
"Sayang, kalau kamu ragu gak usah datang ke acaranya Tika, biar Papa dan Mama aja yang datang," kata Arsen yang melihat Naya masih saja duduk di depan meja riasnya.
"Gak enak juga kalau gak datang. Kan kita diundang semua." Naya akhirnya berdiri dan memakai tasnya. "Tapi kamu jangan kemana-mana ya. Tetap temani aku."
"Iya sayang, pastilah kalau soal itu." Kemudian Arsen menggandeng lengan Naya keluar dari kamarnya.
"Ar, Papa bawa mobil sendiri soalnya nanti Papa langsung ada acara lagi." kata Pak Tama yang juga sudah siap dengan istrinya.
"Iya, Pa." Kemudian Arsen dan Naya masuk ke dalam mobilnya. Beberapa saat kemudian mobil Arsen mulai melaju menuju acara pernikahan Tika.
"Tumben banget jalanan macet gini." Perjalanan mereka tersendat karena jalanan yang dia lalui sangat macet. "Tahu gitu lewat jalan satunya," kata Arsen.
"Ya udahlah. Gak papa santai aja." Naya bersandar di jok mobil sambil mengusap perutnya.
"Sayang, kenapa? Kok kamu keringetan gini." Arsen mengusap pelipis Naya yang berkeringat. Tidak biasanya Naya berkeringat sampai sebanyak itu karena di dalam mobil juga sudah ada ac.
"Dari semalam perut aku gak nyaman banget," kata Naya pada akhirnya. Dia berusaha menahannya tapi ternyata rasa kencang dan nyeri itu semakin terasa.
"Kenapa kamu gak bilang. Apa gara-gara aku tengokin semalam?" Arsen menjadi panik. Dia kini juga mengusap perut Naya.
"Gak tahu, Ar."
"Kita ke rumah sakit saja ya. Aku gak mau kamu kenapa-napa. Gak usah datang ke acaranya Tika gak papa." Arsen memotong jalan dan berputar arah menuju rumah sakit. Baginya tidak ada yang lebih penting selain kesehatan Naya dan buah hatinya. "Lain kali kalau ada apa-apa langsung bilang biar langsung dapat penanganan."
"Iya, maaf. Aku gak mau buat kamu khawatir. Aku kira cuma sebentar efek dari semalam kayak biasanya. Ternyata sampai sekarang dan makin gak nyaman."
Satu tangan Arsen menggenggam tangan Naya. "Aku yang harusnya minta maaf sama kamu."
Beberapa saat kemudian Arsen menghentikan mobilnya di depan rumah sakit lalu dia membantu Naya turun dari mobil. Dia segera menuju ruangan Dokter yang biasa memeriksa Naya.
"Untung gak antri. Duduk dulu sebentar." kata Arsen.
Naya menganggukkan kepalanya sambil menunggu antrian yang tinggal satu orang itu.
Arsen kembali mengusap perut Naya. Semoga saja tidak ada hal yang buruk setelah melakukan pemeriksaan.
Beberapa saat kemudian giliran Naya masuk ke dalam ruang Dokter Sinta.
"Ada keluhan apa Bunda?" tanya Dokter Sinta dengan senyuman ramahnya.
"Ini Dok, perut saya dari semalam rasanya kencang terus dan agak mulas."
__ADS_1
"Sebentar saya periksa dulu. Mari Bunda."
Naya kini merebahkan dirinya di atas brankar.
"Mau kemana cantik sekali?" tanya Dokter Sinta.
"Mau kondangan tapi kita ke sini dulu."
Setelah mengoles gel di perut Naya, Dokter Sinta mengarahkan alat perekam USG nya. "Iya, ini otot-otot rahimnya terlihat kencang. Apa semalam habis olahraga sama suami?"
Arsen hanya menggaruk tengkuk lehernya sambil tersenyum. Sepertinya semalam dia terlalu bersemangat hingga membuat Naya seperti ini.
