Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 120


__ADS_3

"Ran, kuliah gak?" Rangga membangunkan Rani karena hari sudah hampir siang tapi Rani masih saja tidur dan bergelung dengan selimut.


Rani kini membuka matanya. "Libur sehari boleh gak? Pagi ini rasanya kepala aku pusing."


"Kamu sakit?" Rangga mengecek suhu di kening Rani lalu di tengkuk lehernya. "Tapi kamu gak demam."


"Cuma pusing aja." Perlahan Rani bangun dan duduk di tepi ranjang. "Hmm, Ngga, kayaknya aku udah telat hampir dua minggu. Kali ini jadi gak ya?"


Rangga merengkuh bahu Rani dan mengusap lengannya. "Kamu mau tes?"


"Udah beberapa bulan aku selalu tes dan hasilnya negatif, aku jadi takut."


"Udah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti kamu jadi sakit gini. Ayo, mandi dulu biar segar terus sarapan. Udah aku siapin sarapan spesial buat kamu." Rangga menarik tangan Rani agar berdiri.


"Ngga, aku pengen ayam bakar madu, menu baru di resto kamu." Rani justru bergelayut manja di lengan Rangga.


"Aku udah buatin nasi goreng seafood."


"Aku maunya itu."


"Belum ada jam segini di resto."


"Ayolah, Ngga." Tiba-tiba saja Rani sangat manja pada Rangga.


"Ya udah, kamu mandi dulu terus ke resto. Aku suruh Amar buat dulu untuk kamu."


"Makasih." Rani mencium pipi Rangga lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.


"Apa jangan-jangan kali ini berhasil," gumam Rangga. Dia segera mengambil tespek yang masih baru di dalam laci lalu membuka pintu kamar mandi.


"Ada apa?" Rani masih berdiri di depan washtafel setelah sikat gigi. Dia terkejut melihat Rangga yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi.


"Kamu sudah buang air? Kamu cek sekalian ya." Rangga memberikan alat tes itu pada Rani.


"Tapi aku takut, gimana kalau hasilnya negatif lagi?" Rani menerima tespek itu dengan ragu.


Rangga justru mengusap puncak kepala Rani lalu mencium keningnya. "Gak papa. Aku punya firasat baik kali ini."

__ADS_1


Rani akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia menutup pintu itu kembali setelah Rangga keluar.


Rangga menunggu hasilnya dengan harap-harap cemas. Setelah menghubungi chef yang bekerja di restonya untuk membuatkan ayam bakar keinginan Rani, dia kini membereskan tempat tidur terlebih dahulu. Sampai tempat tidurnya rapi, Rani belum juga keluar dari kamar mandi.


Rangga akhirnya mengetuk pintu kamar mandi itu. "Ran, kok lama? Gak papa kalau hasilnya negatif. Kita coba lagi ya."


Beberapa saat kemudian Rani membuka pintu kamar mandi itu. Dia hanya terdiam sambil menggenggam alat tes kehamilannya.


"Udah, gak papa kalau hasilnya negatif. Jangan sedih." Rangga meraih tubuh Rani dan memeluknya. Dia usap punggung Rani untuk menenangkannya.


"Siapa bilang hasilnya negatif."


"Terus?" Rangga melepas pelukannya dan menatap Rani.


Rani tersenyum lebar menunjukkan alat tes kehamilan itu. "Positif."


"Beneran?" Seketika Rangga mengambil alat tes itu dan memastikannya sendiri. Ada tanda positif yang terlihat jelas.


Rangga kembali memeluk Rani dan mencium kedua pipinya. "Selamat, akhirnya kita akan menjadi orang tua. Makasih sayang. Aku sangat bahagia."


"Kamu sekarang mau apa? Jadi sarapan ayam bakar? Sekarang kita langsung ke resto, lalu periksa ke Dokter, untuk hari ini tidak usah kuliah dulu." Rangga mendudukkan Rani di depan meja rias lalu dia membantu Rani menyisir rambutnya.


"Iya, tapi nanti suapin ya," pinta Rani. Rasanya dia sangat ingin dimanja Rangga.


"Iya, apapun yang kamu minta pasti akan aku turuti." Setelah selesai menyisir rambutnya, dia membungkukkan dirinya dan memeluk Rani dari belakang. Kedua tangannya kini mengusap perut Rani. "Makasih sudah hadir di antara kita."


...***...


Naya tersenyum bahagia mendengar kabar baik itu dari Rani lewat panggilan videonya.


"Selamat ya, akhirnya kalian akan jadi orang tua. Pantas kemarin pulang duluan setelah acara selesai. Aku ikut senang banget dengernya. Kamu udah periksa?"


"Sudah, baru saja periksa. Lihat nih hasilnya." Rani menunjukkan hasil USG itu pada Naya.


"Aku ikut seneng. Sekali lagi selamat ya."


"Iya, makasih ya. Arnav mana?"

__ADS_1


"Arnav di rumah. Ini aku masih di hotel, sebentar lagi check out."


"Kok malah kalian berdua yang di hotel? Bulan madu lagi?"


"Iya dong. Otw dedeknya Arnav," sahut Arsen setelah membereskan tas Naya.


Rani tertawa dengan keras. "Gak papa kalau jadi biar seumuran sama anak kita. Udah ya, nanti kalau sempat aku ke rumah kamu."


"Iya." Setelah itu panggilan video pun berakhir.


Kemudian Naya berdiri dan memakai tasnya. "Akhirnya mereka akan segera mempunyai buah hati. Pasti mereka sekarang senang banget."


"Iya, pasti. Aku aja seneng kalau memang jadi adiknya Arnav."


"Ih!" Naya mencubit pinggang Arsen.


"Puas banget dari semalam sampai pagi ini." Arsen menggandeng tangan Naya dengan mesra setelah keluar dari kamar hotel. "Nanti di rumah tinggal main saja sama Arnav. Terus malamnya main lagi sama Ibunya Arnav," bisik Arsen di telinga Naya.


"Ih, capek. Badan aku pegel semua. Kaki aku juga nih."


Arsen hanya tersenyum kecil. "Ya udah nanti aku panggilkan tukang pijat. Semoga saja Shena cepat hadir di antara kita. Aku rela ngalamin morning sickness kayak dulu lagi."


"Beneran loh ya. Ucapan adalah do'a."


"Amin."


Naya semakin tertawa. Ya, semoga saja setelah ini tidak ada lagi masalah yang menimpa keluarga kecil mereka.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...


.


Masih ada yang baca?

__ADS_1


__ADS_2