Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 59


__ADS_3

"Aku mau tanya sama Mama, tolong jawab dengan jujur. Sebenarnya Mama hidup di luar negeri ada kepentingan apa?"


Bu Ririn hanya menatap Arsen. Apa Arsen mendengar obrolannya dengan Naya barusan?


"Apa kamu mendengar cerita Mama sama Naya barusan?" tanya Bu Ririn.


Arsen menganggukkan kepalanya. "Kenapa Mama gak cerita sama aku? Kalau Naya tidak bertanya masalah Mama, apa seumur hidup Mama akan merahasiakan ini dari aku dan membiarkan aku salah paham dengan Mama?"


Bu Ririn menggelengkan kepalanya. "Mama tidak bermaksud seperti itu. Mama hanya tidak ingin kamu khawatir. Mama memang ingin cerita masalah ini setelah Mama sembuh."


Seketika Arsen memeluk Mamanya. Hatinya berkabut, air mata itu juga terbendung di matanya. Selama bertahun-tahun, dia sudah salah paham dengan Mamanya. "Maafin aku Ma. Selama ini aku sempat marah sama Mama dan sempat membenci Mama juga."


"Iya, Mama mengerti. Pasti kamu merasa kurang kasih sayang dari Mama. Tapi Mama senang, sekarang kamu sudah punya Naya juga yang bisa membahagiakan kamu."


Arsen menganggukkan kepalanya. "Kebahagiaan aku sekarang lengkap dengan keberadaan Mama juga. Aku dan Naya akan tinggal lagi di rumah ini. Aku gak mau menyia-nyiakan waktu lagi."


"Iya. Kamu juga harus selalu menjaga dan menyayangi Naya. Cintai dia dengan sepenuh hati kamu. Jangan sampai dia terluka atau menangis karena kamu."


Arsen menganggukkan kepalanya, lalu dia melepas pelukannya. "Itu pasti, Ma."


"Ya sudah, sekarang kamu tidur saja. Naya sudah menunggu kamu sedari tadi di kamar. Sepertinya dia tidak bisa tidur jika tidak ada kamu."


Arsen menganggukkan kepalanya lalu dia berdiri dan berjalan ke kamarnya.


"Sudah lega Arsen tahu semuanya?" Pak Tama kini duduk di samping istrinya.


"Iya, Mama lega sekali, akhirnya Arsen tahu yang sebenarnya."


Pak Tama tersenyum lalu merengkuh bahu istrinya. Kemudian dia usap lengan istrinya. Dia juga lega, akhirnya mereka semua bisa berkumpul di rumah.


"Arsen sudah mau pulang ke rumah, Pa."


"Iya, tadi Papa dengar."


Bu Ririn kini menegakkan tubuhnya dan menatap suaminya dengan serius. "Papa tahu masalah keluarga Naya?"


"Iya, sedikit tahu. Kita tidak perlu mencampurinya, biarkan Naya tenang di sini."


"Iya, tapi... Tadi Mama sempat tanya sama Naya kalau ibu kandung Naya bernama Maya."

__ADS_1


"Lalu? Nama Maya kan banyak, Ma."


"Kita bicarakan ini di kamar saja, Pa." Bu Ririn menarik tangan suaminya agar mengikutinya ke kamar.


...***...


"Sayang, nungguin aku?" Setelah dari kamar mandi, Arsen naik ke atas ranjang dan memeluk tubuh Naya.


"Enggak. Siapa yang nungguin kamu, ih, GR."


Arsen hanya tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Kamu tadi dengerin aku mengobrol sama Mama?" tanya Naya


Arsen menganggukkan kepalanya. "Aku gak nyangka, selama ini Mama sendirian melawan rasa sakitnya. Aku sebagai seorang anak justru salah paham dan marah sama Mama. Harusnya aku kasih support Mama. Aku merasa jadi anak durhaka banget."


"Masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya."


"Iya, mulai sekarang kita tinggal di sini ya. Biar besok aku suruh anak buah Papa mengemas barang kita. Aku gak mau menyia-nyiakan waktu yang ada. Aku ingin kita hidup bersama di rumah ini. Kamu mau kan? Tenang aja, Mama aku gak akan julidin kamu kok." Arsen menggoda Naya lalu mengecup singkat bibirnya.


