
"Satu lagi, keluarga Sagara mempunyai situs gelap penjualan organ tubuh manusia," imbuh Pak Tama.
"Darkweb?"
"Iya, keluarganya Rangga sudah tahu masalah ini, karena kasus pembunuhan itu sudah lama, pasti prosesnya juga lama jika kita lapor. Papa akan suruh anak buah Papa untuk menjaga Naya. Kamu juga harus hati-hati. Jangan gegabah."
Arsen menganggukkan kepalanya. Lalu mengambil fotonya yang masih bayi bersama Naya. "Ma, ini aku simpan ya."
"Iya, kamu kembali ke kamar saja. Nanti Naya cariin kamu."
"Iya." Kemudian Arsen keluar dari kamar Mamanya. Dia mengambil air putih terlebih dahulu dan mengambil irisan mangga di dalam kulkas lalu memakannya sambil berdiri di depan kulkas. Rasa ngidamnya belum juga hilang sampai usia kandungan Naya sudah jalan lima bulan.
"Ar, ternyata kamu di sini," kata Naya. Dia baru saja terbangun dan mencari keberadaan Arsen.
"Iya, aku lagi pengen mangga. Mau?" Arsen membawa sekotak mangga itu lalu duduk di meja makan bersama Naya.
Naya menganggukkan kepalanya sambil menerima suapan dari Arsen.
"Manja banget, ditinggal sebentar udah bangun."
"Iya, gak bisa tidur kalau gak ada kamu."
Arsen semakin mendekatkan dirinya. Sudah hampir tengah malam tapi mereka berdua justru menikmati makan mangga di ruang makan.
"Foto apa nih?" Naya mengambil foto yang ada di meja. "Ih, lucu banget. Kamu waktu bayi ya? Tapi yang cewek siapa?"
"Oo, itu anak temen Mama. Dulu waktu bayi kita sempat dijodohin." Arsen tersenyum dalam hatinya. Padahal bayi yang ada di foto itu adalah Naya.
"Oo, jadi kamu sudah punya jodoh sejak bayi. Terus sekarang kemana?"
Arsen tersenyum lalu meraih tubuh Naya dan memangkunya. "Kan aku sudah punya kamu." Arsen menyingkirkan rambut Naya lalu mengecup lehernya. "Aku sayang banget sama kamu."
"Aku juga sayang sama kamu."
__ADS_1
"Oiya, satu lagi Ayah sayang sama dedek dalam perut. Biar gak iri." Tangan Arsen kini mengusap perut Naya. Sedangkan bibir Arsen semakin menjelajah leher Naya. Satu tangannya perlahan telah menelusup di balik daster pendek Naya.
"Ar, ini di ruang makan." Naya menahan tangan Arsen yang semakin menyentuh titik sensitifnya.
"Kita ke kamar, main sebentar ya sayang." Arsen mengangkat tubuh Naya dan membawanya ke kamar.
"Ar, aku berat." Naya berpegangan pada leher Arsen karena dia takut jatuh.
"Seberat apapun kamu, aku kuat."
"Ih, nanti kalau aku gendut apa kamu masih cinta sama aku?"
"Ya jelaslah. Semua manusia pasti berubah entah secara fisik atau sifat, termasuk aku." Arsen menutup pintu dengan kakinya. Satu tangan Naya kini mengunci pintu kamar itu. "Kita harus tetap sama-sama ya, melalui semuanya bersama." Kemudian perlahan Arsen menjatuhkan tubuh Naya di atas ranjang.
Naya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kedua wajah itu kembali mendekat dan seling memagut. Kedua tangan Naya melingkar di leher Arsen dan mengacak rambut Arsen.
"Udah beberapa hari gak main. Main sebentar ya?" tanya Arsen lagi.
Naya menganggukkan kepalanya. Kedua tangan Naya menyingkap kaos Arsen hingga melewati kepala Arsen. Dia raba dada bidang Arsen lalu turun ke perut yang sekarang lebih berisi. "Kamu gemukan ya."
"Ah, Ar. Jangan digigit."
Arsen dengan rakus melahap kedua buah sintal itu secara bergantian. Terkadang dia menggigitnya kecil lalu menyesap dan meninggalkan beberapa tanda merah di sekitaran dada Naya. Kemudian ciuman itu turun dan menciumi perut Naya yang sudah terlihat membuncit. "Dedek, main sama Ayah bentar yah." Peerlahan ciuman Arsen semakin turun ke bawah. Kini satu tangannya sudah berhasil melepas kain segitiga itu.
"Ah, Ar. Jangan disitu. Ar." Naya semakin membuka kedua kakinya. Dia men de sah tak karuan saat Arsen menyesap dan bermain di kli to ris nya.
Arsen tahu, meskipun bibir Naya menolak tapi tubuh Naya sangat menikmati.
"Ar, aku udah gak tahan. Ayo masukin."
Arsen menjauhkan dirinya dan tersenyum. Sejak hamil gairah Naya memang sangat mudah terpancing. Dia segera melepas celananya lalu mengungkung tubuh Naya. Dia tahan tubuhnya agar tidak menindih perut Naya.
"Ar, ayo." Naya semakin menarik Arsen. Rasanya dia sudah tidak sabar merasakannya.
__ADS_1
"Iya sayang, sekarang gak sabaran banget." Arsen memposisikan dirinya lalu memasuki Naya secara perlahan tapi pasti.
"Habis rasanya enak."
"Memang enak banget sayang. Apalagi sekarang rasanya makin, uhmm, pokoknya nikmat." Arsen menegakkan dirinya karena dia takut menindih perut Naya saat akan menambah gerakannya. Kedua tangan Arsen kini bermain di dada Naya yang ikut bergerak naik turun.
Suara de sah Naya semakin keras. Sebentar lagi dia sudah sampai di puncaknya.
"Kamu mau keluar sayang? Aku juga gak bisa lama-lama, ini terlalu enak."
Setelah mereka mencapai pelepasan bersama, Arsen melepas dirinya dan merebahkan tubuhnya di sebelah Naya. "Sejak kamu hamil aku jadi fast charging gini. Selain takut kamu kecapekan, aku gak tahan rasa menggigitnya."
"Ih," Naya mengatur napasnya sambil mengusap perutnya yang terasa mengencang setelah pelepasan.
"Hei, sayang. Maaf ya, Ayah ganggu sebentar." Arsen juga ikut mengusap perut Naya. "Tinggal empat bulan setengah lagi kita bertemu buah hati kita."
"Iya, aku udah gak sabar. Kira-kira nanti mirip siapa ya?"
"Yang jelas mirip Naya dan Arsen, karena kita bekerja sama dengan kompak dan bagus dalam masa pembuatan."
Naya tersenyum lalu menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Sayang, pakai baju dulu."
"Iya, bentar lagi. Aku mau hirup aroma tubuh kamu dulu." Naya menyembunyikan wajahnya di dada Arsen dan menghirup dalam aroma yang sangat dia sukai.
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1
.
Hiburan dulu biar gak tegang tapi malah Arsen yang tegang... ðŸ¤