
"Aku beneran udah boleh masuk kuliah kan?" tanya Naya. Entah pertanyaan yang ke berapa kalinya setelah dia periksa kandungannya kemarin.
"Iya, boleh. Tapi kamu tetap hati-hati. Gak boleh banyak gerak."
"Oke." Naya mencium pipi Arsen sesaat lalu dia beranjak ke kamar mandi.
Sedangkan Arsen kini menyiapkan tas Naya dan memasukkan laptop Naya ke dalam tas.
Beberapa saat kemudian Naya keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. "Ar, nanti kamu ada kelas siang kan?"
"Iya, aku sudah pesan sama Gery agar jemput kamu. Biar kamu cepat istirahat di rumah gak perlu nunggu aku." Arsen kini memeluk Naya dari belakang saat Naya akan memakai bajunya.
"Ar, aku mau pakai baju."
"Tubuh kamu makin sexy aja. Kata Dokter kemarin juga udah boleh tengok dedek pelan-pelan." Arsen mengendus tengkuk leher Naya. Kedua tangan Arsen mengusap perut Naya yang semakin membuncit. "Gemes banget." Kemudian Arsen kembali membuka penutup buah sintal yang baru saja Naya pakai.
"Ar, jangan sekarang. Nanti aja. Nanti aku capek di kampus."
"Iya, cuma pemanasan aja. Habis kamu ganti baju di sini, kan aku jadi tergoda." Arsen semakin me re mas dua buah sintal yang semakin besar dan padat itu. Bibirnya semakin menyusuri leher putih Naya. Dia putar perlahan tubuh Naya, ciuman itu semakin turun ke bawah lalu mengecupi dan memberi jejak merah di dada Naya.
"Hah, aku harus bisa tahan." Arsen menghela napas panjang lalu dia duduk di kursi dekat meja belajarnya. "Kamu pakai baju, lalu kita berangkat." Arsen hanya menatap Naya yang kini memakai bajunya. Sudah beberapa minggu dia tidak melakukannya dengan Naya, rasanya hari itu hasratnya benar-benar membuncah. Tapi waktunya tidak tepat, karena sejak Naya hamil setiap kali selesai melakukannya Naya pasti kecapekan dan tertidur.
"Mukanya merah banget." Naya berjalan mendekat lalu menggeser satu kursi dan duduk di dekat Arsen. Dia melihat jam dinding. Jam masuk kuliahnya masih satu jam lagi, masih ada waktu untuk bersantai. "Pasti lagi nahan nih." Satu tangan Naya me re mas sesuatu yang menegak sedari tadi.
"Ah, Nay, jangan gitu aku makin gak tahan."
"Udah hampir satu bulan kan gak lakuin. Arsen hebat bisa tahan." Naya membuka resleting celana Arsen lalu mengeluarkan dari sarangnya.
"Sayang mau apa?" tanya Arsen. Miliknya yang sudah menegang semakin berkedut saat mendapat usapan dari tangan Naya.
"Aku kasih bonus plus pagi ini. Aku lagi pengen lollipop." Satu tangan Naya sudah mengusap guratan otot itu ke atas dan ke bawah.
Senyum Arsen seketika mengembang. Baru merasakan sentuhan tangan Naya saja sudah seenak ini, bagaimana jika merasakan bibirnya.
...***...
"Ngga, kamu kan ada kelas siang? Kenapa anter aku?" Rani kini berjalan masuk ke dalam kampus bersama Rangga.
"Emang gak boleh?"
"Ya bukannya gitu. Aku bisa berangkat sendiri daripada kamu bolak balik."
"Kamu tuh aku perhatiin tapi malah gak mau." Rangga menggandeng tangan Rani. Dia sudah mulai tidak canggung lagi menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya pada Rani. "Hmm, Ran, nanti kedua orang tua aku mau ke rumah kamu. Gak papa kan?" tanya Rangga.
__ADS_1
Rani mengernyitkan dahinya sambil menatap Rangga. "Secepat ini?"
"Hmm, terlalu cepat ya?"
Rani tersenyum kecil. "Kamu udah yakin?"
Rangga menganggukkan kepalanya. Dia sangat yakin dengan keputusannya ini. "Iya, buat apa menunggu lama lagi. Kita bisa kuliah sambil menikah. Lagian cuma kurang dua tahun lagi kita udah lulus S1."
