Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 118


__ADS_3

Area panas dalam. Untuk versi Virza dan Laras nanti ya, 🤣 kalau gak othor skip.


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


"Sayang." Arsen memeluk Naya dari belakang. "Sudah siap berpetualang dengan Arsen?"


Dada Naya semakin berdebar tak karuan. Sepertinya malam itu dia tidak akan tidur semalaman. Sudah lama Arsen menahannya, pasti Arsen akan memakannya habis malam itu.


"Eh, hmm, kita kan belum konsultasi ke Dokter, gimana kalau..."


"Ssttt, percaya sama aku."


Naya justru tersenyum dan membalikkan badannya. Dia kini melingkarkan kedua tangannya di leher Arsen. "Iya, percaya. Terus tiba-tiba langsung jadi."


Perlahan Arsen mendorong Naya. "Iya, aku sebenarnya masih trauma dengan kejadian yang kamu alami. Apa kita pulang saja?"


Naya semakin tersenyum dan menatap Arsen menggoda. "Serius mau pulang?" Satu tangannya kini turun ke bawah perut Arsen. "Ini udah tegang banget."


Arsen semakin mendorong Naya hingga akhirnya mereka berdua terjatuh di atas ranjang. "Dia udah pengen masuk ke dalam sarangnya, udah hampir enam bulan gak merasakan kehangatan itu." Arsen semakin menindih Naya. Dia singkirkan rambut Naya yang menutupi wajahnya.


"Kalau jadi adiknya Arnav?"


"Kamu gak mau?"


"Ya aku sih mau aja. Tapi kalau bisa cabut aja ya."


"Oke." Arsen menghela napas panjang. "Rasanya benar-benar deg-deg an. Kayak mau lakuin malam pertama aja." Satu tangan Arsen membuka kancing kemeja Naya. Lalu dia labuhkan ciumannya di bibir Naya. Ciuman yang lembut itu semakin lama semakin dalam dan menuntut. Saling menyesap dan menggigit kecil hingga suara decapan itu memenuhi seluruh kamar.


Naya semakin mendongak saat bibir Arsen turun ke leher lalu menyapu leher seputih susu itu dengan bibirnya. Dia hisap hingga meninggalkan tanda merah di leher Naya.


Naya semakin melenguh. Dia memang selalu tersihir dengan sentuhan Arsen.


Kedua tangan Arsen sudah berhasil melepas seluruh kain yang menempel di tubuh Naya. Dia sentuh setiap inci tubuh Naya yang masih terlihat berisi dan semakin sexy. Kedua tangan itu berhenti di kedua buah sintal lalu dia re mas perlahan.


"Mas, buka baju kamu." Naya juga melepas kancing Arsen satu per satu. Setelah itu dia lepas kemeja Arsen. Dia raba dada bidang Arsen lalu turun ke bawah dan berhenti di perut Arsen yang sekarang berlemak. "Banyak lemaknya " Naya tersenyum kecil sambil mencubiti lemak itu.

__ADS_1


"Iya, aku belum pernah gym lagi. Gak papa, yang penting..." Arsen melepas celananya. "Ininya makin hot."


Seketika pipi Naya memerah melihat pemandangan itu. Sudah lama dia juga tidak merasakannya. Apa sama enaknya seperti dulu atau justru semakin enak.


Arsen kembali mendekatkan dirinya. Dia telusuri leher putih itu lagi lalu semakin turun ke bawah dan berhenti di dada Naya. Dia bermain di sekitaran dada Naya yang semakin terlihat padat dan berisi. Dia hisap lama di puncaknya yang membuat Naya semakin men de sah tak karuan, ditambah tangan Arsen sudah memberinya sentuhan lembut pada intinya.


"Sayang aku udah gak tahan banget." Arsen menegakkan dirinya. Dia tidak bisa menahannya terlalu lama. Dia masukkan miliknya ke dalam sarang yang sudah lama tidak dia rasakan.


"Ough, sayang akhirnya aku merasakannya." Arsen mulai menggerakkan pinggangnya. "Sangat nikmat." Arsen semakin mempercepat gerakannya. Dia benar-benar menggebu malam itu, hingga tubuh Naya ikut bergerak naik turun seiring hujaman Arsen.


