Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 117


__ADS_3

"Hmm, Za..." Laras menahan tangan Virza saat mereka akan masuk ke dalam kamarnya. Tentu saja mereka juga mengambil kamar paket honeymoon. Pintu itu sudah terbuka dan nuansanya sangat romantis dengan taburan bunga mawar di lantai hingga di atas ranjang


"Apa?" Virza menghentikan langkahnya dan menatap Laras.


"Hmm, gini, sebenarnya aku gak bisa malam ini." Laras menatap Virza dengan sesekali menggigit bibir bawahnya.


"Gak papa kalau belum siap. Gak harus malam ini juga."


"Bukan itu maksudnya. Aku lagi tanggal merah, jadi gimana kalau kamar honeymoon ini kita kasih ke Arsen sama Naya aja, biar lebih bermanfaat. Nanti kalau aku udah selesai, baru kita honeymoon."


Virza tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Lalu dia mengusap puncak kepala Laras. "Ya udah, kita kembali ke ruang make up, mereka masih bersih-bersih di sana. Kalau begitu kita pesan kamar lain atau pulang saja?"


"Gimana kalau pulang saja? Nanti kita rencanakan lagi bulan madu kita."


Virza menganggukkan kepalanya lalu dia merengkuh bahu Laras dan kembali ke ruang rias.


"Loh, pengantin baru kok ke sini lagi?" tanya Arsen. Dia sedang menunggu Naya yang membersihkan make up nya sambil menggendong Arnav. "Cus, ke kamarlah langsung gas."


Tapi Laras hanya tersenyum. Untung juga kedua orang tua Arsen dan orang tuanya belum pulang. "Kita gak menginap di hotel, biar Naya sama kamu saja yang gantiin paket honeymoon nya."


Seketika Naya dan Arsen menatap Laras. "Kenapa begitu? Kita pengantin lama gak usah honeymoon."


"Iya, lagian udah ada Arnav juga," sambung Naya.


"Karena percuma juga gak bakal kita pakai kamar yang romantis itu. Karena sekarang memang masih belum bisa. Nanti kita mau ada rencana bulan madu sendiri," jelas Laras.


"Sabar bro, tunggu aja tanggal mainnya." Arsen menepuk bahu Virza.

__ADS_1


"Lo tempati aja daripada mubazir."


"Ya pengennya, tapi ada Arnav. Nanti dia kena gempa kan bahaya." Arsen menciumi pipi bulat Arnav yang baru saja bangun sambil tersenyum. "Arnav kan belum pernah gempa lokal, iya kan."


"Biar Arnav sama Mama," kata Bu Ririn. "Kalian gak usah khawatir, nikmati saja sepuasnya di hotel. Mau nambah sampai tiga hari juga gak papa." Kemudian Bu Ririn menggendong Arnav.


"Eh, tapi..."


"Gak papa, Arnav pasti gak akan rewel sama Mama. Iya kan sayang?" Bu Ririn menggoda Arnav yang langsung dibalas dengan tawa yang lucu.


"Kalian nikmati aja, daripada mubazir. Siapa tahu nanti jadi adiknya Arnav," kata Pak Aji.


Seketika Naya menautkan alisnya. Sebenarnya dia belum siap. Dia juga belum konsultasi pada Dokter untuk mencegah kehamilan. Bagaimana kalau benar-benar jadi adiknya Arnav?


"Gimana, Nay?" tanya Arsen sambil mengemasi barang-barang Arnav.


"Ya sudah, kita ambil." Akhirnya Arsen memutuskannya. Ini kesempatannya untuk berbulan madu yang kedua kalinya.


"Gitu dong. Selamat menikmati malam panjang, bro." Virza menepuk bahu Arsen lalu dia menggandeng tangan Laras dan keluar dari kamar itu.


"Arnav, jangan rewel ya sama Oma. Besok pagi Ibu sama Ayah pulang." Naya membungkukkan dirinya dan menciumi pipi Arnav.


"Ngapain cepat-cepat. Santai aja, biar kita yang jagain Arnav," kata Bu Ririn.


"Tapi Naya gak bisa ninggalin Arnav lama-lama."


"Ya udah, terserah kalian. Yang jelas kalian tidak perlu khawatir memikirkan Arnav. Biar Mama dan Papa yang jaga."

__ADS_1


"Iya, Ma. Makasih ya, Ma."


Kemudian mereka semua keluar dari kamar make up itu.


"Ger, ini semua barang-barang Arnav, masukkan mobil ya," suruh Arsen sambil memberikan dua tas pada Gery.


"Iya, Pak."


Arsen dan Naya berpisah dengan mereka. Kini mereka berdiri di depan kamar, baru juga memegang handle pintu tangan Arsen sudah tremor.


"Kenapa tangan kamu gemetar?"


"Kayaknya karena feel pengantin baru, dadaku deg-deg an banget gini." Setelah mereka masuk ke dalam kamar itu, Arsen segera menutup pintu.


"Wow," Naya takjub melihat kamar pengantin yang sangat romantis itu. Kelopak bunga mawar merah bertaburan di lantai dan membentuk love di atas ranjang serta selimut yang berbentuk dua angsa saling bercumbu. Sinar lampu juga temaram ditambah aroma harum yang menggairahkan.


"Sayang." Kemudian Arsen memeluk Naya dari belakang. "Sudah siap berpetualang dengan Arsen?"


Dada Naya semakin berdebar tak karuan. Sepertinya malam itu dia tidak akan bisa tidur semalaman. Sudah lama Arsen menahannya, pasti Arsen akan memakannya habis malam itu.


.


💕💕💕


🤣🤣🤣


.

__ADS_1


Malah Naya Arsen yang honeymoon..


__ADS_2