Naya tertawa dan mencubit perut Arsen. Naya memang pernah takut dan membayangkan mertua galak seperti di sinetron tapi ternyata Mama Arsen sangat baik. "Mama kamu baik banget, Ar. Aku jadi merasa punya Mama lagi. Boleh kan kalau aku miliki Mama kamu juga."


Naya semakin tertawa. Lalu dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arsen.


"Tuh kan, pengaman aku ketinggalan di rumah. Gimana nih kalau pengen?" Tangan Arsen mulai menyelinap masuk ke dalam piyama Naya.


"Emang kemarin malam masih kurang?"


"Ya iyalah kurang. Kurang terus malahan. Main aja yuk, gak pake pengaman. Nanti aku keluarin diluar."


"Ih, aku pernah baca-baca kalau cowok bilang gitu jangan percaya."


"Kenapa? Gak papa kalau jadi Arsen junior, Mama pasti seneng banget." Arsen meregangkan pelukannya dan menatap Naya sambil tersenyum. Dia sudah menggoda Naya dengan sentuhannya.


"Ar, jangan pancing aku."


"Memang aku suka memancing kamu biar berpacu lagi kayak kemarin. Kamu hisap lagi gak papa leher aku, aku rela." Kedua tangan Arsen sudah singgah di dada Naya. Me re mas dan memilin puncaknya.


"Ar," Naya selalu lemah saat disentuh Arsen. Dia tidak mungkin bisa menolak Arsen.

__ADS_1


Arsen mendekatkan dirinya dan mencium Naya. Ciuman yang awalnya lembut itu semakin lama semakin menuntut. Perlahan ciuman itu turun ke leher dan menghisap leher Naya.


"Ah, Ar, jangan buat tanda merah. Kamu mau balas dendam?"


Arsen tak menggubris perkataan Naya. Dia semakin mencumbui leher Naya lalu berhenti di belakang leher Naya. Menghisapnya dengan kuat hingga tanda merah itu terbentuk.


Arsen tersenyum menatapnya, "Nih, aku masih punya hati. Aku buatnya di belakang biar tertutup rambut."


"Ih," Dia kini meraba tanda merah di leher Arsen yang sedikit memudar.


"Aku sampai lupa Nay, tadi Rani jatuh dari motor dan tangannya terkilir."


"Jatuh? Tapi gak papa kan?"


"Ya tangannya terkilir. Tadi dia boncengan sama Virza terus diserang sama geng Bara lalu mereka jatuh."


"Bentar, Ar." Naya melepas pelukan Arsen lalu mengambil ponselnya. Dia mengirim pesan pada Rani.


"Gara-gara itu, Rangga nyalahin Virza karena udah ajak Rani. Runyam sudah geng aku. Aku serba salah mau belain siapa."


"Rangga dan Kak Virza berantem?" tanya Naya, padangannya masih fokus pada layar ponsel.


"Ya begitulah, sepertinya Virza mau keluar kalau Rangga masih ada di geng aku. Sedangkan aku butuh Rangga untuk melindungi teman lainnya dari Bara."


"Nanti biar aku cari solusi sama Rani tentang masalah ini."


Arsen menggeser dirinya lalu tidur di pangkuan Naya. "Tapi kamu jangan ikut-ikutan ke basecamp atau sekitar anak geng motor berkumpul. Aku gak mau kamu kenapa-napa."


"Iya, kamu tenang aja. Aku gak akan ke sana." Naya masih berbalas pesan dengan Rani. Sedangkan satu tangannya menyugar rambut Arsen.


Sudah tidak ada suara lagi dari Arsen. Naya tersenyum melihat Arsen yang sudah tidur dengan nyenyak di pangkuannya.


"Lah, sudah tidur? Gitu tadi sok kuat nantangin padahal capek." Dia biarkan Arsen tidur nyenyak baru dia akan memindahkan kepala Arsen ke bantal.


"Met tidur ya..." Satu kecupan di kening Arsen mengantarnya ke alam mimpi.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2