
Seketika Naya tersenyum dan menatap Arsen dengan mata berbinarnya. "Keluarga kita?"
Arsen menganggukkan kepalanya lalu dia menegakkan dirinya dan berpindah duduk di atas brankar. Satu tangannya kini mengusap rambut Naya. "Iya, perjalanan kita memang masih panjang. Kita tidak tahu masalah apa yang akan kita hadapi nanti. Bisa saja masalah besar atau masalah kecil. Tapi apapun masalah kita nantu, kita harus berusaha untuk tetap bersama dan saling percaya."
"Dari kejadian ini, aku jadi takut Ar. Suatu saat nanti saat kamu sudah bosan dengan aku, kamu gak akan cari wanita lain kan?" Naya mendongak menatap Arsen.
Seketika Arsen tertawa lalu dia mengecup singkat kening Naya. "Jangan overthinking dulu. Kamu mikir terlalu kejauhan. Lagian aku nyobain sama kamu aja belum."
"Nyobain sama aku?" Naya menarik lengan Arsen agar mendekat. "Sebelum sama aku, kamu udah sering one night stand?"
Arsen terdiam beberapa saat. Tak bisa dia pingkiri, dia memang sudah beberapa kali melakukannya.
"Ar, jujur sama aku gak papa."
Arsen semakin beringsut dan memiringkan dirinya di samping Naya. "Iya, jujur aku memang cowok nakal. Aku memang udah beberapa kali one night stand dengan wanita bayaran di klub dan aku sekarang juga nyesel, mengapa aku gak bisa sedikit bersabar agar aku bisa melakukannya dengan yang halal tanpa berbuat dosa, padahal jodoh aku udah deket banget."
Naya hanya terdiam. Dia memang sudah tahu siapa Arsen dan bagaimana kehidupannya.
"Tapi kamu tenang aja. Aku udah berubah. Aku gak akan lagi melakukan itu semua."
Naya masih saja terdiam.
"Nay, tuh kan. Jangan sedih lagi." Arsen kini memeluk Naya. "Udah ya, gak usah bahas-bahas yang menyakiti perasaan kamu lagi."
"Iya, gak usah bahas tentang ini lagi. Mulai sekarang kita beneran jadi keluarga yang sebenarnya ya."
"Iya." Kemudian Arsen mencium dalam puncak kepala Naya. "Tinggal malam pertama aja."
"Ih," Naya kini menyembunyikan wajahnya di dada Arsen. "Aku mau tidur di pelukan kamu gini, Ar." Naya kini memejamkan matanya. Dia hirup dalam aroma tubuh Arsen beberapa kali. Memang yang paling nyaman adalah tidur dalam dekapan Arsen.
"Ya udah kamu tidur saja. Tapi nanti aku turun kalau ada suster yang masuk."
Naya suda tak menyahuti perkataan Arsen. Dia sudah terlelap dalam dekapan Arsen.
Arsen terus mengusap rambut Naya agar tidur Naya semakin nyenyak.
Aku janji akan selalu berusaha menjadi yang terbaik buat kamu, Nay.
Lama-kelamaan Arsen juga tertidur. Mereka berdua kini tertidur dengan nyenyak. Sampai saat suster datang mengantar makanan untuk Naya, Arsen terbangun.
"Maaf ya Pak, tidak boleh tidur di brangkar pasien." kata suster itu.
__ADS_1
Perlahan Arsen melepas tangan Naya lalu turun dari brankar.
"Jangan lupa obatnya diminum setelah makan." kata suster itu lagi sambil meletakkan senampan makanan di atas nakas yang sudah lengkap dengan air mineral dan obat.
"Iya sus. Terima kasih."
Setelah suster keluar, Arsen kembali duduk di kursi. Dia kini menyentuh kening Naya yang sudah tidak sepanas tadi. Dia tidak tega membangunkan Naya yang sedang tidur dengan pulas.
"Mandi dulu aja. Nanti baru aku bangunin Naya. Untung hari ini hari Minggu." kata Arsen sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai membasuh diri. Dia kini melihat ponselnya dan memberi kabar pada Papanya karena Papanya sudah beberapa kali menghubunginya.
Kemudian dia mendekati Naya dan menyentuh pipinya dengan tangannya yang dingin. "Nay, makan dulu."
Naya membuka matanya sambil menjauhkan pipinya. "Tangan kamu dingin banget."
"Iya, habis mandi."
"Aku mau ke kamar mandi dulu."
"Iya, aku bantu." Arsen membantu Naya duduk lalu memapahnya turun dari brankar dan berjalan ke kamar mandi.
"Tapi kamu tunggu diluar."
"Iya. Jangan lihat."
Arsen mencubit pipi Naya. "Lihat aja nanti, gak akan ada lagi rasa malu di antara kita."
"Ih, tunggu sini." Naya menyeret tiang infusnya sendiri masuk ke dalam kamar mandi.
Arsen hanya menunggunya di dekat pintu. "Nay, udah?"
Beberapa saat kemudian Naya keluar dari kamar mandi. Arsen kembali memapahnya dan naik ke brankar.
"Aku suapi, kamu makan dulu." Arsen mengambil makanan dan mulai menyuapi Naya.
"Kamu sudah makan?"
"Gampang, bentar lagi aku beli makanan diluar. Yang penting kamu makan lalu minum obat biar cepat sembuh." Arsen kini mulai menyuapi Naya.
"Iya, kayak udah lama banget aku sakit. Kapan ya boleh pulang dari rumah sakit?" Setelah menelan makanannya baru Naya bersuara.
__ADS_1
"Kalau kondisi kamu cepat membaik ya kamu cepat pulang. Makanya makan yang banyak dan minum obat. Kamu mau buah apa? Biar nanti sekalian aku belikan."
"Buah apa aja." Naya menerima suapan dari Arsen lagi.
"Oke."
Arsen tersenyum saat melihat Naya sudah bisa makan dengan lahap lagi. Semangkok bubur itu kini telah habis. Dia membantu Naya minum obat lalu air putih.
"Besok kalau aku sekolah kamu dijaga sama Bibi ya."
"Bibi?"
"Iya, Bibi Nur. Bibi yang sudah menjaga aku sejak kecil sampai sekarang masih kerja di rumah Papa. Bibi baik banget. Aku gak tega kalau harus ninggalin kamu sendiri di sini."
Naya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Penawar obatnya mana?"
Arsen terkekeh. Ternyata Naya juga sudah kecanduan dengan bibirnya. Tentu saja Arsen akan melakukannya dengan senang hati. Dia mendekatkan dirinya lalu memagut bibir Naya dengan lembut. Tak hanya sesaat, tapi kali ini Arsen menambah durasinya cukup lama sampai napas mereka sama-sama sesak.
"Udah aku charge lama, cepat sembuh."
Naya mengigit bibir bawahnya yang terasa menebal karena hisapan Arsen. Mereka masih saja saling bertatapan lekat hingga tatapan itu dibuyarkan oleh suara lapar dari perut Arsen.
Arsen tersenyum sambil mengusap perutnya sendiri. "Aku udah lapar, aku beli makanan dulu ya."
Arsen kini berdiri tapi baru saja membuka pintu Bibi Nur datang dan membawa makanan. "Saya disuruh Tuan Tama ke sini. Bawa makanan dan juga baju ganti."
"Iya kebetulan banget aku udah lapar."
Kemudian Bibi Nur membuka makanan yang dia bawa di atas meja. "Ini juga ada makanan buat istrinya Den Arsen. Bagus untuk penderita DBD agar trombosit cepat naik."
"Iya, kasih saja Bi, gak papa. Panggil aja Naya." Arsen duduk dan langsung menyantap makanannya karena perutnya sudah sangat lapar.
Bibi Nur kini berkenalan dengan Naya dan membantu Naya mencicipi yang dia bawa.
"Bibi sebentar lagi pulang saja ya. Besok pagi saja ke sini untuk jaga Naya," kata Arsen.
"Beres. Bibi ngerti pasti mau berduaan sama Non Naya."
Arsen hanya tersenyum, karena dia memang ingin merawat Naya seharian full.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...