Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 49


__ADS_3

"Nay, bangun udah siang." Arsen mengusap pipi Naya yang masih tertidur nyenyak. "Udah jam 6, kalau kamu mau libur ya udah gak papa."


Seketika Naya membuka matanya. "Kok kamu baru bangunin aku?"


Arsen mencebikkan bibirnya lalu kembali menegakkan dirinya. "Udah dari tadi aku bangunin tapi kamu masih nyenyak aja."


Naya bergeliyat untuk meregangkan otot-ototnya lalu duduk. Dia terkejut saat menyadari tubuhnya masih polos. Dia tarik kembali selimutnya. "Ih, ternyata aku semalam tidur gak pake baju."


Arsen hanya tersenyum. Dia kini menyisir rambutnya yang basah. "Kamu udah ngantuk banget, gak mau pake baju. Ya udah aku biarin. Kamu masuk sekolah gak?"


"Ya masuk lah. Aku udah libur lama. Tinggal tiga bulan lagi kita ujian akhir." Naya meraih handuk yang sudah disiapkan Arsen di tepi ranjang dan melilitkan di tubuhnya.


"Ya udah kamu mandi gih. Udah aku siapin air hangatnya juga."


Naya turun dari ranjang secara perlahan. Ternyata perang semalam masih menyisakan perih dan rasa mengganjal, apalagi saat dia melangkahkan kakinya. "Enak ya jadi cowok, gak ngerasain sakit apa-apa. Pagi-pagi malah makin fresh."


Mendengar hal itu seketika Arsen membalikkan badannya dan memeluk Naya. "Sini, sini, aku bantuin. Mau ke kamar mandi?" Arsen mengangkat tubuh Naya dan menggendongnya ke kamar mandi.


Naya tersenyum lalu melingkarkan tangannya di leher Arsen. "Tetap seperti ini ya, meskipun usia pernikahan kita sudah puluhan tahun lamanya. Jangan pas baru aja kayak gini."


"Iya." Kemudian Arsen mencium bibir Naya yang semakin terlihat sexy karena hisapan berulang darinya sejak semalam. Hanya sesaat lalu Arsen melepas pagutannya karena mereka sudah diburu waktu. Dia kini menurunkan Naya di kamar mandi. "Kamu mandi dulu, udah siang."


"Iya," setelah Arsen keluar, Naya menutup pintu kamar mandi itu. Dia mandi dan keramas dengan cepat. Setelah selesai, dia keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya. "Ar, besok-besok bangunin yang pagi. Pasang alarm yang banyak biar gak buru-buru gini."


"Iya. Nih, pakai seragam dulu." Arsen sudah menyiapkan seragam Naya bahkan dia juga sudah merapikan tempat tidur dan mengganti sprei yang ternoda semalam. "Buku kamu juga sudah aku siapkan. Kita sarapan roti aja biar cepat, nasi sama lauk sudah aku masukkan di dalam kotak bekal."


Naya hanya menganggukkan kepalanya. Kenapa sekarang peran bapak rumah tangga begitu dihayati oleh Arsen?

__ADS_1


Setelah memakai seragamnya, Naya memoles wajahnya sesaat, sedangkan Arsen membantu menyisir rambut Naya. Benar-benar pagi hari yang sangat harmonis.


"Nay, mulai nanti kita belajar bareng ya. Ya, siapa tahu aku bisa ngalahin nilai kamu."


"Ih, gak boleh ngalahin nilai aku! Enak aja."


"Kenapa? Justru bagus kan, bad boy tobat meraih peringkat tertinggi di sekolah. Biar menjadi contoh teladan untuk adik-adik kelas kita." Arsen meletakkan sisir rambut Naya setelah selesai menyisirnya.


"Emang bisa?" Naya kini mengambil tasnya dan memeriksa buku-bukunya. Setelah itu dia memakainya.


"Kalau bisa, kamu mau kasih apa?" Arsen memegang kedua bahu Naya lalu mendekatkan wajahnya.


"Aku gak punya apa-apa."


Arsen tersenyum lalu mencium bibir Naya. "Aku cuma bercanda. Bagi aku sudah memiliki kamu dan cinta kamu itu udah cukup."


"Udah, gombalannya disimpan dulu. Ini udah siang." Kemudian mereka keluar dari kamar dan mengambil roti selai yang sudah disiapkan Arsen.


"Tumben bawa bekal? Biasanya beli di kantin." tanya Naya setelah menelan makanannya.


"Aku udah terlanjur beli." Arsen mengambil roti dan menggigitnya hanya dua kali. Setelah meminum susu, mereka berdua memakai sepatu di ruang tamu.


"Kurang 20 menit lagi masuk." Arsen memakai helmnya lalu menaiki motornya.


"Ar, aku duduk miring aja. Jangan kenceng-kenceng kalau bawa motor."


"Nay, nanti kamu jatuh."

__ADS_1


"Ih, sakit Ar." Naya naik ke boncengan Arsen dan duduk miring.


"O iya lupa, kalau gitu pegangan yang erat."


Setelah Naya memeluk Arsen, motor Arsen segera melaju menuju sekolah. Untunglah jalanan pagi itu tidak macet sehingga mereka bisa sampai di sekolah tepat waktu.


Arsen kini menghentikan motornya di tempat parkir. Kemudian Naya turun dan melepas helmnya.


"Naya!" Baru juga sampai, Rani langsung menghampiri Naya dan menarik tangannya. "Ar, ini urusan cewek. Lo gak usah ngikutin kita." Kemudian mereka berdua berjalan meninggalkan Arsen.


Arsen hanya menggelengkan kepalanya, "Dasar cewek!" Dia lebih memilih menghampiri Rangga yang baru saja memarkir motornya.


Rangga kini melepas helmnya lalu menatap Arsen.


"Gue masih belum tahu tujuan lo itu sebenarnya apa? Tapi ya udahlah, silakan kalau lo mau menghancurkan Bara karena geng motor Bara memang sering melakukan tindak kriminal dan meresahkan pengguna jalan. Selamatin juga anak buah Bara yang tertindas. Gue yakin anak buah lo jauh lebih banyak dari gue."


"Iya, lo tenang aja. Tugas lo sekarang cuma jagain Naya. Jangan sampai Naya terluka sedikit pun." kata Rangga.


Arsen justru tertawa. "Lo masih belum rela melepas Naya?"


"Sekarang bukan lagi soal perasaan gue sama Naya tapi lebih dari itu." Kemudian Rangga melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Arsen.


"Maksud Rangga apa? Tuh anak dari dulu misterius amat hidupnya." Kemudian Arsen melangkahkan kakinya menuju kelas.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen..


🙄🙄


__ADS_2