
"Sayang..." Arsen mengusap pipi Naya karena matahari sudah merangkak naik tapi Naya masih saja belum bangun. "Bangun udah siang."
Naya membuka matanya sambil bergeliat. "Ar, nyenyak banget tidur aku."
"Iya, udah ngalahin yang habis malam pertama aja. Padahal semalam kamu langsung tidur." Arsen mencubit kecil hidung Naya.
"Iya, kemarin rasanya aku capek banget. Sekarang rasanya masih malas ngapa-ngapain." Naya justru menarik Arsen dan memeluknya.
"Sayang aku ada jadwal meeting di kantor dua jam lagi."
"Iya, bentar. Mau peluk."
Arsen hanya tersenyum. Akhir-akhir ini Naya memang semakin manja dan dia juga sangat mudah mengantuk.
"Kira-kira Rani dan Rangga udah unboxing belum ya?" tanya Naya. Dia mendongak menatap Arsen.
"Kayaknya sih udah. Kemarin dia minta tutor dulu gimana caranya buat cewek naf su. Soalnya Rani nolak terus."
Seketika Naya melepas pelukannya. "Terus?"
"Aku bilang aja gak usah agresif. Pancing aja dengan tubuh yang menggoda pasti nanti cewek juga ingin mendekat sendiri kayak kamu dulu." Arsen mencubit kecil pipi Naya lagi.
"Ih, aku gak gitu. Aku gak tergoda sama kamu."
Arsen mendekatkan dirinya. "Benarkah?"
"Ar, aku mau tahu mereka beneran udah unboxing belum?" Naya justru semakin penasaran dan ingin tahu yang sebenarnya. Dia melepas pelukan Arsen.
"Ya mana aku tahu."
"Telepon gih." Naya menatap Arsen dengan mata berbinarnya dan memohon.
"Jangan. Nanti kita ganggu mereka. Pengantin baru kan biasanya bangun siang. Nanti aja ya kalau mau tanya. Nunggu siang baru nanti kamu telepon sendiri."
Seketika Naya cemberut dan memunggungi Arsen. Moodnya tiba-tiba tidak bagus hanya karena rasa penasarannya.
"Ya, bumil ngambek." Arsen menghela napas panjang lalu mengambil ponselnya. Dia kini mencoba menghubungi Rangga. Beberapa kali panggilan tak juga diangkat. Kemudian dia menghubungi nomor Rani tapi juga sama. "Nih, gak ada yang angkat mereka masih tidur."
Naya masih saja menekuk wajahnya. "Nay, sejak kapan kamu jadi kepo gini? Telpon nanti aja ya."
"Ya udah." Naya bangun lalu turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
Arsen hanya menghela napas panjang kemudian dia meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia keluar dari kamar untuk mengambil susu dan juga roti untuk Naya berharap mood Naya kembali bagus.
Setelah kembali ke kamar, Naya hanya memakai bathrobe nya dan mengeringkan rambut basahnya.
"Sayang, minum susu dulu terus makan roti." Arsen membantu Naya meminum susu lalu makan roti.
"Ar, tiap pagi aku jadi gak pernah urusin kamu. Kamu aja yang sibuk urusin aku. Maaf ya..."
__ADS_1
"Gak papa. Kan kamu lagi hamil harus aku istimewakan." Satu tangan Arsen kini mengusap perut Naya yang sudah semakin besar. "Tuh, tangan Ayah ditendang dari dalam. Dedek senang kalau Ayah manjain."
Naya kini tersenyum kecil. "Makasih ya."
"Sama-sama." Arsen meraih tubuh Naya dan memeluknya.
Tangan Naya diam-diam masuk ke dalam celana Arsen. Akhir-akhir ini dia sangat suka memainkannya.
"Ah, sayang. Kok aku dipancing gini? Mau main bola?"
Naya menggelengkan kepalanya. "Nggak, nanti aku ketiduran lagi kalau main. Tapi aku pengen ini." Naya mendorong Arsen agar duduk di tepi ranjang lalu dia keluarkan milik Arsen yang telah tegang.
"Ah, sayang..."
...***...
Mendengar ponselnya berbunyi, Rangga membuka matanya. Dia meraih ponselnya dan menatap nama yang tertera di ponselnya tapi saat dia akan mengangkatnya panggilan itu berakhir. "Ngapain Arsen telepon aku? Udahlah biarin aja." Rangga meletakkan kembali ponselnya di atas nakas lalu dia memeluk Rani yang masih tertidur dengan nyenyak.
"Ngga..." Saking eratnya pelukan Rangga, dada Rani terasa sesak. Dia mendorong Rangga agar melepas pelukannya. "Gak bisa napas nih."
Rangga merenggangkan pelukannya lalu menatap Rani yang mulai membuka matanya. "Pagi..."
