Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 107


__ADS_3

Naya dan Rani kini turun dari mobil. Kemudian mereka berdua berjalan menuju area balapan. Banyak anak-anak geng motor yang berkumpul di sana.


"Nay, ramai banget. Kita tunggu di sini aja ya," kata Rani tapi Naya semakin penasaran dan ingin mendekat.


"Aku mau lihat Arsen udah mulai balapan belum? Aku gak mau Arsen kenapa-napa Ran."


"Iya, aku tahu tapi perut kamu besar gini. Udah jangan." Rani menahan tangan Naya yang akan berjalan mendekat.


"Rani, Naya. Kenapa kalian ada di sini?" tanya Virza. Dia menghampiri Rani dan Naya.


"Arsen dimana Kak?" tanya Naya.


"Arsen, di... Dia udah mulai balapan."


Seketika Naya melepas tangan Rani. Dia sangat khawatir dengan Arsen sampai dia melupakan kondisi dirinya sendiri. Dia kini bisa melihat Arsen yang sedang melajukan motornya dengan kencang dan beberapa kali mendapat tendangan dari Bara.


"Arsen!" Naya semakin khawatir dengan Arsen. Tiba-tiba ada yang menarik tangan Naya hingga ke tengah sirkuit.


"Lepasin Naya!" Virza berusaha melepas tangan anak buah Bara tapi mereka justru mengeroyok Virza. "Rani, kamu menepi!"


"Tapi Naya!" Rani berusaha menolong tapi dia didorong menjauh. "Naya!"


"Nyonya Naya!" Gery datang bersama anak buah Rangga tapi Naya sudah berada di tengah sirkuit saat Arsen dan lainnya hampir sampai di garis finish.


"Naya!" Seketika Arsen menghentikan motornya dan banting stir hingga dia jatuh dari motornya. Dia tidak peduli dengan kakinya yang sakit karena tertindih motor. Dia langsung berdiri dan menghampiri Naya yang duduk sambil menutup telinganya di tengah sirkuit.


"Naya kenapa kamu ada di sini?" Arsen melindungi kepala Naya saat Bara dan Roni melintas di dekat mereka berdua.

__ADS_1


"Aku takut kamu kenapa-napa. Kata Roni kamu dicelakai sama Bara."


Arsen mengepalkan tangannya. "Gery, kenapa kamu gak jemput Naya!" bentak Arsen pada Gery yang kini berdiri di dekat Arsen.


"Maaf Pak, tadi saya sudah sampai di mall tapi Nyonya Naya sudah masuk ke dalam mobil grab jadi saya mengikutinya sampai sini dan ternyata kita diserang."


Arsen semakin mendekap tubuh Naya yang bergetar karena ketakutan.


"Roy, tahan mereka. Jangan biarkan mereka kabur!" perintah Rangga. Dia juga menahan Roni yang akan kabur.


Ingin Arsen menghajar mereka satu per satu tapi Naya menggenggam lengannya dengan erat. "Maaf, aku ke sini. Harusnya aku gak ke sini. Aku cuma khawatir sama kamu."


Arsen membuang napas kasar. "Ya udah, ayo kita pulang." Arsen membantu Naya berdiri tapi Naya memegang perutnya yang semakin terasa mulas. "Nay, kenapa?"


"Perut aku mulas, Ar."


"Iya, Tuan." Gery segera berlari menuju mobilnya dan membukakan pintu untuk Arsen dan Naya.


Setelah mereka semua masuk, mobil itu segera menuju rumah sakit.


"Sayang, masih sakit?" Arsen mengusap perut Naya yang terasa mengencang.


Naya menganggukkan kepalanya. "Iya, mulas sekali." Naya semakin mencengkeram lengan Arsen dengan kuat. Rasa mulas itu semakin menjadi.


"Ger, cepat!" Arsen semakin khawatir dengan kondisi Naya. Dia sudah diwanti-wanti agar Naya tidak melahirkan secara normal.


"Ar, sakit." Naya semakin mencengkeram lengan Arsen saat terasa dorongan dari dalam yang dibarengi suara letusan kecil. Seketika air ketuban itu merembes di antara kedua kakinya.

__ADS_1


"Astaga, Nay." Arsen semakin mendekap tubuh Naya. "Tahan sebentar, kita akan sampai di rumah sakit."


"Aduh, Ar. Rasanya udah mau keluar."


Arsen semakin menggenggam tangan Naya. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Naya dan buah hatinya.


Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di depan rumah sakit. Arsen segera membawa Naya masuk ke dalam IGD.


"Dok, sepertinya istri saya mau melahirkan tapi istri saya disarankan untuk operasi sesar."


"Baik sebentar, saya panggilkan Dokter Sinta. Langsung dibawa saja ke ruang bersalin."


Naya terus menggenggam tangan Arsen saat tubuhnya didorong di atas brankar.


"Ar." Napas Naya sudah tidak berturan karena dia sudah ingin mengejan secara otomatis.


"Iya, sayang. Aku di sini."


Mereka kini masuk ke dalam ruang beraalin. Dokter Sinta segera memeriksa pembukaam Naya. "Persalinan spontan. Pembukaannya sudah lengkap dan ubun-ubun juga sudah terlihat. Kita tidak bisa melakukan operasi karena bayi sudah berada di jalan lahir."


"Tapi bagaimana dengan kondisi mata istri saya, Dok?" Arsen semakin khawatir. Dia sangat takut kelahiran normal itu akan beresiko pada Naya.


.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen guys. Kepala othor lagi pusing nih... 🤯


__ADS_2