
Setelah acara selesai, sepasang pengantin baru itu menginap di hotel yang lengkap dengan paket honeymoon.
Baru memasuki kamar yang bertabur bunga saja Rani sudah bergidik ngeri. "Ih, bisa gak aku pesan kamar sendiri aja. Kamu sendiri aja ya yang tidur di sini."
Tapi Rangga justru menutup pintu kamar itu dan tersenyum menatap Rani. "Kamu kan sudah menjadi istri aku." Rangga semakin menatap Rani. Dia sudah berganti pakaian bahkan riasannya juga sudah bersih dibantu oleh MUA.
"I-iya. Tapi aku... Ih, malu."
Rangga menarik tubuh Rani dan memeluknya. "Memang tidak mudah mengubah status ini, bahkan aku juga masih tidak menyangka, mulai sekarang kamu sudah jadi istri aku. Tapi kita biasakan dengan status baru kita ini ya. Kita sama-sama belajar bagaimana menjadi suami istri yang sebenarnya."
Rani hanya terpaku menatap Rangga.
Tangan Rangga menyentuh dagu Rani agar Rani mendongak. Perlahan dia mendekatkan bibirnya tapi Rani menahan Rangga.
"Hmm, aku mau mandi dulu." Rani melepas tangan Rangga lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
Rangga hanya menggaruk rambutnya. Sebenarnya apa yang dirasakan Rani sama dengan apa yang dia rasakan. Bagaimana juga cara mengawalinya?
Dia duduk di tepi ranjang dan mengambil ponselnya. Mungkin Arsen punya solusi yang terbaik. Dia kini menghubungi Arsen sambil sesekali melirik kamar mandi yang masih tertutup.
Beberapa saat kemudian Arsen mengangkat panggilan Rangga.
"Kenapa, bro? Malam pertama kok malah telepon gue?"
"Ar, gue bingung. Rani masih malu aja sama gue."
"Lo jangan terburu-buru. Cewek emang gitu, malu-malu mau. Lo udah mandi belum?"
"Belum."
"Goda dengan tubuh lo. Tapi lo diemin aja, jangan terlalu agresif nanti dia juga deketin lo sendiri." Terdengar tawa Arsen diujung sana. "Dasar perjaka ting ting, buat cewek naf su aja gak tahu."
"Ini kasus beda, masalahnya Rani sahabat gue dari kecil. Udah biasa sentuhan tanpa naf su. Ya udah, nanti gue coba saran dari lo." Kemudian Rangga mematikan panggilannya.
__ADS_1
Dia kini melihat Rani yang sudah keluar dari kamar mandi.
Oke, ingat, gak boleh agresif.
Rangga hanya menatap Rani lalu dia berlenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Rani kini duduk di tepi ranjang. Dia menatap bunga-bunga yang bertabur di atas ranjang, ditambah bau ruangan itu sangat harum. Apakah kamar itu akan menjadi saksi dirinya dan Rangga menyatu? Rani masih saja belum bisa membayangkannya.
Beberapa saat kemudian Rangga keluar dari kamar mandi dan hanya memakai lilitan handuk di bawah perutnya.
Seketika Rani menundukkan pandangannya. Dia memang sudah beberapa kali melihat dada Rangga tanpa baju tapi kali ini rasanya berbeda.
"Kalau kamu mau tidur gak papa, pasti kamu capek kan hari ini."
Rani kini menatap Rangga. Apakah Rangga marah padanya karena dia tadi menolak ciuman Rangga dan sekarang menyuruhnya tidur. "Iya, sebentar lagi."
Rani terus menatap tubuh atletis Rangga dengan kulit eksotis yang menggoda. Kemudian pandangannya turun ke bawah dan menatap lilitan handuk itu.
Rani kini naik ke atas ranjang. Ujung matanya masih saja melirik Rangga yang kini memakai piyama kimononya. Piyama yang sama dengannya yang sudah disiapkan oleh pihak hotel.
Kemudian Rangga naik ke atas ranjang tanpa bicara apapun.
Rani semakin gelisah. Rasanya dia menyesal telah menolak Rangga tadi. Sepertinya Rangga beneran marah padanya. Rani memutar tubuhnya dan menatap Rangga.
"Ada apa? Kamu tidur saja kalau capek."
"Kamu marah sama aku?" tanya Rani.
Rangga menggelengkan kepalanya. "Nggak. Ya kan kita bisa lakuin besok-besok. Masih banyak hari esok."
Rani mendekatkan dirinya lalu memasukkan tangannya ke dalam piyama Rangga karena dia ingin menyentuh dada Rangga yang sedikit terlihat itu.
Rangga tersenyum kecil dalam hatinya. Ampuh juga solusi dari Arsen.
__ADS_1
"Ngga, aku memang belum bisa jadi istri yang baik. Tapi aku akan berusaha. Bagaimana pun juga status kita udah berubah. Meskipun kadang aku bicara kasar sama kamu, maklumin ya. Kita kan memang udah biasa kayak gitu."
Rangga tersenyum kecil lalu menarik tubuh Rani agar semakin dekat. "Aku gak marah. Ya, aku juga gak bisa maksa kamu. Aku akan turuti apapun mau kamu."
"Dari dulu kamu selalu menuruti keinginan aku, terus aku kapan menuruti keinginan kamu?" Tiba-tiba saja Rani mendekat dan melabuhkan ciumannya di bibir Rangga.
Rangga semakin memeluk Rani dengan erat bahkan dia kini menahan tengkuk leher Rani saat Rani akan melepas ciumannya. Dia mulai memagut lembut bibir Rani. Menelusup masuk ke dalam rongga mulut dan saling menggelitik dengan indera pengecap. Rangga sesekali menyesap bibir tipis itu.
Rani memejamkan kedua matanya menikmati ciuman itu. Bahkan tubuh Rangga kini sudah setengah menindihnya. Suara decapan terdengar memenuhi kamar romantis itu dengan deru napas yang sudah sama-sama berat.
Satu tangan Rangga menarik piyama kimono Rani hingga bahu yang seputih susu itu terekspos. Perlahan ciuman Rangga turun ke leher Rani dan mengecupnya berulang. Sesekali dia hisap dan gigit kecil yang membuat Rani melenguh.
Bibir Rangga terus menjelajah leher Rani lalu berhenti di bahu Rani dan menyesapinya.
Kedua tangan Rangga kini melepas tali kimono Rani tapi tangan Rangga sempat ditahan Rani.
"Masih belum siap?" tanya Rangga. Dia menatap sayu Rani. Wajahnya sudah memerah dan sangat mendambakan tubuh Rani.
Rani hanya menatap kedua netra Rangga. Sedetik kemudian dia sendiri yang membuka piyamanya.
Rangga tercekat menatap tubuh indah sahabatnya yang sekarang menjadi istrinya itu.
"Ngga, malu jangan dilihat gitu, ih." Rani kembali menutup piyamanya.
Rangga hanya tersenyum. Dia kembali melabuhkan ciumannya di bibir Rani, satu tangannya menelusup dan menyentuh tubuh Rani yang sudah tidak tertutup piyama dengan sempurna.
Kemudian dia berbisik di telinga Rani. "Aku gak akan melewatkan malam ini."
💕💕💕
.
ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1