Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 115


__ADS_3

"Jadi kapan nikahnya Kak?" tanya Naya saat Virza dan Laras menjenguk Naya di rumahnya.


"Masih dua bulan lagi," jawab Virza.


Laras kini menggendong keponakannya yang sangat lucu itu. "Ih, mumpung gak tidur mau aku gendong. Lucu banget."


"Kok masih lama?" Arsen kini ikut bergabung dengan mereka di ruang tengah.


"Masih banyak yang harus disiapkan. Lagi pula gue juga gak buru-buru," kata Virza. Dia kini meminum minuman yang terhidang di atas meja.


"Yang bener gak buru-buru? Gak pengen buru-buru gas juga?" goda Arsen.


"Uhuk!" Seketika Virza tersedak air minumnya. Dia urung untuk melanjutkan minumnya.


"Sorry, bro." Arsen memukul punggung Virza sambil tertawa. "Langsung satu minggu jadi juga bisa, ngapain lama-lama. Ada uang semua jadi."


"Ar, kita santai aja. Lagian itu rencana dari kedua orang tua kita juga," kata Laras.


"Iya Kak, cuma bercanda." Arsen semakin menepuk punggung Virza. "Lo sih! Ngumpul-ngumpul sama anak-anak mumpung belum nikah."


"Kenapa gue? Lo aja sana, ajak Arnav nongkrong."


"Gak lucu!" Arsen menjitak kepala Virza sesaat lalu dia menyandarkan bahunya di samping Naya.


"Mas, gak sopan sama calon kakak ipar gitu."


"Yah, lupa dia bakal jadi kakak ipar." Arsen tertawa lalu bersandar di bahu Naya. "Dunia ini kayak sempit banget. Masak iya pentolannya geng motor kita jadi keluarga semua. Gue, Rangga, dan lo. Jangan-jangan nanti anak kita jadi satu geng. Next generation geng kita."


"Gak boleh main geng-gengan. Bahaya! Kalau ada permusuhan antar geng gimana," kata Naya sambil mendorong kepala Arsen karena terasa berat di bahunya.

__ADS_1


"Ya kan buat geng bisa untuk tujuan baik juga." Arsen kini menatap ponselnya karena tadi dia sempat chat Rangga memberi tahu jika Virza ke rumahnya. "Rangga sama Rani tumben gak ke sini?"


"Ngambek kali gara-gara sering kamu godain. Kasihan Rani udah pengen punya baby," kata Naya karena dia tahu betul Rani sudah sangat menginginkan kehadiran buah hatinya.


"Baru juga jalan tiga bulan nikahnya. Ya masih wajar kan."


"Tapi yang namanya udah pengen itu kayak gimana sih, tiga bulan itu kayak berasa lama," kata Naya lagi.


"Iya, iya. Nanti aku akan jaga omongan aku."


"Tahu tuh, makanya jangan jadi tukang rusuh. Apalagi masalah sensitip gitu dan lo awas kalau rusuh sama gue juga," kata Virza.


"Oke, oke, mulai sekarang aku akan jadi Ayah Arsen yang berwibawa. Arnav, sini sama Ayah aja menikmati angin sepoi di taman." Kemudian Arsen mengambil Arnav dari pangkuan Laras. Dia mengajaknya berjalan-jalan ke taman samping yang terhubung dengan ruang tengah.


"Naya, kakak seneng kamu udah sehat. Jadi nanti kamu bisa bantu kakak siapin pernikahan kakak ya."


Naya menganggukkan kepalanya. "Iya, Kak. Aku juga seneng banget. Akhirnya kakak menemukan orang yang tepat dalam hidup Kak Laras."


"Apa? Iya sebentar." Naya berdiri dan menghampiri Arsen yang memanggilnya.


Laras kini duduk di dekat Virza karena dia ada satu rencana. "Za, aku sama Papa ada satu rencana."


"Apa?"


"Kita rencananya mau adain resepsi buat Naya dan Arsen juga," bisik Laras agar Naya dan Arsen tidak mendengarnya. "Kasihan, mereka dulu gak ada pesta apapun."


"Ya gak papa. Aku setuju banget. Biar pesta kita makin ramai."


Laras semakin tersenyum menatap Virza.

__ADS_1


...***...


"Aku tahu kamu sudah ingin banget punya anak, meskipun pernikahan kita baru jalan tiga bulan tapi tidak ada salahnya kita konsultasi, dan kamu lihat kan hasilnya." Rangga membuka hasil pemeriksaannya dan juga Rani setelah sampai di apartemennya. Pagi itu Rangga memang sengaja mengajak Rani untuk periksa dan konsultasi ke Dokter Kandungan agar mereka bisa cepat memiliki keturunan. "Semua pemeriksaan organ reproduksi kamu bagus dan ternyata aku yang bermasalah. Mulai sekarang aku akan benar-benar berhenti merokok, aku gak tahu kalau efeknya bisa ke kesuburan gini. Aku kira sama seperti Arsen tapi ternyata kondisi tubuh setiap orang itu beda-beda."


Rani kini memeluk Rangga dari samping dan menempelkan kepalanya di dada Rangga. "Jangan terlalu dipikirkan ya. Gak papa. Masih ada banyak waktu."


"Iya, tapi semakin cepat diketahui penyebabnya jadi kita bisa segera mengatasinya." Kemudian Rangga mengusap rambut Rani dengan penuh kasih sayang. "Maafkan aku ya..."


"Kenapa minta maaf? Ini kan bukan salah kamu."


"Iya, tapi ini karena kebiasaan buruk aku. Mulai sekarang aku akan memperbaikinya."


"Aku kan juga disarankan makan sayur dan buah. Aku akan berhenti juga makan-makanan instant. Kita berjuang sama-sama ya." Rani mendongak menatap Rangga sambil tersenyum.


"Iya." Rangga menciun singkat bibir Rani. "Dan aku akan atur jadwal satu minggu tiga kali saja."


Rani semakin tertawa. "Kamu sih terlalu rajin."


"Ya gimana lagi, habis nagih." Rangga mencubit hidung Rani saking gemasnya.


"Ih, akhirnya aku juga ketagihan sama sahabat aku." Rani semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rangga.


Rangga semakin mendekap tubuh Rani dan menciumi puncak kepalanya berulang kali. "I love you..."


"I love you too..."


💕💕💕


.

__ADS_1


Bad boy othor udah bucin semuaaa... 😳


__ADS_2