Rani mengusap wajahnya karena matanya rasanya masih sangat lengket. Dia kini menatap Rangga, beberapa detik kemudian dia menutup wajahnya karena merasa malu.
"Kenapa?" Rangga menarik tangan Rani. Dia mencium pipi Rani yang bersemu merah itu.
"Malu."
Rani menggelengkan kepalanya. "Nggak, itu sakit."
"Bener-bener gak ada enak-enaknya?" Rani hanya tersenyum karena setelahnya dia terasa dibawa terbang melayang oleh Rangga.
Rangga mendekatkan dirinya dan mencium bibir itu. Dia semakin menindih tubuh Rani, dengan tangan yang sudah menyentuh dan memberi stimulasi pada area sensitif Rani.
"Ngga, aku capek." Rani mendorong kepala Rangga yang telah turun ke ceruk lehernya.
Rangga akhirnya menegakkan dirinya dan menatap Rani. "Ya udah kita mandi dulu yuk, biar enakan berendam air hangat."
Rangga membuka selimutnya. Dia tersenyum menatap tubuh Rani dengan beberapa tanda merah darinya.
"Ngga, kamu buas juga." Perlahan Rani duduk dan melihat dirinya sendiri. "Ini pengalaman pertama kamu kan?"
Rangga menganggukkan kepalanya. "Aku belum fasih melakukannya."
"Belum fasih tapi udah buat badan aku kayak rontok semua."
"Baru juga sekali." Rangga meraih tubuh Rani dan menggendongnya.
"Ngga, itu ada bercak-bercak di ranjang."
__ADS_1
"Gak papa. Nanti biar dibersihkan sama pihak hotel selama kita makan di restoran." Kemudian Rangga membawa tubuh Rani masuk ke dalam kamar mandi.
"Ih, malu, Ngga. Ada bekasnya itu."
"Iya, malam pertama untuk orang yang pertama memang gitu. Apa mau kamu cuci di rumah aja spreinya?" goda Rangga sambil menurunkan Rani di atas bathub.
"Rangga!" Rani mencubit perut Rangga.
Rangga menghidupkan kran air hangat lalu menuang sabun. "Kamu mau berapa hari di sini?"
"Sehari aja. Besok aku mau kuliah."
"Ngapain buru-buru. Seminggu lagi yuk di sini." Setelah air hampir penuh, Rangga mematikan kran air lalu ikut masuk ke dalam bathub.
"Seminggu lagi? Aku besok ada present test."
"Ya udah, nanti libur kuliah kita honeymoon ya?" Rangga meraih tubuh Rani dari belakang. Kedua tangannya menyabun dada Rani.
"Honeymoon. Duh, malas ah."
"Kenapa?" Rangga menyandarkan dagunya di bahu Rani. "Gak mau romantisan sama aku?"
Rani kini bersandar di dada Rangga. "Kita bisa romantisan di rumah kan? Gak perlu capek-capek melakukan perjalanan jauh."
"Oke, langsung tancap gas."
Rani hanya tertawa. "Nanti tinggal dimana? Di rumah aku atau di rumah kamu?"
"Dimana aja, asal sama kamu." Lalu Rangga mengendus leher Rani.
"Ih, gombal terus ya sekarang."
"Iya, nanti tinggal di apartemen aku aja ya. Kita tinggal berdua. Di rumah aku sering dibuat Papa meeting. Kalau di rumah kamu ada adik kamu juga kan. Orang tua kita juga gak sendiri, banyak saudara yang sering ke rumah. Jadi kita tinggal di apartemen untuk sementara sambil cari rumah yang tepat untuk keluarga kecil kita."
Rani menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menoleh Rangga dan mencium bibirnya, saat Rani akan melepas ciumannya Rangga justru menahan tengkuk lehernya. Dia semakin mencium bibir Rani dengan liar. Tangannya sudah menjelajah setiap titik sensitif Rani yang berada di dalam air.
"Satu kali lagi ya, sebelum kita sarapan." Rangga menempelkan dahinya di dahi Rani, lalu dia menuntun tangan Rani menyentuh miliknya yang telah menegang. "Sejak pertama bertemu kamu belum nyentuh."
"Ih, lihat aja belum. Langsung kamu masukin."
"Iyakah? Ayo kamu lihat dulu." Rangga tertawa lalu berdiri.
Rani semakin tertawa. Dia menyiram Rangga dengan air sabun. "Gak tahu malu."
"Dulu iya malu, tapi sekarang udah gak ada kata malu." Rangga meraih tangan Rani dan membantunya berdiri. Lalu dia menghidupkan shower dan membasuh tubuh mereka.
Tiba-tiba saja Rangga mendorong tubuh Rani hingga bersandar di tembok.
"Ngga, aku gak bisa gini."
__ADS_1
"Kita coba saja."
Suara dari shower akhirnya kalah dengan suara de sah dari sepasang pengantin baru yang sedang di mabuk cinta.