"Ah, Ar, pelan-pelan, ih." Naya semakin mencakar punggung Arsen karena malam itu Arsen benar-benar liar.


"Enak banget sayang." Arsen kembali menyesapi leher Naya.


Naya hanya bisa pasrah. Suara de sah mereka semakin keras. Naya sudah mencapai pelepasannya yang pertama tapi Arsen justru membalik tubuh Naya. "Sekarang kamu yang pimpin."


"Ar, ih, aku udah lemes suruh di atas."


"Ayo, punya aku masih tahan lama. Slow charging untuk malam ini."


Arsen sangat suka melihat pemandangan yang indah itu. Dia tangkup kedua dada Naya yang ikut bergerak naik turun itu.


"Ar, aku." Naya mendekatkan dirinya dan bersembunyi di leher Arsen lalu menyesapi leher itu.


Arsen tahu sepertinya Naya akan mencapai pelepasan yang kedua. Dia semakin menghentak tubuh Naya dan beberapa saat kemudian tubuh Naya bergetar dengan gigitan dan hisapan yang kuat dari Naya di lehernya.


"Ah, sayang kayak vampir."


"Maaf, maaf." Naya menegakknya dirinya dan melihat bekas gigitannya. "Yah, merah."


"Gak papa." Kemudian Arsen kembali membalik tubuh Naya. "Sayang, kamu tengkurap."


"Ar, aku udah dua kali kamu masih belum juga."


"Kan aku udah bilang, slow charging. Nanti setelah kamu keluar ketiga kalinya." Arsen tersenyum kecil lalu menyusuri punggung mulus Naya dengan bibirnya. "Kamu makin sexy."

__ADS_1


"Bukan sexy, aku masih gemuk."


"Nggak, aku malah suka yang sekarang." Arsen kembali memasuki Naya dari belakang.


Suara Naya semakin keras saat Arsen kembali menggerakkan pinggulnya.


"Sayang, kamu paling suka dari belakang kan?" kedua tangan Arsen me re mas buah sintal yang menggantung itu.


"Iya, lebih terasa banget."


"Sama aku juga, pasti gak bisa tahan lama kalau dari belakang. Aku cepetin."


Suara de sah mereka semakin keras yang diiringi dengan suara tepukan kulit yang semakin cepat.


"Ini enak sayang. Aku mau keluar."


"Aku juga, Ar." Setelah tubuh Naya bergetar beberapa kali barulah Arsen yang mencapai pelepasan. Memang rasanya paling enak langsung di dalam tanpa dicabut.


"Ar, kamu keluarin di dalam?"


"Kelepasan sayang. Udah telat angkat." Arsen melepas dirinya lalu meraih tubuh Naya dan memeluknya. Dia usap pelipis Naya yang berkeringat. "Kalau kamu benar-benar belum siap untuk punya anak, besok kita minta obat kontrasepsi sebelum benihnya bekerja dalam rahim."


Naya menggelengkan kepalanya lalu memeluk tubuh Arsen yang berkeringat. "Di dalam sana pasti calon anak kita sudah berlomba untuk menjadi pemenang, masak iya kita hancurkan harapannya setelah sampai di rahim."


Seketika Arsen tertawa. "Lari, lari, ayo, cepat, cepat, aku duluan. Pasti gitu bunyinya. Kamu kebanyakan lihat video animasi."


"Tapi emang beneran. Ya, aku memang belum siap. Takut kejadian kemarin terulang lagi. Tapi di sisi lain aku juga ingin punya anak lagi biar capeknya sekalian."


"Kali ini aku pastiin kejadian kemarin gak akan terulang. Mereka yang salah sudah dihukum. Gak akan ada yang berani lagi menyentuh nyonya Arsen."


Naya tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. "Baru satu ronde aja capek banget gini sampai aku lemas tiga kali. Gimana kalau main semalaman?"


"Ya semalaman, mumpung di sini. Lihat nih adik kecil sudah siap beraksi lagi." Arsen menggesekkan miliknya lagi di inti Naya.


"Arsen, ih, baru juga tarik napas."

__ADS_1


Arsen hanya tertawa lalu dia memeluk Naya dan kembali membuat Naya melambung tinggi.


__ADS_2