"Hati-hati, Pak. Memang tidak apa-apa melakukannya tapi jangan sampai terlalu ya. Meskipun baru 6 bulan posisi kepala janin sudah di bawah. Memang terjadi kontraksi tapi belum ada pembukaan. Saya akan suntik obat penguat agat kontraksi berhenti, jika dibiarkan akan terjadi kelahiran prematur dan tentu sangat berbahaya karena organ dalam bayi belum sempurna. Mengingat Bu Naya pernah mengalami pendarahan yang disebabkan obat bius, jadi kehamilannya sangat rentan. Kedepannya harus lebih hati-hati ya."
Arsen terus menggenggam tangan Naya saat Dokter menjelaskan semua itu. Dia merasa sangat bersalah. "Iya Dok, terima kasih penjelasannya."
Setelah Dokter menyuntik Naya, barulah Naya turun dari brankar.
"Tidak perlu dirawat kan, Dok?"
"Tidak perlu, tapi harus tetap banyak istirahat. Jika ada keluhan lagi langsung periksa."
Setelah selesai melakukan semua pemeriksaan dan menerima obat, mereka berdua keluar dari ruangan Dokter Sinta.
Satu tangan Arsen masih setia merengkuh pinggang Naya. Setelah sampai di tempat parkir, Arsen membuka pintu mobilnya dan membantu Naya masuk ke dalam mobil.
Arsen segera masuk dan duduk di kursi pengemudi. Seketika dia membungkukkan dirinya dan mencium perut Naya. "Sayang maaf ya. Ayah gak akan lakuin ini lagi. Sehat-sehat ya di dalam sana. Tunggu waktunya nanti, pasti kamu akan terlahir dan melihat Ibu, Ayah dan juga seluruh dunia ini."
"Ar, udah gak papa."
Arsen mendongak lalu mencium pipi Naya. "Maaf."
"Ih, udah ini bukan salah kamu. Emang kondisi aku yang kayak gini. Sekarang udah mendingan, udah gak kencang lagi."
"Sekarang kita pulang saja ya. Kamu istirahat di rumah."
Naya menganggukkan kepalanya. Kemudian Arsen melajukan mobilnya pulang ke rumah.
Beberapa saat kemudian ada panggilan masuk di ponsel Arsen.
"Siapa sayang? Kamu lihat."
__ADS_1
Naya mengambil ponsel yang ada di saku blazer Arsen. "Mama video call."
"Kamu angkat aja, di loudspeaker."
"Ar, kamu dimana? Kok belum sampai?"
"Aku dari rumah sakit, Ma. Ada sedikit masalah sama kandungan Naya tapi ini udah beres, kita mau pulang saja."
"Kenapa?"
Naya mendekatkan ponsel itu. "Gak papa, Ma. Tadi udah diperiksa sama Dokter. Titip salam sama Tika ya, Ma. Maaf aku gak bisa datang."
"Iya, tidak apa-apa. Ini juga ada Rani di sini."
"Nay, kenapa? Kamu istirahat aja di rumah. Wajah kamu terlihat pucat. Nanti aku bilang sama Tika. Nanti setelah acara selesai aku langsung jenguk kamu."
"Iya."
"Baik-baik ya bumil."
"Iya, makasih ya."
Kemudian panggilan itu berakhir.
Arsen mengusap puncak kepala Naya agar Naya tidak sedih.
Setelah Naya meletakkan ponsel Arsen, dia menggandeng lengan Arsen dan bersandar di bahunya.
"Aku sayang kalian berdua."
"Aku dan dedek juga sayang Ayah."
Kemudian mereka sama-sama tersenyum kecil.
💕💕💕
.
***Like dan komen ya...
Udah otw BAB 100 nih, si dedek belum lahir juga ya... Tunggu bentar lagi.. ðŸ¤***
__ADS_1