
"Tika, kenapa?" Rani dan Naya segera menghampiri Tika. "Tolongin dia."
"Iya," beberapa teman pria segera membawa Tika ke klinik kampus. Rani dan Naya mengikuti mereka.
Tika kini diperiksa oleh Dokter, sedangkan Naya dan Rani menunggu Tika di dekatnya. "Kenapa teman kami?" tanya Rani.
Dokter itu nampak serius sambil mengernyitkan dahinya. Beberapa saat kemudian Tika membuka matanya sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Akhirnya kamu sudah sadar? Apa yang kamu rasakan?"
"Pusing, Dok."
"Iya, tensi kamu sangat rendah. Makan yang teratur agar nutrisi terpenuhi. Saya sarankan untuk langsung periksa saja ke Dokter Spog."
Tika menganggukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap Rani dan Naya yang sekarang melebarkan matanya.
Tika turun dari brankar dan keluar dari ruang pemeriksaan meskipun Dokter berusaha menahannya.
"Tika, tunggu!" Rani dan Naya mengikuti langkah jenjang Tika. Tapi kemudian Tika terduduk sambil memegang kepalanya yang terasa terus berputar.
"Tika."
"Kalian pergi dari sini, gue mau sendiri."
"Tik, kalau ada masalah cerita sama kita. Siapa tahu kita bisa bantu," kata Naya.
"Kenapa lo masih peduli sama gue. Gue udah jahat sama lo," kata Tika.
Naya tersenyum kecil. Dia memang sudah memaafkan semua perbuatan Tika. Karena ulah jahat Tika selalu membawa kebaikan di hidup Naya. "Karena semua yang lo lakuin sama gue menjadi anugerah. Kita masih bisa berteman lagi kayak dulu."
Seketika Tika memeluk Naya. "Makasih, Nay. Lo udah maafin gue." Kemudian Tika melepas pelukannya lalu menyusut air matanya yang telah mengembun di ujung matanya.
"Hmm, maaf Tin, lo hamil?" tanya Naya.
Tika menganggukkan kepalanya. "Iya, dan Galang gak mau bertanggung jawab. Gue bingung, Nay."
"Galang?" Naya ingat betul, Galang adalah teman Tika yang berada di klub malam waktu itu.
"Iya, ini memang salah gue. Kenapa juga gue mau dimainin sama Galang. Sepertinya gue mendapat balasan dari apa yang gue lakuin dulu sama lo, Nay."
"Tik, lo tenang dulu. Biar gue minta bantuan sama Arsen. Siapa tahu Arsen punya cara agar Galang mau bertanggung jawab."
__ADS_1
"Gak usah Nay, biar gue cari cara sendiri saja. Makasih ya." kemudian Tika berdiri dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Naya hanya menghela napas panjang lalu dia berjalan menuju kelas bersama Rani.
"Karma is real," kata Rani.
Naya hanya mengangguk pelan. "Tapi gue gak tega lihat Tika kayak gini. Biar gue minta bantuan sama Arsen siapa tahu Arsen punya cara."
"Lo emang kelewat baik, Nay."
Kemudian mereka masuk ke dalam kelas karena Dosen pembimbing mereka sekarang juga sudah masuk ke dalam kelas.
...***...
Malam hari itu, Naya duduk di depan meja riasnya. Sudah lama dia tidak memoles wajahnya dengan cantik. Bahkan dia tidak memakai kacamatanya dan memilih memakai lensa mata.
"Loh, ini yang mau dilamar Rani atau Naya ya?" Arsen datang dan membungkukkan badannya menatap pantulan wajah Naya dicermin.
"Sekali-kali gak boleh dandan? Aku kan gak pernah ada acara apapun."
"Ya boleh dong, cantik banget." Satu kecupan mendarat di pipi Naya.
Naya kini memutar tubuhnya dan menatap Arsen yang sudah memakai kemeja dengan rapi.
"Apa? Tentu boleh."
"Lo kenal Galang gak?"
"Galang itu yang biasanya sama Tika kan yang mau jebak lo dulu? Kenal sih. Bokapnya manager baru di perusahaan."
