
Naya hanya menatap dirinya di depan cermin. Sejak pulang dari Dokter spesialis mata, dia jadi muram. Selain minusnya juga bertambah Dokter juga mengatakan kalau retina matanya lemah sehingga dia benar-benar tidak bisa melahirkan secara normal karena ada kemungkinan besar dia bisa mengalami kerobekan pada retinanya.
"Sayang, jangan sedih gini." Arsen masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas susu hangat untuk Naya. Kemudian dia membantu Naya minum susu itu sampai habis. Setelah habis, dia letakkan gelas yang telah kosong di atas meja.
"Iya, tapi aku tetap aja kepikiran."
"Iya, biar aman nanti melahirkan secara sesar saja. Jangan takut, aku akan selalu menemani kamu. Setelah anak kita lahir, kamu juga bisa operasi LASIK biar kamu gak pakai kacamata lagi."
Naya hanya menganggukkan kepalanya.
Arsen membungkukkan dirinya dan menangkup kedua pipi Naya. "Aku akan selalu ada buat kamu. Jangan sedih lagi ya, nanti dedek dalam perut ikut sedih."
Naya akhirnya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Aku sayang kamu, terima kasih sudah menemaniku sampai sekarang."
"Aku juga sayang sama kamu." Kemudian kedua wajah itu saling mendekat dan saling memagut.
...***...
Hari-hari pun berlalu, Naya kini bisa menyaksikan secara langsung acara sakral sahabatnya yang telah sah juga menjadi saudaranya.
Kedua pengantin baru itu nampak malu-malu duduk di atas pelaminan. Mungkin mereka tidak pernah membayangkan sebelumnya akan menikah dan hidup bersama.
"Sebenarnya aku gak mau pesta-pesta gini. Malu banget. Banyak teman-teman kita yang datang." bisik Rani. Saat host membuka acara resepsi itu Rani dan Rangga justru berbisik-bisik.
"Apalagi aku, lihat tuh mereka semua pada tertawa."
"Kamu malu nikah sama aku?"
"Tadi yang bilang malu duluan itu siapa?"
Seketika Rani memanyunkan bibirnya tapi Rangga kini menggandeng tangan Rani dengan erat hingga acara demi acara mereka lalui dengan senyuman.
Setelah acara inti selesai, Arsen dan Naya naik ke atas pelamin dan mengusir sepasang pengantin itu.
"Ngga, Naya mau ngerasain duduk di pelaminan. Lo salaman dulu aja sama tamu."
Tentu saja Rani dan Rangga dengan senang hati memberikan tempat duduk mereka untuk si bumil.
__ADS_1
"Nih, sampai acara selesai gak papa. Kamu duduk sini aja." Kemudian Rani membisikkan sesuatu pada Naya. "Aku malu duduk sini."
Seketika Naya tersenyum. Dia kini duduk dengan Arsen di kursi mewah yang berhiaskan bunga-bunga itu.
"Nay, maaf ya. Kamu gak pernah ngerasain jadi ratu dalam sehari saat kita menikah," kata Arsen. Dia kini menggenggam tangan Naya.
"Gak papa. Bagi aku yang penting bukan pesta."
"Terus apa yang penting?" Arsen mendekatkan dirinya sambil menatap Naya.
"Cinta dari kamu."
Seketika Arsen mencium punggung tangan Naya. Semakin hari dia semakin mencintai Naya.
"Loh, pengantinnya ada dua." Virza datang dan berdiri di dekat Arsen setelah memberi selamat pada Rangga dan Rani. Meski dia hanya sesaat bersama Rani, tapi tak mudah baginya menghilangkan rasa yang pernah tercipta.
"Za, kirain lo gak datang." Arsen berdiri dan bersalaman dengan Virza.
"Datanglah. Yang sakit hatinya tapi raganya sehat." Virza tertawa cukup keras lalu dia berbisik di telinga Arsen. "Banyak cewek cakep di sini. Kenalin dong yang jomblo."
"Cari sendirilah. Hari gini mau dikenalin." Arsen kembali duduk di pelaminan bersama Naya. Dia mengambil sepiring kue yang berada meja kecil lalu menyuapi Naya.
Beberapa teman dan kerabat yang masih jomblo dan belum memiliki pasangan berdiri di depan pelaminan saat Rani dan Rangga bersiap melempar buket bunga pengantinnya.
"Ar, gak ikut?" goda Rangga.
"Weh, gue udah punya istri. Lempar ke Virza sana. Meskipun gak punya pasangan yang penting punya bunganya." kata Arsen sambil tertawa.
"Dasar lo!" Virza melipat tangannya sambil melihat sepasang pengantin itu membalikkan badannya dan bersiap melempar bunga.
Setelah bunga itu terlempar, bunga itu justru mengarah ke Virza. Tiba-tiba saja ada seorang gadis yang menangkap bunga itu dan dia terjatuh ke badan Virza.
Virza menahan tubuh gadis itu. Mereka saling menatap, beberapa saat sampai tatapan mereka dibuyarkan oleh sorakan.
"Sorry, hmm, aku gak punya pasangan. Bunga ini buat kamu aja deh, tadi secara spontan aja nangkapnya."
"Aku juga gak punya pasangan." Virza kembali mendorong bunga itu.
"Kan sama-sama gak punya pasangan, gimana kalau dipasangkan saja."
__ADS_1
Gadis yang bernama Vivi itu hanya tersenyum. Dia teman satu fakultas Rani dan juga Naya.
"Ya udah." Virza mengulurkan tangannya dan mengajak Vivi berkenalan. "Nama aku Virza."
"Aku Vivi." Vivi membalas uluran tangan Virza.
"Cocok double V. The next couple." teriak Arsen.
Vivi hanya tersenyum malu, begitu juga dengan Virza. Apa memang Vivi adalah jodohnya. Kita lihat saja nanti?
Virza dan Vivi melanjutkan obrolan mereka di kursi tamu vip. Sedangkan Naya kini mulai merasa lelah. Beberapa tamu undangan juga sudah ada yang pulang.
"Perut aku udah kenyang. Kita pulang aja yuk. Gak papa kan ya? Capek banget soalnya."
"Ya udah. Gak mau menginap di hotel juga?" tanya Arsen karena memang resepsi itu dilaksanakan di hotel.
Naya menggelengkan kepalanya. "Di rumah aja lebih nyaman."
Kemudian mereka berdua mendekati Rani dan juga Rangga untuk berpamitan. "Ran, aku pulang dulu ya. Sekali lagi selamat ya." Naya memeluk tubuh Rani sesaat.
"Iya, makasih ya. Ini semua juga berkat kamu. Kamu pulang aja gak papa. Kelihatannya bumil capek."
"Ngga, gue pulang dulu." Arsen menepuk bahu Rangga. "Nanti malam langsung gas aja. Dijamin nagih." kata Arsen sambil tertawa.
"Wah, lo bisa aja."
"Gas sampai pagi mumpung dapat paket honeymoon di hotel."
Rani hanya menautkan alisnya. Bicara soal honeymoon, rasanya dia semakin malu. Bagaimana dia melakukannya sama Rangga?
"Good luck ya." Setelah itu Arsen dan Naya turun dari pelaminan dan keluar dari ruang resepsi itu.
Rangga kini menatap Rani yang sedang mengalihkan pandangannya. Satu tangannya merengkuh bahu Rani. "Sudah siap untuk malam ini?"
Rani hanya menelan salivanya. Benar-benar tidak bisa dibayangkan malam pertama dengan sahabat sendiri.
💕💕💕
.
__ADS_1
Yang mau intip Rani dan Rangga, komen ya... 🤣