Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 124


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu, Arnav semakin menggemaskan dan tumbuh kembangnya sangat cepat. Dia sudah bisa duduk sendiri dan sudah belajar merangkak di usia yang hampir 6 bulan itu.


Setiap pagi, Arnav akan membangunkan kedua orang tuanya. Seperti pagi hari itu, Arnav memukul wajah Ayahnya sambil berceloteh.


"Arnav, ini masih jam berapa? Ayah capek." Arsen hanya bergeliat karena semalam dia pulang sangat larut dari kantor.


Naya meraih tubuh Arnav dan memeluknya agar tidak mengganggu tidur Arsen. "Sayang, biarkan Ayah tidur dulu, Ayah semalam pulang larut."


Tapi Arnav masih kekeh untuk mendekati Ayahnya. "Yayayah..."


"Iya, iya, sini tidur sama Ayah." Arsen memeluk Arnav tapi Arnav memukul dada Arsen agar bangun.


"Sayang, ayo jalan-jalan sama Ibu saja." Naya maraih tubuh Arnav tapi Arnav justru menangis dan ingin bersama Ayahnya. Memang setiap pagi Arsen pasti mengajak Arnav jalan-jalan di sekitaran rumah.


Seketika Arsen duduk sambil mengusap wajahnya. "Ayo, kalau mau sama Ayah. Jangan nangis lagi ya."


"Mas, istirahat aja. Gak papa, nanti Arnav juga diam sendiri."


"Udah, gak papa. Biasanya Arnav jalan-jalan pagi memang sama aku." Arsen menggendong Arnav lalu mengajaknya keluar dari kamar.


Naya tersenyum kecil melihat kedekatam Arsen dan putranya. Setiap hari Arnav semakin tidak bisa jauh dari Ayahnya.


Kemudian Naya merapikan tempat tidur. Setelah rapi dia beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tapi saat melewati ruang tengah dia melihat Arsen yang sedang memegang kepalanya sambil menggendong Arnav.


"Mas, kenapa?" Naya menggendong putranya lalu menurunkan di atas playmate yang berada di ruang tengah.


"Kepala aku pusing." Arsen kini duduk di atas sofa sambil menyandarkan kepalanya.


Hari-hari Arsen belakangan ini memang sibuk. Sibuk di kampus dan juga sibuk di perusahaannya.


"Jangan gendong Arnav dulu, Mas istirahat aja." Naya memberikan mainan pada Arnav agar dia anteng.


Saat Naya akan pergi, Arsen justru menarik tubuh Naya dan mendekapnya.


"Mas, nanti Papa dan Mama lihat."


"Mama sama Papa lagi lari pagi." Arsen semakin mendekap tubuh Naya dan bersandar di leher Naya. "Aku mau manja dulu sama kamu."


"Kayaknya tiap malam udah manja-manja."


Seketika Arsen membuka matanya lebar. "Sayang mungkin gak kalau udah jadi adiknya Arnav?" tanya Arsen sambil mengusap perut Naya. "Gak biasanya aku pusing kayak gini. Dari kemarin bawaannya aku pengen banget makan mangga juga."


"Ya aku gak tahu."

__ADS_1


"Tes dulu yuk."


"Tapi kan gak punya alat tesnya."


"Biar aku suruh Gery beli alat tesnya. Kebetulan dia menginap di sini."


"Jangan ah, malu. Nanti saja aku beli sendiri."


"Gak papa." Arsen mencium pipi Naya lalu dia berdiri dan berjalan ke depan rumah karena Gery sedang mengelap mobil di sana.


Naya kini menatap Arnav yang sedang anteng bermain sendiri. "Arnav, memang Arnav mau punya adik?"


Arnav hanya menatap Naya dengan mata berbinarnya sambil tertawa kecil.


"Lucu banget." Kemudian Naya duduk di sebelah Arnav dan menemaninya bermain. "Ibu akan tetap sayang sama Arnav meskipun nanti Arnav punya adik." Naya menciumi pipi bulat putranya sampai Arnav tertawa keras karena geli.


Dari depan terdengar langkah cepat kaki Arsen. Dia masuk ke dalam kamar mandi karena rasa mualnya tidak tertahankan lagi.