Seketika Naya berdiri. Kebetulan sekali. "Ar, tolong bilang sama Galang, soalnya Tika hamil dan Galang gak mau tanggung jawab."
Arsen menatap Naya. "Kamu yakin mau nolong Tika? Dia udah jahat sama kamu."
"Kan aku sudah bilang, apa yang dilakukan Tika selalu menjadi anugerah buat aku. Aku gak bisa nolong Tika makanya aku minta bantuan kamu."
"Okelah, nanti bisa diatur. Yang penting kamu jangan ikut campur masalah ini. Aku gak mau kamu kenapa-napa."
Naya menganggukkan kepalanya. "Makasih ya. Kamu emang baik banget." Naya mencium pipi Arsen hingga lipstik yang belum mengering sempurna itu membekas di pipi Arsen. "Eh, lipstiknya tertinggal." Naya tersenyum sambil menghapus bekas lipstiknya dengan tisu.
"Di bibir aja kalau cium itu." Arsen mendekatkan dirinya dan mencium bibir Naya. Satu tangannya kini melingkar di pinggang Naya dan semakin menekannya.
__ADS_1
Arsen tersenyum setelah melepas pagutannya.
"Jadinya bibir kamu yang kena lipstik. Usap sendiri." Naya memberikan tisu untuk Arsen sedangkan dirinya kini membenarkan lipstiknya. Setelah selesai, dia mengambil tasnya. "Ayo Ar, udah jam segini. Nanti kita telat. Aku mau menyaksikan mereka berdua bersatu."
"Iya." Arsen menggandeng tangan Naya. Dia terus menatap Naya. "Andai saja dulu aku melamar kamu seperti ini, pasti kami bahagia ya."
Tangan Naya seketika berhenti saat dia akan membuka knop pintu. "Aku sekarang udah bahagia sama kamu."
"Maaf ya, dulu kita menikah tidak ada acara apapun."
Naya tersenyum dan mengusap pipi Arsen. "Nggak apa-apa. Mungkin kalau pernikahan kita nggak instan kayak dulu, gak mungkin ada kita yang sekarang."
Arsen tersenyum lalu membuka knop pintu. "Nanti menyambut kelahiran anak kita saja ya, kita adakan pesta."
"Iya, terserah kamu."
"Naya, kamu duduk di belakang saja sama Mama." Bu Ririn menggantikan posisi Arsen. Kemudian mereka berempat masuk ke dalam mobil dan segera menuju rumah Rani.
Beberapa saat kemudian Arsen menghentikan mobilnya di depan rumah Rani tepat saat mobil keluarga Rangga berhenti. Mereka semua keluar dari mobil dan saling berjabat tangan.
Kedua keluarga yang disatukan oleh Naya dan Arsen itu memang semakin kompak. Entah dalan urusan bisnis dan juga yang lainnya.
Mereka berjalan masuk ke dalam teras rumah Rani yang langsung disambut hangat oleh kedua orang tua Rani.
"Silakan masuk."
Mereka semua kini masuk ke dalam rumah Rani yang cukup luas itu dan duduk berjajar. Beberapa saat kemudian Rani dan Mamanya keluar dari kamar dan duduk bergabung dengan keluarga besar Rangga.
Rani hanya menundukkan pandangannya. Baru kali ini rasanya dia malu dengan Rangga. Detak jantungnya sedari tadi berdebar tak karuan untuk melewati satu prosesi penting ini.
"Pak Hardi, akhirnya kita akan menjadi besan."
"Iya Pak Rizki, ini sudah sangat lama kita tunggu." Kedua Bapak itu saling melempar senyum.
"Maksud Papa?" tanya Rangga.
"Iya, jadi dari dulu sebenarnya kita ingin menjodohkan kalian tapi kita biarkan kalian bersatu secara alami dan ternyata benar kan kalian akhirnya bersatu dari usaha kalian sendiri."
Rangga tersenyum. "Tapi Rani belum beri aku jawaban yang pasti, Pa."
"Iya? Kalau begitu cepat kamu tanyakan."
__ADS_1
Rangga menarik napas panjang. Detak jantungnya juga tak kalah cepat dengan Rani. Dia sudah menyiapkan banyak kata-kata tapi kenapa rasanya sangat sulit dia ucapkan?