
Setelah dari bengkel Virza, Arsen berkumpul dengan teman-temannya di basecamp nya. Sudah lama dia tidak berkumpul dengan teman-temannya yang masih setia dengannya.
"Tumben ke sini, Ar? Udah gak dihukum?"
Arsen menggelengkan kepalanya. Dia menyesap rokok sambil berbalas pesan dengan Naya. "Gue ke sini malam ini aja soalnya gue mau nyerahin basecamp ini sama Virza."
"Ar, kenapa gue? Gue juga sering sibuk. Lo tahu sendiri kan kerjaan gue banyak," elak Virza yang juga ikut berkumpul dengan Arsen malam itu.
"Terus siapa? Gue udah gak bisa sering-sering kumpul. Ya udah gini aja, basecamp ini milik kalian semua, tapi harus tetap kalian jaga dan satu lagi udah gak ada bos di geng kita. Kita semua teman, gak ada lagi yang namanya bos dan anak buah. Sesama teman jika ada yang kesusahan juga harus saling bantu. Jika masih ada yang memanfaatkan teman lainnya, keluar aja dari circle ini." kata Arsen.
"Hebat! Lo bisa berubah, Ar. Gak sia-sia gue bertahan di tempat ini." kata salah satu teman Arsen yang bernama Bobi itu.
Tiba-tiba Arsen mematikan rokoknya lalu dia berdiri saat Naya memanggilnya dengan video. Dia kini menjauh dari teman-temannya.
"Nay, kangen ya..." Senyuman itu berubah saat melihat tangis Naya. Air mata itu mengalir deras di pipi Naya. "Nay, kamu kenapa?"
"Ar, besok jemput aku ya. Pokoknya kamu besok harus jemput aku."
"Aku ke sana sekarang ya?"
Naya menggelengkan kepalanya. "Jangan, ini sudah malam. Aku gak mau kamu ribut di rumah sakit."
"Tapi kamu kenapa?"
"Aku gak bisa cerita sekarang. Tapi kamu besok jemput aku. Kalau Papa aku gak izinin, minta tolong sama Papa kamu ya. Aku.. " Naya menghentikan perkataannya. "Udah ya." Kemudian Naya mematikan panggilan begitu saja.
"Nay..." Arsen kembali menghubungi Naya tapi tidak dia angkat. Kemudian ada satu pesan masuk dari Naya.
Ada Papa, besok saja kamu ke rumah sakit.
Arsen menghela napas panjang. Bagaimana dia tidak kepikiran jika dia melihat Naya menangis seperti itu.
Sebenarnya kamu kenapa Nay?
__ADS_1
"Kenapa, Ar?" tanya Virza yang melihat wajah gelisah Arsen. Bahkan Arsen langsung mengambil helm dan bersiap pergi.
"Ada masalah sama Naya. Gue pulang dulu!" Arsen keluar dari basecamp nya. Dia kini duduk di atas motornya. Ingin dia ke rumah sakit dan menjenguk Naya sekarang tapi hari sudah malam, dia juga tidak mungkin membuat keributan di rumah sakit.
Akhirnya Arsen melajukan motornya pulang ke rumahnya.
...***...
Setelah Papanya masuk ke dalam ruangannya, Naya berpura-pura tidur. Dia berusaha menahan tangisnya sekuat tenaga. Akhirnya dia kinu terlelap dalam sedihnya.
Semalaman itu Pak Aji menunggu Naya di sisi brangkarnya. Dia menyentuh kening Naya karena Naya terus mengigau dan menyebut nama Arsen.
"Naya, demam kamu tinggi lagi." Pak Aji segera memanggil Dokter saat hari menjelang pagi itu.
"Arsen, cepat ke sini. Ar..." igau Naya.
"Naya, di sini ada Papa. Naya..." Pak Aji menyugar rambut Naya. Naya tak juga merespon perkataannya.
"Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk putri saya." Pak Aji hanya bisa menatap Naya yang sedang diperiksa Dokter.
Sedangkan Naya masih saja mengigau dan menyebut nama Arsen.
"Semoga suhu tubuhnya cepat menurun. Jika trombositnya masih terus menurun juga, terpaksa kita lakukan transfusi darah lagi."
"Iya, Dok."
Setelah Dokter keluar, Arsen menerobos masuk ke dalam ruangan Naya. Bahkan saat itu matahari saja belum menunjukkan sinarnya. Hampir semalaman Arsen tidak bisa tidur. Perasaannya semakin tidak enak saat memimpikan Naya terus memanggil namanya.
"Kamu kenapa masuk?"
Arsen sudah tidak peduli dengan cegahan Pak Aji. Dia kini mendekati brangkar Naya dan menggenggam tangan Naya.
"Nay, aku ada di sini."
__ADS_1
Naya masih saja menyebut nama Arsen sambil memejamkan matanya.
"Nay, kamu kenapa drop lagi gini?" Arsen semakin mendekatkan dirinya dan mengusap rambut Naya.
"Arsen, kamu keluar saja!" suruh Pak Aji.
Arsen kini menatap Pak Aji yang berada di dekatnya. "Saya tidak akan meninggalkan Naya. Apa yang sudah terjadi? Semalam Naya menangis."
"Apa kamu bilang? Naya semalam tidur dengan nyenyak."
Arsen membuang napas kasar. Kemudian dia mengusap pipi Naya. "Nay, aku ada di sini. Cepat sembuh, nanti kita pulang ke rumah. Kita tinggal bersama lagi."
Beberapa saat kemudian Naya membuka matanya. "Arsen." Seketika dia memeluk Arsen dengan erat. "Ar, kamu jangan tinggalin aku. Aku mau sama kamu aja."
"Iya, aku gak akan ninggalin kamu. Cerita sama aku, kamu sebenarnya kenapa? Jangan sedih gini, kondisi kamu jadi drop lagi."
Naya justru menangis terisak. Tangis yang dari semalam tertahan akhirnya tumpah.
"Nay? Udah ya, kamu tenang dulu." Arsen mengusap punggung Naya yang bergetar hebat.
"Ar, ternyata aku anak selingkuhan Papa." kata Naya disela-sela isak tangisnya.
Mendengar hal itu, seketika Pak Aji melebarkan. "Naya apa kamu bilang?"
.
💕💕💕
.
Like dan komennya dong..
🙄
__ADS_1