
"Ar!" Rangga berjalan menghampiri Arsen yang baru saja turun dari mobilnya. "Kenapa lo gak masuk beberapa hari?"
"Gue gak enak badan." Mereka berdua berjalan menuju kelas sambil mengobrol.
"Lo bisa gak enak badan juga?"
"Biasa, ngidamnya pakmil."
Seketika Rangga menjotos lengan Arsen. "Lo hamil lagi? Eh, maksudnya Naya hamil lagi."
"Yoi."
"Selamat bro. Tokcer bener lo. Ngebut banget, anak belum satu tahun adiknya udah jadi." Rangga menepuk punggung Arsen sambil berjalan. "Btw gimana caranya lo bagi waktu antara kerjaan sama keluarga lo?" tanya Rangga, karena rasanya dia sangat sibuk beberapa hari ini.
Arsen kini duduk di depan kelas karena sepertinya Rangga mau curhat. "Ya jalani aja apa yang ada sekarang. Kalau aku, Naya dan Arnav tetap prioritas utama."
"Tapi rasanya gue capek banget." Rangga kini duduk di sebelah Arsen. "Skripsi gue belum kelar-kelar. Kerjaan gue numpuk. Belum lagi Rani manja banget, ingin ini, ingin itu. Kadang gue sampai gak bisa kontrol emosi gue."
"Eh, bumil itu jangan dimarahi."
"Ya gue gak marahi langsung, cuma kesel aja dalam hati."
"Lo tuh Ngga. Bukannya lo pengen banget punya anak, sekarang Rani hamil ya lo harus manjain dia. Turutin semua keinginannya."
"Iya, gue udah manjain, udah gue turutin juga tapi kadang masih aja serba salah." Rangga menghela napas panjang, karena mood Rani benar-benar naik turun dan sangat menguji kesabarannya.
__ADS_1
"Namanya orang hamil, Ngga. Gue aja yang ngerasain gak enak banget. Tiba-tiba pengen sesuatu tapi kalau udah makan rasa pengennya hilang, belum lagi pusing, mual. Ya untungnya gak sensitif, karena gue harus tetap jaga dan manjain Naya. Kemarin Naya juga drop gara-gara mikirin gue sakit. Sebisa mungkin gue harus terlihat kuat biar Naya gak kepikiran."
"Gue akui lo emang hebat nge-treat Naya. Andai saja gue bisa ngerasain kayak lo."
"Dalamin dulu cinta lo, biar lo kena sindrom simpatik." kata Arsen sambil tertawa keras. Dia memang sangat bucin sama Naya sejak menikah.
Rangga menghela napas panjang. "Gue sebenarnya ingin kebut skripsi biar gue bisa cepat wisuda lalu fokus sama keluarga kecil gue."
"Ya sama gue juga tapi kerjaan gue cuma di kantor. Lo kalau ambil kerjaan itu fokus satu-satu, kalau mau belajar jadi penerus perusahaan ya lo lepasin resto lo. Suruh orang yang kelola nanti bagi hasil. Hidup gak usah lo buat repot. Lo nikmati juga jadi suami siaga. Momen-momen kayak gini tu cuma sebentar. Gak papa lo punya ambisi besar tapi lo juga tetap harus utamain orang yang lo sayang terlebih dulu."
"Iya, lo benar juga. Thanks pencerahannya. Sebagai imbalannya nanti gue beliin rujak mangga di depan."
"Ngga, gue mau sekarang."
"Yah, lo, kalau beliinnya nanti bilangnya nanti aja jangan sekarang. Kalau kayak gini kan jadi terbayang-bayang."
Rangga hanya tertawa lalu dia berdiri dan masuk kelas yang diikuti oleh langkah Arsen.
...***...
"Naya!" Rani datang diantar sopir keluarga Rangga setelah selesai kuliah karena Rangga sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Rani, kok sendiri?" tanya Naya sambil menarik tangan Rani masuk ke dalam rumahnya.
"Iya, Rangga lagi kerja. Kamu kenapa gak kuliah? Katanya lo hamil lagi?"
__ADS_1
Naya menganggukkan kepalanya. Dia kini duduk di ruang tengah bersama Rani. Sedangkan Arnav sedang asyik bermain di playmate nya. "Iya, kepala aku pusing banget. Tensi aku masih saja rendah padahal aku gak ngerasain mual. Justru Arsen yang ngidam. Kemarin sampai hampir pingsan."
"Banyak-banyak istirahat. Jangan stress juga. Kan enak, Arsen yang ngidam. Lo bisa makan apa aja agar nutrisi untuk lo dan kandungan lo terpenuhi."
"Tapi aku kasihan, kemarin Arsen sampai dehidrasi parah. Calon ponakan aku cewek atau cowok nih?" tanya Naya sambil mengusap perut Rani sesaat.
"USG kemarin belum terlihat. Tapi cowok atau cewek sama aja sih, yang penting dia terlahir dengan sehat dan sempurna."
"Iya, eh, Kak Laras juga hamil loh. Nanti anak kita seumuran semua."
"Iya, bisa barengan gitu ya. Nanti kalau anak kita cowok semua, jangan sampai bentuk geng kayak bapaknya."
Naya tertawa karena dia sempat membayangkan hal itu sebelumnya. "Iya, gue sempat bayangin kayak gitu. Amit-amit jangan sampai deh."
"Tapi Arnav anteng banget. Arnav ikut aunty sini." Rani mengambil mainan Arnav dan memanggilnya.
Arnav tertawa melihat Rani, dia berusaha untuk merangkak dan mendekati Rani.
"Eh, udah bisa merangkak."
"Iya, udah bisa merangkak dikit-dikit."
"Lucu banget." Kemudian Rani meraih tubuh Arnav dan memangkunya.
Mereka kembali mengobrol sambil bermain dengan Arnav.
__ADS_1