Rani kini duduk di bangku taman. Dia tidak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir bersama Rangga. "Gimana ya kalau kita udah nikah nanti? Gak bisa bayangin nikah sama sahabat sendiri."
Rangga semakin mengeratkan genggaman tangannya. "Makanya kita realisasikan. Segera. Minggu depan ya?"
Rani melebarkan matanya. "Minggu depan? Apa gak terlalu cepat?"
"Naya dan Arsen saja sehari langsung terealisasi, masak kita harus nunggu lama lagi?"
"Ih, apa motifnya buru-buru gitu?"
Rangga hanya tersenyum penuh arti.
"Senyumnya penuh dengan pikiran kotor. Jangan-jangan selama ini kamu bayangin yang gak-gak tentang aku."
"Astaga, aku bukan cowok omes gitu." Rangga mencubit hidung Rani karena gemas. "Lagian aku juga gak bisa bayangin sama kamu, selama ini gak kepikiran sampai sejauh itu. Ya, aku mau cepat-cepat nikah karena aku gak mau kamu didekati cowok lain."
Rangga menghela napas panjang. "Bisa gak sih kita mesra-mesraan kayak pasangan lain gitu."
"Emang kamu bisa mesra?"
Rangga berdecak lalu merangkul bahu Rani. "Nanti setelah menikah mesranya."
Rani semakin tertawa. "Tak terbayangkan."
"Gimana? Pertanyaan aku belum kamu jawab."
"Datang ke rumah dulu, baru nanti aku jawab."
"Oke. Nanti aku ajak keluarga Arsen juga."
"Iya, ajak keluarga Arsen tapi jangan ajak Arsen, dia itu tukang rusuh."
"Heh, apa lo bilang!" Arsen dan Naya tiba-tiba muncul. "Enak aja dibilang tukang rusuh. Hutang budi lo sama gue. Kalau gak gue paksa sampai tua Rangga gak bakal bilang perasaannya."
"Njir, si paling utang budi."
__ADS_1
"Udah, udah, bentar lagi kan kita semua jadi keluarga," kata Naya. Selalu saja mereka ribut saat bertemu.
Kemudian Rangga berdiri dan memberi tempat duduk pada Naya.
"Nay, dedek udah sehat?" Rani mengusap perut Naya yang sudah semakin terlihat besar.
"Udah, gue bosan di rumah lama-lama."
"Ran, gue titip Naya. Lo jagain, tunggu sampai dia pulang baru lo boleh pulang."
"Gak usah lo bilangin gue juga akan jagain Naya dan calon ponakan. Gue gak mau kejadian kayak kemarin terulang lagi."
"By the way, kapan nih tanggal mainnya?" tanya Naya.
"Nanti malam kalian berdua dan orang tua Arsen ikut ya ke rumah Rani."
"Gini dong gercep." Arsen menepuk bahu Rangga. "Jadi kapan?"
"Minggu depan."
"Wih, ngebet kawin nih." Arsen tertawa dengan keras.
"Ar, udah sana katanya mau ke kantor," kata Naya agar suaminya itu tidak semakin memancing keributan.
"Iya, berangkat dulu ya." Arsen mengusap perut Naya sesaat lalu dia pergi bersama Rangga.
"Ran, beneran udah siap?"
Rani mengangkat kedua bahunya. "Gue sih sebenarnya masih bingung. Bener gak ya keputusan gue ini untuk menerima Rangga jadi suami gue?"
"Kalau lo sayang dan cinta sama Rangga ya buat apa ditunda lagi. Gue yakin, lo bisa bahagia sama Rangga."
Rani kini menggandeng lengan Naya. "Kadang hidup itu lucu ya, kita justru berjodoh sama orang yang gak kita sangka sebelumnya."
Naya menganggukkan kepalanya. "Iya itulah yang namanya jodoh. Pasti takdir yang akan menyatukan kita." Kemudian Naya dan Rani berdiri dan mereka berjalan menuju kelas.
Mereka kini berjalan di belakang Tika. Rani dan Naya hanya saling senggol. Tapi tiba-tiba saja Tika jatuh pingsan.
"Tika, kenapa?"
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya...