
"Arnav, Ibu kangen banget..." Sampainya di rumah Naya langsung menggendong Arnav dan menciumi pipi bulat itu.
"Kok kalian udah pulang? Kan Mama suruh menginap lagi sampai tiga hari," kata Bu Ririn.
Naya hanya tersenyum. Sampai tiga hari? Baru semalam saja dia sudah digempur habis-habisan oleh Arsen. Bagaimana kalau sampai tiga hari?
"Udah kangen Arnav makanya kita cepat pulang," sahut Arsen. Dia kini membawa barang Naya masuk ke dalam kamar.
"Rupanya sukses ya." Bu Ririn tersenyum saat melihat tanda merah di leher Arsen.
Naya hanya tersenyum kaku. Lalu dia membawa Arnav masuk ke dalam kamarnya. "Ar, tutupin tanda merah kamu di leher tuh. Malu dilihat Mama."
"Tutupin pakai apa? Ya udahlah gak papa. Kan kamu yang buat. Aku malah seneng." Lalu Arsen mencium pipi Naya. Dia kini mengambil Arnav dan menurunkannya di atas ranjang.
Seketika Arnav memiringkan tubuhnya dan tengkurap sambil tertawa.
"Yee, Arnav makin pintar tengkurapnya." Arsen menirukan gaya Arnav terngkurap di sampingnya. "Kalau Arnav punya dedek, Arnav mau ya. Arnav tenang aja, Arnav tetap jadi yang nomor satu. Ibu sama Ayah gak akan beda-bedain."
"Mas, ngomong apa? Dedek-dedek terus." Naya menindih Arsen di punggungnya. "Arnav masih kecil masih butuh kasih sayang."
"Meskipun nanti punya adik juga masih dapat kasih sayang."
"Terus aku gak lanjut kuliah?" Naya kini memeluk Arsen dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Arsen.
"Ya tetap lanjut."
Naya semakin memberatkan dirinya di punggung Arsen.
__ADS_1
"Sayang berat, aku gak bisa napas."
Naya akhirnya turun dari tubuh Arsen dan merebahkan dirinya di samping Arnav.
"Arnav, Ibu manja banget ya."
Naya hanya memutar bola matanya, kemudian dia mengambil guling dan memeluknya. Dia kini sudah tertidur dengan cepat.
"Ya, Ibu udah tidur. Sini main sama Ayah. Di luar saja ya, biarkn Ibu tidur dulu." Kemudian Arsen menggendong putranya dan keluar dari kamar. Dia kini duduk di ruang tamu sambil mengajak Arnav berceloteh dan bermain.
"Kirain masih di hotel. Kita ke sini mau jagain Arnav." kata Virza yang baru saja datang dengan Laras.
"Semalam udah lebih dari cukup," jawab Arsen.
Virza kini duduk di sebelah Arsen. Dia tertawa melihat tanda merah di leher Arsen. "Bekas gigitannya sampai merah gitu. Sama-sama ganas."
Laras meraih Arnav dan menggendongnya. "Naya dimana?"
"Lagi tidur."
"Njir, lo hajar berapa kali sampai kelelahan gitu."
"Gak ada hitungannya, pokoknya mantap semalam suntuk. Thanks, bro. Berasa malam pertama untuk kedua kalinya." kata Arsen sambil menepuk bahu Virza.
Virza hanya mencibir. Enak di Arsen, tidak enak di dirinya. "Sebagai gantinya lo sekarang ikut gue ke rumah. Bantu bersih-bersih karena mau gue tempati."
"Suruh karyawan lo. Ngapain ajak gue. Gue capek," tolak Arsen. Dia kini bersandar di sofa.
__ADS_1
"Karyawan gue lagi sibuk banyak kerjaan di bengkel. Iya kalau lo punya anak buah banyak."
Arsen akhirnya berdiri. "Ya udahlah. Kak titip Arnav ya. Nanti kalau Naya bangun bilang aja lagi sama Virza."
"Oke. Beres. Tante Ririn dimana?"
"Di dapur lagi masak." kata Arsen sambil berlalu. Baru keluar dari rumahnya, Rangga dan Rani juga datang. Memang sejak ada Arnav, rumah Arsen menjadi tempat persinggahan mereka semua.
"Mau kemana?" tanya Rangga.
"Mau ke rumah Virza. Ikut yuk! Biar Rani di rumah aja. Ada Kak Laras juga."
"Ya udah, kamu ikut aja gak papa. Aku mau main sama Arnav dulu." kata Rani.
"Oiya, sampai lupa mau ucapin selamat. Selamat brother udah otw jadi bapak." Arsen bersalaman dengan Rangga sambil menepuk punggungnya.
"Thanks bro."
"Loh, udah berhasil. Selamat. Nanti gue otw nyusul." kata Virza. Dia juga bersalaman dengan Rangga.
Rani hanya tersenyum melihat keakuran mereka bertiga, sahabat satu geng yang akhirnya menjadi saudara itu. Kemudian dia masuk ke dalam rumah dan membiarkan ketiga papa muda itu menyelesaikan urusan mereka.
"Jadi bulan madu kemana?" Mereka masih mengobrol sambil berjalan menuju mobil Arsen.
"Ke puncak. Lusa gue berangkat."
"Enak banget adem-adem di sana. Jadi pengen ke sana juga," kata Arsen sambil membuka mobilnya. "Pakai mobil gue aja sekalian."
__ADS_1
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan masih melanjutkan obrolan mereka.