Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 57


__ADS_3

"Kak, kita mau kemana?" tanya Rani yang kini berada di boncengan Virza.


"Ke taman," jawab Virza. Dia tersenyum kecil meski dadanya terus berdebar. Dia sudah memutuskan untuk menembak Rani malam hari itu.


Setelah sampai di taman, mereka masuk ke dalam taman dan berkeliling sesaat.


"Duduk sini saja," ajak Virza. Mereka kini duduk di dekat air mancur.


Virza menatap langit malam itu yang dipenuhi bintang. Beberapa saat kemudian ada anak kecil yang memberikan sebuket bunga mawar merah pada Rani.


"Ini buat kakak."


"Dari siapa?"


Anak kecil itu berlari tanpa menjawab pertanyaan Rani.


Virza hanya melirik Rani. Urusan hati dia memang sedikit cemen. Apakah aliran cowok bad boy semua seperti itu?


Rani membuka pesan yang ada di bunga mawar merah itu.


Aku cinta kamu. Maukah kamu menjadi pacar aku?


Seketika Rani menatap Virza. "Orangnya ada di sebelah kenapa gak bilang langsung?"


Virza tersenyum kecil lalu menggenggam tangan Rani. Dia menarik napas dalam sebelum mengungkap semua perasaannya. "Iya, aku memang cemen. Aku takut ungkapan cinta aku ini terlalu terburu-buru. Tapi jujur, sejak awal aku bertemu kamu, aku udah jatuh cinta sama kamu. Apa kamu mau jadi pacar aku?"


Rani terdiam beberapa saat. Sebenarnya inilah saat-saat yang dia tunggu karena dia sudah merasa nyaman dekat dengan Virza. "Iya, aku mau. Aku juga jatuh cinta sama Kak Virza sejak pertama kita bertemu."


Mereka saling menatap dan tersenyum. Hingga tatapan itu dibuyarkan oleh panggilan whatsapp di ponsel Virza. Virza segera mengangkat panggilan itu.


"Ada apa, Ar?"


"Lo sekarang ke basecamp. Ada hal penting yang harus kita bahas." Kemudian Arsen mematikan panggilannya.


"Ada apa?" tanya Rani.


"Arsen suruh aku ke basecamp. Aku antar kamu pulang dulu ya."


"Gak usah. Kita langsung ke basecamp saja. Nanti kelamaan kalau antar aku dulu." kata Rani.


Virza menganggukkan kepalanya, "Ya udah. Pasti mereka bahas soal Rangga yang akan jadi bos."

__ADS_1


Mereka berdua berdiri lalu berjalan menuju tempat parkir. Satu tangan Virza menggandeng tangan Rani.


Setelah mereka naik ke atas motor, Virza segera melajukan motornya menuju basecamp. Virza tidak tahu jika ada anak buah Bara yang mencegat di sekitar jalan menuju basecampnya.


"Kak, ada yang ngikuti kita." Rani semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Virza.


"Shits, anak buah Bara." Virza semakin menambah kecepatan laju motornya. "Kamu pegangan yang erat!"


Saat Virza hampir sampai di basecamp, tiba-tiba ada yang menabrak motor Virza dengan keras hingga motor Virza oleng ke kiri dan mereka berdua jatuh.


"Apa mau kalian!!" teriak Virza. Dia membantu Rani bediri yang meringis kesakitan memegang tangannya. "Kenapa? Tangan kamu sakit?"


"Iya, sakit banget."


Beberapa anak buah Bara tertawa. "Kalian ingin memecah belah geng kita! Jangan harap! Justru geng lo yang sebentar lagi akan hancur."


"Woy! Ngapain kalian ada di sini!" teriak Arsen. Dia dan teman lainnya berlari menghampiri Virza.


Seketika anak buah Bara melajukan motornya dengan kencang dan pergi.


"Ran, coba aku lihat. Kamu buka jaket kamu." Virza membantu Rani membuka jaketnya.


"Aw, sakit."


"Gue ikut Virza." jawab Rani.


