Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 134


__ADS_3

"Dek Shena jangan ditarik, ini mainan kakak. Dek Shena main boneka saja."


Tiga tahun telah berlalu, Arnav sekarang sudah berusia empat tahun sedangkan Shena sudah berusia tiga tahun. Mereka sering kali bertengkar berebut mainan karena Shena lebih tertarik pada mainan mobil-mobilan milik kakaknya.


"Kak, Shena mau pinjam mobil ini."


"Dek Shena, kalau anak perempuan itu main boneka."


"Ibu, Kak Arnav gak mau pinjami mainannya," teriak Shena melapor pada Ibunya.


Naya yang sedang berkutat di dapur seketika menghampiri mereka berdua. "Arnav, Shena, gak boleh berantem. Main sama-sama."


"Ibu, ini Kak Arnav gak mau pinjami Shena mainan."


"Dek Shena nih, masa perempuan mau main mobil-mobilan. Main boneka. Kayak teman Arnav di sekolah, dia suka main boneka."


Naya tersenyum lalu duduk di dekat Arnav. Arnav memang sudah sekolah PAUD. Dia sangat bersemangat sekali saat sekolah. "Siapa nama temannya?"


"Shania, Bu."


"Oo, Shania. Arnav, kesukaan orang itu berbeda-beda kalau Shena suka mainan mobil-mobilan kamu pinjami ya," kata Naya. Dia sangat mengerti jika Shena memang suka mobil-mobilan. Tapi dia tidak pernah membelikan Shena mobil-mobilan. Dia tetap membelikan Shena boneka, masak-masakan dan mainan perempuan lainnya.


"Tapi Shena kan perempuan. Shena main masak-masakan aja nih. Biar bisa cepat bantuin Ibu di dapur." Naya selalu membujuk putrinya agar lebih suka bermain mainan anak perempuan. Jika dibiarkan, dia pasti terpengaruh dengan saudaranya yang semua laki-laki. Mulai dari kakaknya, lalu Reynand, dan juga Lavicky yang semuanya seumuran.


"Bu, Kak Vicky lama gak ke sini. Kita ke rumah Kak Vicky ya, Bu." kata Shena. Dari ketiganya, Shena memang lebih dekat dengan Vicky, putra pertama Virza dan Laras. Bahkan terkadang dia lebih membela Vicky daripada kakaknya sendiri.


"Iya, nanti ya. Ayah masih sibuk. Nanti kalau ada waktu luang, kita liburan sama-sama."


"Ibu, buat apa di dapur?" tanya Arnav.


"Ibu buat pancake. Arnav mau bantu kasih krim. Ayo, ke dapur."


"Shena juga mau bantu. Kasih strawberry juga ya."


"Iya, ayo." Kemudian Naya berjalan ke dapur bersama Shena dan Arnav.


Mereka bertiga berkutat di dapur. Arnav dengan semangatnya memberi krim pada pancake yang sudah jadi lalu menumpuknya lagi.

__ADS_1


"Arnav, jangan banyak-banyak kalau kasih krim," kata Naya.


"Iya, Bu."


"Shena mau kasih strawberry."


"Iya, strawberry nya biar Ibu iris dulu." Setelah mengiris kecil strawberry, dia berikan pada Shena.


Shena meletakkan strawberry itu di atas krim. "Yee, cantik. Ini buat Ayah."


"Iya, nanti kita makan sama-sama ya. Sebentar lagi Ayah pasti pulang," kata Naya karena hari memang sudah sore.


Beberapa saat kemudian, Arsen sudah pulang dari kantor. Dia berjalan ke ruang makan karena mendengar kehebohan di tempat itu. "Lagi buat apa nih?"


"Yee, Ayah pulang." Seketika Arnav dan Shena berdiri lalu mencium tangan Ayahnya.


"Kita buat pancake sama Mama. Ayo kita makan bareng, Yah." Arnav menarik tangan Ayahnya agar duduk bersamanya.


"Wah, kebetulan sekali Ayah juga lapar."


Lalu mereka makan cemilan sore itu bersama-sama sambil bercanda. Begitulah penghilang penat Arsen setiap harinya. Ketika melihat senyum bahagia mereka, rasa lelah itu seketika menghilang.


"Shena mau tidur sama Ibu," kata Shena pada malam hari itu. Sejak usia dua tahun Shena sudah dibiasakan tidur sendiri tapi terkadang masih saja merengek ingin tidur dengannya.


"Shena udah besar. Tidur sendiri. Ibu temani sampai Shena tidur." Naya mengusap lembut rambut Shena agar Shena cepat terlelap.


Beberapa kali Naya menguap panjang. Meskipun dia bukan wanita karir tapi rasanya sangat melelahkan sehari-hari menjadi ibu rumah tangga menjaga dua anak balita yang sangat aktif.


Setelah Shena benar-benar terlelap, perlahan Naya turun dari ranjang dan berpindah ke kamarnya. Saat melewati ruang tengah, terlihat Arsen masih mengobrol dengan papanya.


Naya langsung menghempaskan tubuhnya saat melihat ranjang empuknya.


"Sayang, udah ngantuk?" tanya Arsen sambil menutup pintu kamarnya.


"Iya, Mas. Capek banget badan aku."


Tiba-tiba Arsen memutar tubuh Naya agar tengkurap lalu memijat punggungnya.

__ADS_1


"Mas, tidur aja. Mas Arsen kan juga capek banyak kerjaan di kantor," kata Naya.


"Iya, kalau kerjaan aku jelas di kantor. Kalau kamu kerjaan dimana-mana. Tiap hari bangun pagi buat siapin sarapan kedua krucil kita, terus antar ke sekolah, jemput sekolah, temani bermain, temani belajar. Kamu itu punya pembantu, biarkan mereka bantu urus anak-anak juga."


"Mas, aku kayak kurang sreg aja kalau bukan aku yang urus mereka sendiri. Aku seneng kok, masa-masa kayak gini gak akan terulang lagi setelah mereka besar."


Tangan Arsen masih setia memijat punggung Naya lalu ke pinggang.


"Mas, kapan ada waktu luang? Kita liburan yuk kalau bisa ajak Rey sama Vicky juga," pinta Naya karena Arnav dan juga Shena sudah beberapa kali menanyakan liburan mereka.


"Tadi kita juga rencanain liburan bareng sama Rangga dan Virza Bulan depan kan liburan sekolah, kita liburan bareng ke taman bermain. Pasti anak-anak seneng banget."


"Oke. Aku bilang sama anak-anak kalau udah deal aja."


"Iya, biar jadi kejutan buat mereka." Lalu tangan Arsen semakin menekan punggung Naya.


"Enak banget, Mas."


"Enak? Mau yang lebih enak gak?"


"Tuh kan, jadi pijitin ada maksud terselubung?"


Arsen tersenyum lalu dia menyingkap daster pendek Naya. "Sayang, kamu sekarang lebih suka pakai daster?"


"Iya Mas, biar adem dan gak ribet."


"Iya sih, memang gak ribet. Tinggal singkap gini udah kelihatan semua." Arsen semakin menarik daster Naya ke atas sampai melewati kepalanya lalu menjatuhkan daster itu ke lantai.


Lalu dia re mas pan tat Naya yang semakin berisi itu. "Kamu makin sexy." Arsen membungkukkan dirinya lalu mencium punggung mulus Naya. Kemudian dia lepas kaosnya dan juga celananya. Dia sudah bersiap untuk memulai sesuatu yang nikmat.


.


💕💕💕


.


Bersambung dulu ya... 🤭🤭

__ADS_1


.


Time to time ya ini. Udah menjelang akhir.


__ADS_2