Naya sehari aja." kata Rani sambil menatap Arsen.
"Gak boleh." kata Arsen dengan tegas. "Boleh jalan tapi sama gue."
"Posesif banget lo. Ya udahlah gue gak jadi. Niat hati gue mau beliin Naya... Eh, hmmm..." Rani menutup mulutnya. Hampir saja dia keceplosan.
"Ar, pokoknya aku nanti mau jalan sama Rani. Aku bosen, udah lama gak jalan-jalan." kata Naya.
"Ya udah. Gak boleh lama-lama." Arsen kini duduk di bangkunya. Dia tersenyum sambil mengirim pesan pada Virza. Dia tidak akan membiarkan Naya jalan-jalan dengan Rani saja.
...***...
Sepulang sekolah, Rani sudah menarik tangan Naya agar tidak pulang bersama Arsen. "Kita naik mobil online aja ya. Udah biarin aja Arsen pulang sendiri."
Arsen hanya tersenyum miring, dia kini menghentikan motornya di depan gerbang.
__ADS_1
Baru saja Rani membuka aplikasi, ada seseorang yang menghentikan motor di dekatnya. Dia meluruskan pandangannya dan menatap Virza yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Ran!"
"Kak Virza? Mau cari siapa?" tanya Rani.
"Kamu, pulang bareng yuk?" ajak Virza.
"Tapi aku mau jalan sama Naya."
Arsen menghidupkan klaksonnya dan memberi kode pada Naya agar duduk di belakangnya. "Kita jalan bareng aja. Double date."
"Hmmm, itu tapi..." Rani berpikir sesaat. Sebenarnya dia ingin jalan berdua dengan Naya tapi dia juga tidak ingin melewatkan kesempatan untuk jalan dengan Rangga. Akhirnya Rani menganggukkan kepalanya. "Ya udah deh."
Rani kini naik ke boncengan Virza. Beberapa saat kemudian motor Virza melaju.
"Nay, kita pulang ya." kata Arsen. Dia juga sudah melajukan motornya.
"Loh, kok pulang?"
Naya kini mencubit pinggang Arsen. "Ini pasti rencana kamu. Aku udah lama banget gak jalan sama Rani sejak nikah sama kamu. Gitu banget sih." Naya mengerucutkan bibirnya. Kesal juga dengan suami posesif seperti Arsen.
"Nay, sejak jadi suami kamu aku harus memastikan keselamatan kamu. Ya udah, gimana kalau nanti malam kita jalan-jalan ke taman?" tawar Arsen.
Naya tak menjawabnya. Sampai di depan rumah dia juga hanya diam saja. Kemudian Naya membuka pintu lalu melepas sepatunya dan berjalan menuju kamar.
"Nay, ngambek?" Arsen menutup pintu dan melepas sepatunya. Setelah itu dia menyusul Naya ke kamarnya.
Terlihat Naya sedang memeluk guling sambil memejamkan matanya.
"Ganti baju dulu, makan, terus tidur." kata Arsen. Dia melepas jaketnya lalu membuka seragamnya.
"Dih, bapak rumah tangga. Menghayati banget sekarang perannya. Sekarang kenapa jadi kamu yang cerewet? Ngalah-ngalahin aku aja. Mana keluar dilarang. Masak iya 24 jam suruh sama kamu terus. Aku kan juga punya teman," omel Naya.
__ADS_1
Arsen tertawa lalu dia naik ke atas ranjang dan mengungkung tubuh Naya. "Iya, iya, maaf. Aku lakuin ini karena aku ingin jagain kamu." Arsen mendekatkan wajahnya hingga hidung mancung mereka saling bersentuhan.
"Iya, aku ngerti tapi jangan terlalu posesif juga." Naya memainkan dada Arsen dengan jemarinya.
Arsen tak menimpali perkataan Naya. Dia mendekatkan dirinya dan mencium lembut bibir Naya. Tangannya kini sudah membuka satu per satu kancing Naya.
"Ar..." Naya menahan kepala Arsen. "Jadi cepat-cepat ngajak pulang mau ini?"
"Iya, udah pengen lagi. Ya? Bentar aja." Arsen kembali membungkam bibir Naya sebelum mendengar kata penolakan dari Naya.
Kedua tangan Naya sudah menyusuri punggung Arsen. Dia kembali dibuat men de sah oleh sentuhan Arsen. Jemari dan bibir Arsen begitu lihai menyentuh setiap inci tubuhnya. Naya tidak mungkin bisa menolak kehadiran Arsen. Tubuhnya menginginkan lebih dan lebih lagi.
Arsen sudah membuka semua pakaian Naya. Dia bersiap untuk melakukan hal menyenangkan lagi.
"Pelan-pelan ya. Takut masih sakit."
"Iya." Arsen membuka bungkus pengaman itu dengan giginya lalu memasangnya. Kini dia sudah siap untuk berlayar lagi.
Arsen menautkan satu tangannya saat dia mulai memasuki Naya.
"Ah, Ar..." Meski tidak sesakit semalam tapi rasanya masih perih.
Arsen bergerak perlahan dan menciumi bibir Naya. Semakin lama hawa panas itu semakin terasa yang membuat tubuh mereka kini berpeluh. Suara de sah saling bersahutan semakin keras.
Naya benar-benar sudah hanyut dalam pusara Arsen bahkan rasa sakit itu telah hilang dan berganti dengan rasa nikmat.
"I love you, Naya."
"I love you too..."
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya... 🙄