Rangga melihat tangan Rani yang memar dan membengkak di sekitar sikunya. "Tangan lo pasti terkilir. Udah gue bilang, lo jangan pernah main di daerah anak geng motor, bahaya!"


"Biar gue antar Rani ke rumah sakit!" Virza akan meraih tangan Rani tapi ditepis Rangga.


"Lo bisa gak jagain Rani! Lo ngapain bawa Rani ke sini. Bo doh!"


"Gue gak tahu kalau anak buah Bara ada di sini!"


Rangga menuding Virza di depan wajahnya. "Mulai sekarang lo jangan pernah deketi Rani!"


"Ngga, apaan sih. Gue yang minta ikut." Rani menahan Rangga saat Rangga semakin menantang Virza.


Rangga membuang napas kasar. "Selama ini lo sama gue, apa pernah gue ajak lo ke tempat ini. Bahkan Arsen saja, gak pernah bawa Naya. Bisa-bisanya dia bawa lo ke sini. Dia itu gak bisa jagain lo! Kita ke rumah sakit sekarang!" Rangga menarik lengan Rani yang tidak sakit agar mengikuti langkahnya.


Virza hanya mengepalkan tangannya. Dia akui, dia memang salah tidak bisa menjaga Rani. Tapi tidak perlu Rangga sampai marah padanya dan mengatainya bo doh.

__ADS_1


"Selama Rangga gabung di basecamp ini, gue gak akan mau lagi ke tempat ini!" Virza menegakkan motornya yang dibantu Arsen.


"Za, jangan dipikirin omongan Rangga barusan. Dia khawatir aja sama Rani. Cuma emosi sesaat."


"Iya, gue ngerti." Virza membuang napas kasar lalu menuntun motornya menuju basecamp yang tinggal beberapa meter lagi.


Setelah menjagrak motornya, dia duduk dan mengambil rokoknya. "Gue tahu, gue salah ajak Rani barusan tapi gak usah dikatain bo doh segala. Lagian apa mau dia gabung di geng kita, kalau dia mau musuhan sama Bara, musuhan aja sendiri gak usah gabung. Gue curiga, kalau dia ada kepentingan pribadi di balik semua ini."


Arsen menggeser kursinya agar obrolannya tidak didengar yang lainnya. "Karena keluarga Bara musuh keluarga Rangga."


"Gue gak suka kalau circle kita dicampuri dengan masalah pribadi. Lo usir aja Rangga. Gue gak setuju kalau geng kita dipimpin Rangga." Kemudian Virza berdiri dan mencari dukungan. "Siapa yang tidak setuju Rangga bergabung sama kita!"


"Iya, kita juga gak setuju!"


Arsen berdiri dan menengahi mereka. "Gini, sebenarnya gue juga punya tujuan mengapa gue bolehin Rangga bergabung, yang pertama, kalian tahu kan kalau geng kita sekarang kecil sedangkan Bara selalu mencari kesempatan untuk menghancurkan geng kita. Gue cuma mau anak buah Rangga ikut melindungi kalian semua karena Rangga bukan orang sembarangan. Gue sekarang juga udah gak bisa fokus di sini, atau kalau memang kalian ingin geng ini bubar, gak papa, keputusan ada di tangan kalian."


Virza kembali duduk dan menyesap rokoknya.


Semua juga ikut terdiam.


"Kita udah bentuk geng ini selama hampir tiga tahun, sebenarnya gue juga berat meninggalkan geng ini. Tapi bagaimana lagi, hidup ini terus berjalan. Ada kalanya kita harus meninggalkan circle seperti ini demi orang yang kita sayang." kata Arsen lagi.


"Ya sudah, biar Rangga yang menggantikan posisi lo." Virza berdiri dan menaiki motornya.


"Lo mau kemana?"


"Pulang." Hanya itu yang Virza jawab sambil memutar motornya.


"Za..."


Virza tak mendengar panggilan Arsen lagi.


Arsen menghela napas panjang. "Ini yang labil gue atau mereka." Arsen kembali duduk dan menyesap rokoknya.


"Biasa Ar, urusan cewek. Udah biarin aja."


.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2