"Mas, kenapa?" Naya menyusul Arsen masuk ke dalam kamar mandi. Dia mengusap punggung Arsen yang sedang muntah.


"Mas, masa' iya Mas Arsen kena morning sickness lagi."


Arsen berkumur lalu dia membasuh wajahnya. "Iya sepertinya. Apa yang aku rasakan ini sama kayak dulu. Bahkan lebih parah yang sekarang."


Naya menatap Arsen sambil merapikan rambut Arsen yang berantakan. "Maaf."


Naya menganggukkan kepalanya. "Aku buatkan minuman hangat dulu."


Naya mengangkat Arnav lalu dia dudukkan di high chair saat dia membuatkan minuman hangat untuk Arsen di dapur.


"Bi, titip Arnav sebentar ya," kata Naya setelah minumannya jadi.


"Iya, Nyonya."


Naya berjalan menuju kamarnya tapi langkahnya terhenti saat ada Gery.


"Ini Nyonya, pesanan Tuan Arsen."


"Iya. Terima kasih ya." Lalu Naya masuk ke dalam kamar. Dia duduk di tepi ranjang dan membantu Arsen minum.


"Udah enakan? Mau sarapan apa?"


"Ada mangga gak? Kalau gak ada Bi Nur suruh beli ya," kata Arsen setelah menghabiskan segelas minuman hangat itu.

__ADS_1


"Iya, nanti biar dibelikan. Tapi Mas Arsen makan dulu. Nanti aku bawakan sarapannya ke kamar."


"Kamu jangan repot-repot. Kamu juga harus banyak istirahat, gak boleh sampai kecapekan."


"Iya, Mas." Lalu Naya membuka kantong plastik berwarna hitam itu. "Ini ada manisan mangga juga."


"Iya lupa, tadi aku titip itu juga." Arsen mengambil satu toples manisan mangga kering itu dan memakannya. "Arnav sama siapa?"


"Sama Bi Nur."


"Ya udah, kamu cek gih. Aku penasaran banget."


Naya masih saja menatap dua alat tes itu. "Kira-kira beneran ada adiknya Arnav gak ya?"


"Makanya cek dulu." Satu tangan Arsen kini merengkuh pinggang Naya. "Kamu masih trauma? Atau kamu belum siap?"


"Iya. Aku masih sedikit trauma."


"Aku akan selalu jagain kamu. Aku cuma minta dua anak saja karena aku tahu, kamu tidak mudah melalui ini semua. Aku yang merasakan morning sickness aja seperti ini, bagaimana dengan kamu yang mengandung sampai 9 bulan, belum lagi saat melahirkan yang bertaruh nyawa. Semoga saja adiknya Arnav cewek, agar kita punya anak laki-laki dan perempuan. Sudah, dua saja cukup."


Naya tersenyum menatap Arsen lalu dia memeluk Arsen dengan erat. "Makin hari aku makin cinta sama kamu, Mas."


"Sama, aku juga. Dari tahun ke tahun kita semakin dewasa dalam menyikapi semua masalah. Semoga saja keluarga kita tetap harmonis seperti ini." Lalu Arsen melepas pelukannya. "Sekarang kamu tes, aku udah penasaran banget."


Naya menganggukkan kepalanya lalu dia berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi.


Arsen menunggu Naya sambil mengemil manisan mangganya. "Aku udah ngidam yang kedua kalinya. Tapi kenapa rasanya sekarang parah banget. Udah makan ini tapi rasanya masih mual." Arsen meletakkan manisan mangga itu lalu minum air putih sedikit. Dia kini berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Sayang, sebentar." Arsen kembali memuntahkan isi perutnya.


"Mas, kita ke rumah sakit saja ya. Takutnya dehidrasi."


"Aku gak papa. Gimana hasilnya?" tanya Arsen setelah membersihkan bibirnya.


Naya menggandeng lengan Arsen agar duduk di ranjang.


"Tunggu satu menit dulu biar bereaksi."


Baik Arsen atau Naya sudah tidak sabar melihat hasilnya.


.


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2