Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 109


__ADS_3

Arsen kini berdiri di hadapan Roni dan Bara yang sudah diikat di kursi oleh anak buah Rangga.


"Ar, jangan gegabah. Gue udah lapor polisi," kata Rangga. Dia bisa melihat kemarahan di wajah Arsen. Bisa-bisa mereka berdua akan habis di tangan Arsen.


"Gak bisa! Gara-gara mereka, Naya hampir buta." Arsen memukul pipi Roni dengan keras. "Kenapa lo tega jadi mata-mata dia. Lo kalau mau balas dendam, sama gue aja jangan sama Naya. Lo harusnya bisa mikir, Naya sedang hamil tua, tega lo!" Arsen mendaratkan pukulan kerasnya lagi di dagu Roni hingga bibir Roni berdarah.


"Gue terpaksa melakukan ini." Roni masih saja menyangkal perbuatannya.


"Gue gak akan percaya lagi sama lo!" Arsen menendang dada Roni dengan keras hingga dia jatuh dengan kursinya. Beberapa kali juga dia menendang kaki Roni hingga Roni terkapar tak berdaya.


Arsen kini beralih menatap Bara. "Lo mau menyusul bokap lo ke neraka? Gampang, tinggal gue atur." Arsen menyergap krah jaket Bara lalu memukuli wajahnya berulang kali. "Atau lo mau gue matiin sekarang juga bisa! Jangan pernah usik Naya lagi!" Dia juga memukul dua mata Bara. "Karena lo, Naya hampir buta!"


"Justru lo yang akan kena masalah, lo gak punya bukti apa-apa. Kalau lo bunuh gue sekarang, lo yang akan mendekam di penjara."


"Gak ada bukti? Ck, lo mau main-main sama gue." Rangga menyergap leher Bara dengan kuat. "Lo harus ingat, lo salah berurusan sama gue dan Arsen. Lo punya apa sekarang? Kekuasaan? Atau kekayaan? Lo itu udah gak punya apa-apa tapi masih berani berulah." Rangga melepas tangannya saat Bara hampir kehabisan napas. Lalu mendorongnya hingga dia jatuh dengan kursinya.


"Rasanya gue bener-bener ingin habisi mereka berdua." Arsen memukul pintu dengan keras lalu dia keluar dan duduk di kursi.


"Biar polisi yang menanganinya. Jangan sampai lo juga terlibat kasus hukum. Naya butuhin lo. Lo balik ke rumah sakit aja. Biar gue yang urus semua ini."


Arsen mengusap wajahnya yang sangat keruh. "Gue gak tega lihat kondisi Naya yang kayak gini, Ngga. Dan yang bikin gue kayak gak punya hati, Naya masih bisa senyum padahal dia gak bisa lihat wajah Arnav. Aku bahagia Arnav lahir dengan sehat dan sempurna, tapi Naya..." Arsen menyusut air mata yang ada di ujung matanya. "Andai gue bisa, biar gue yang merasakan apa yang dirasakan Naya saat ini."


"Ar, lo harus kuat. Lo harus lebih kuat dari Naya. Kalau Naya saja masih bisa tersenyum harusnya lo bisa semakin menguatkan Naya. Jangan sampai Naya ikutan sedih karena tahu lo sedih. Gue yakin, Naya bisa melihat lagi. Bukankah Naya udah dijadwalkan untuk operasi mata juga setelah melahirkan."


Arsen menganggukkan kepalanya. "Iya, lo benar." Arsen menarik napas panjang. "Gue gak boleh sedih. Gue harus kuat." Kemudian Arsen berdiri. "Gue balik dulu ke rumah sakit."

__ADS_1


...***...


"Ma, Arsen sudah kembali?" tanya Naya. Dia masih belum bisa melihat. Hanya ada seberkas cahaya saja yang bisa ditangkap oleh matanya.


Bu Ririn menyusut air mata yang hampir saja terjatuh. Dia menggendong cucunya di dekat Naya yang sedang terbaring di brankar.


"Sebentar lagi pasti datang."


"Ma, kalau aku gak bisa melihat tolong bantu jaga Arnav ya," pinta Naya.


Bu Ririn sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. "Kamu pasti bisa melihat lagi. Sebentar lagi Dokter Spesialis Mata datang, kamu pasti mendapat penanganan yang tepat."


Beberapa saat kemudian Arsen datang. Seketika dia duduk di samping Naya. "Maaf sayang, aku lama."


"Kamu darimana?" Naya menggenggam tangan Arsen yang mengusap pipinya.


"Sudah, aku disuapi Mama. Kamu sudah makan?"


"Kamu jangan memikirkan aku. Aku gampang, sebentar lagi aku makan." Kemudian Arsen meraih tubuh Arnav yang sedang tertidur nyenyak. "Ayah belum gendong Arnav. Tidurnya nyenyak sekali." Dia menggendongnya lalu mencium kecil pipi putranya.


"Iya, barusan habis minum ASI lagi. Dua jam lagi kamu bantu buat minum lagi ya. Kalau kamu gak bisa panggil Mama," kata Bu Ririn.


"Iya, aku bisa Ma." Arsen terus memandangi wajah putranya yang terlihat sangat tampan. Hidung dan bibirnya seperti Naya, begitu juga dengan kulitnya yan putih bersih. "Anak Ibu nih. Ibu versi cowok."


"Emang mirip banget?" tanya Naya.

__ADS_1


"Iya, mirip kamu. Semoga kamu cepat bisa melihat ya biar cepat bisa melihat ketampanan Arnav."


Naya tersenyum. Apalagi saat mendengar Arsen berceloteh pelan. Padahal putranya sedang tidur nyenyak.


Beberapa saat kemudian Dokter Sinta dan Dokter Herman masuk ke dalam ruangan Naya. Dokter Herman selaku Dokter Spesialis Mata segera memeriksa kondisi mata Naya.


"Memang ada pembuluh darah yang pecah hingga membuat mata menjadi merah darah. Ada kerobekan juga pada retina tapi tidak terlalu parah." kata Dokter Hendra sambil menempelkan alat di mata Naya.


"Lalu apa istri bisa melihat lagi?" tanya Arsen.


"Kita lakukan operasi retina. Kemungkinan besar Bu Naya masih bisa melihat lagi."


Seketika Arsen dan Naya tersenyum.


"Kita jadwalkan operasi besok. Tapi kemungkinan akan berefek pada kualitas ASI. Bisa konsultasi dulu dengan Dokter Sinta untuk susu penggantinya. Kalau bisa mulai hari ini saja."


Naya mengerutkan dahinya. Apa dia sudah tidak bisa mengasihi Arnav lagi?


"Iya, sebentar lagi saya rekomendsikan susu formula yang cocok untuk si kecil. Bunda tidak usah sedih karena ini bukan kesengajaan. Pasti si kecil akan tetap tumbuh sehat."


Naya akhirnya menganggukkan kepalanya.


Kemudian kedua Dokter spesialis itu keluar dari ruangan Naya.


"Semangat ya, Nay. Semua pasti akan baik-baik saja. Kamu gak usah sedih karena tidak bisa mengasihi Arnav, yang terpenting kamu bisa melihat lagi dan kita bisa merawat Arnav sama-sama."

__ADS_1


Naya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil. "Makasih, kamu sudah selalu ada buat aku."


"Harusnya aku yang makasih sama kamu. Pengorbanan kamu jauh lebih besar daripada aku."


__ADS_2