
Rangga kini duduk di dekat brankar Rani. Rani masih belum sadarkan diri setelah mengalami pendarahan postpartum.
Air mata Rangga belum juga surut, dia sangat takut kehilangan Rani karena sekarang Rani dalam masa kritis. Dia kehilangan banyak darah.
"Sayang, cepat sadar. Aku gak akan buat kamu seperti ini lagi." Rangga mengusap rambut Rani. "Udah hampir sehari kamu belum bangun juga. Gak pengen gendong Rey?"
Rangga semakin menggenggam tangan Rani lalu menciumnya. "Aku sayang sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu."
...***...
"Sayang, Rani kritis di rumah sakit." kata Arsen yang baru saja mendapat kabar dari Rangga.
Naya yang sedang menyuapi Arnav sore hari itu seketika menghentikan gerakannya. Dia menghampiri Arsen yang sedang menatap layar ponselnya.
"Kritis gimana? Sedari tadi aku hubungi Rani tapi gak bisa." kata Naya.
"Rangga aja baru balas chat aku. Rani pendarahan setelah melahirkan lalu kritis."
"Kasihan, Mas. Ayo kita ke rumah sakit Mas lihat kondisinya."
Arsen justru mengecup kening Naya. "Besok pagi saja ya. Ini sudah sore, nanti pulangnya kemalaman. Kamu juga belum makan."
Naya akhirnya kembali duduk di dekat Arnav dan menyuapinya lagi. "Tapi aku khawatir banget, Mas."
"Iya sama, aku gak bisa bayangin bagaimana perasaan Rangga sekarang." Arsen kini duduk di samping Naya. "Dulu saja waktu kamu melahirkan dan kamu gak bisa lihat, hati aku benar-benar hancur. Apalagi Rani yang sampai kritis kayak gini." Satu tangan Arsen kini merengkuh pinggang Naya. "Itulah pengorbanan seorang ibu sangat besar. Sebagai seorang suami hanya bisa berusaha menjaga dan melindungi, tapi tetap tidak bisa mengurangi rasa sakit saat melahirkan. Aku saja sangat bersyukur karena aku bisa merasakan ngidam."
Lalu satu tangan Arsen mengusap perut Naya yang sudah membesar. "Semoga semua lancar sampai kamu melahirkan nanti."
"Amin, Mas." Naya meletakkan mangkuk yang telah kosong. "Yee, maemnya habis. Minum air putih dulu ya." Lalu Naya memegangi botol yang berisi air putih itu dan membantu Arnav minum.
__ADS_1
"Arnav tambah besar tambah pintar. Ayo main sama Ayah." Arsen mengambil mainan Arnav dan duduk di atas playmate yang berpagar plastik itu.
Arnav bertepuk tangan gembira lalu merangkak dengan cepat menghampiri Ayahnya. Dia berpegangan di lengan Ayahnya dan berdiri.
"Main sini. Kok berdiri? Arnav mau belajar jalan? Udah pengen main sepak bola sama Ayah ya?"
"Yayayah.."
"Iya, nanti main sepakbola sama Ayah di taman ya. Minggu depan saja, Ayah libur."
Arnav bertepuk tangan sambil tertawa gembira. Dia sudah paham apa yang dikatakan Ayahnya.
Seketika Arsen memeluk tubuh putranya dan menciumi pipi bulatnya. "Cepet banget besarnya. Nanti kalau adik lahir Arnav bantu ibu jaga adik ya. Gak boleh nakal."
Arnav menganggukkan kepalanya lalu memainkan jemari Ayahnya. Dia menariknya dan mengajaknya pergi.
"Mau kemana?" Arsen akhirnya berdiri sambil menggendong Arnav dan mengikuti arah telunjuknya. "Mau naik sepeda dan jalan-jalan? Ya udah ayo, tapi dekat-dekat sini saja ya, udah mau maghrib." Arsen menurunkan putranya di atas sepeda ban tiga itu lalu mendorongnya keluar rumah.
"Arnav, minta jalan-jalan. Dekat-dekat sini saja."
Naya mengikuti langkah Arsen dan mereka jalan-jalan sore bersama di sekitar kompleks perumahannya.
...***...
Sampai keesokan harinya, Rani belum juga siuman. Rangga sengaja menggendong putranya dan mendekatkannya di samping Rani berharap Rani segera membuka kedua matanya dan melihat putranya.
"Sayang, lihat nih Rey udah bisa buka mata lebar. Cepat bangun, dia pengen kamu gendong."
Rangga menatap nanar Rani yang masih saja memejamkan matanya. Lalu dia mengusap lembut rambut Rani. "Maafkan aku ya, aku gak bisa lakukan apapun buat kamu."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Reynand menangis dengan keras.
"Sayang, sayang, cup, cup." Rangga menggendong lagi putranya lalu menimangnya. "Haus ya? Sebentar Papa buatkan susu."
Dengan satu tangannya Rangga membuatkan susu untuk putranya. Untunglah dispenser susu itu sangat membantunya di saat Reynand sudah menangis karena haus.
"Ngga..."
Mendengar panggilan lemah itu seketika Rangga menoleh. "Rani." Senyuman di bibirnya seketika merekah. Dia duduk di dekat brankar Rani dengan satu tangannya yang memberi susu pada putranya. "Sayang, akhirnya kamu siuman."
"Rey..." Rani kini menatap putranya yang berada di gendongan Rangga.
"Iya, sebentar biar susunya habis dulu terus aku tidurkan di dekat kamu." Rangga semakin mendekat agar Rani bisa leluasa menatap putranya.
"Maafin mama ya..." Perlahan tangan Rani mengusap pipi putranya. "Harusnya Mama kasih kamu ASI."
"Sayang gak papa." Rangga melepas dot yang telah kosong lalu menegakkan punggung Rey sesaat agar bersendawa setelah itu dia tidurkan putranya di samping Rani.
"Aku panggilkan Dokter dulu agar segera periksa kondisi kamu." Rangga segera menekan tombol emergency agar Dokter segera datang memeriksa Rani.
Rani tersenyum kecil melihat putranya. "Aku pingsan berapa hari?"
"Sehari semalam."
"Makasih ya, kamu udah jagain Rey."
"Jangan bilang makasih. Menjaga Rey adalah kewajiban kita berdua. Selama masa pemulihan, kamu harus benar-benar istirahat."
Rani menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku sayang kamu, Ran. Aku benar-benar takut kehilangan kamu." kata Rangga sambil mengusap rambut Rani. Beban yang menggunung di hatinya kini telah luruh. Akhirnya dia bisa melihat senyum di bibir Rani saat menatap putranya, meski Rani masih terlihat sangat lemah.