
"Pak Arsen ada perlu apa ke rumah saya?" tanya Pak Riko, Ayah dari Galang. Dia melihat Arsen turun dari mobilnya dan menghampirinya.
Tentu saja sesuai keinginan Naya, Arsen akan membuat Galang bertanggung jawab pada Tika. Meskipun ini sebenarnya bukan urusannya, tapi demi istri tercinta agar tidak marah dengan terpaksa dia melakukannya. "Saya mau bertemu dengan Galang." Arsen masuk ke rumah Galang lalu duduk di sofa ruang tamu.
"Biar saya panggil." Pak Riko jelas patuh dan hormat pada Arsen karena sudah beberapa bulan ini Arsen mulai mencoba memimpin perusahaan dan Pak Riko adalah salah satu manager perusahaan yang dipilih Arsen karena manager sebelumnya sudah keluar dari perusahaan.
Beberapa saat kemudian Galang keluar dari kamarnya dan menemui Arsen. "Ada apa lo ke sini?" tanya Galang sambil duduk di sofa.
"Galang yang sopan pada Pak Arsen." kata Pak Riko.
"Tidak apa-apa, Pak. Ini diluar kantor." Kemudian Arsen kembali menatap Galang. "Gue ingin lo bertanggung jawab sama Tika!"
"Bertanggung jawab sama Tika? Apa urusan lo?"
"Iya, ini sebenarnya bukan urusan gue tapi karena istri gue yang minta jadinya gue ingin lo tanggung jawab sama Tika!"
"Tunggu dulu. Maksud Pak Arsen apa?" tanya Pak Riko.
"Arsen, lo sekarang keluar dari rumah gue! Jangan campuri urusan gue!" kata Galang. Dia tidak ingin orang tuanya sampai tahu masalah ini.
Arsen hanya tersenyum miring. "Gaya aja sok jagoan tapi pengecut! Lo kalau berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Lo nikahi Tika segera karena dia hamil anak lo."
"Galang! Kamu menghamili anak orang." Pak Riko menatap tajam putranya. "Kalau kamu sudah berbuat, kamu harus berani bertanggung jawab!"
"Tapi Pa, aku belum ada pekerjaan. Bagaimana aku menghidupi anak orang."
"Sudah tahu tidak bisa menghidupi anak orang kenapa kamu melakukan itu."
Arsen berdecak, "Kalau lo mau bertanggung jawab, lo bisa bekerja di perusahaan Rangga agar lo gak satu perusahaan sama Pak Riko, tapi kalau lo gak mau bertanggung jawab, dengan terpaksa gue akan menurunkan lagi jabatan Ayah lo."
Galang membuang napas kasar. Tidak ada pilihan lain lagi, jika dia memilih tidak bertanggung jawab pasti Papanya akan marah besar padanya. "Iya, aku akan bertanggung jawab."
"Oke, Pak Riko tolong pastikan pernikahan Galang segera terlaksana. Beri saya bukti jika memang Pak Riko sudah melamar Tika ke rumahnya."
"Baik, Pak."
Kemudian Arsen berdiri dan berjalan keluar dari rumah Galang yang diikuti oleh Pak Riko. "Maaf Pak, saya terpaksa melakukan ini," kata Arsen sebelum masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Iya Pak. Tidak apa-apa. Saya mengerti."
Lalu Arsen masuk ke dalam mobilnya dan beberapa saat kemudian mobil Arsen sudah melaju menuju rumahnya. "Kalau bukan keinginan Naya, aku gak mau maksa Galang gini. Ini urusan dia sama Tika. Memang terlalu baik istri aku. Jadi pengen cepet-cepet tidur bareng." Arsen kecil membayangkan istrinya di rumah.
Arsen semakin menambah laju mobilnya. Setelah sampai di rumah, dia segera masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat Naya yang masih menonton drama romantis di televisi.
"Sayang sudah malam kok belum tidur?"
"Nungguin kamu. Gimana? Udah beres?" tanya Naya.
"Udah, tunggu aja hasilnya. Bentar aku mau mandi dulu. Gerah banget." Arsen melepas blazernya lalu sepatunya. Setelah meletakkan kembali di tempatnya dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Naya masih saja melihat film kesukaannya sambil memakan cemilan. Semakin hari nafsu makannya semakin bertambah. Badannya saja sekarang sudah semakin gemuk.
Setelah Arsen keluar dari kamar mandi, Naya meletakkan toples cemilannya di atas nakas dan meminum air putih.
Arsen hanya memakai celana pendeknya lalu naik ke atas ranjang dan mengusap perut Naya. "Hai sayang, belum bobok?" Seketika tangannya mendapat satu tendangan dari dalam perut Naya. "Ih, belum bobok. Mau main gak sama Ayah?"
"Main apa?" tanya Naya sambil menatap Arsen yang sedang membungkukkan dirinya di dekat perut. Dia kini mematikan televisi dengan remote.
"Sepak bola?"
"Iya." Satu tangan Arsen membuka satu per satu kancing daster Naya yang full sampai bawah. "Dari kemarin kan gak jadi terus soalnya kamu langsung tidur. Mumpung kamu belum ngantuk biar cepat tidur."
Tubuh Naya kini sudah terekspos dengan sempurna. "Makin embul." Lalu Arsen menciumi perut buncit Naya. Dia semakin gemas melihat perkembangan calon buah hatinya yang ada dalam perut Naya. "Udah lima bulan aja. Empat bulan lagi kita bertemu. Sehat-sehat di dalam sana." Setiap kecupan Arsen seringkali dibalas dengan satu tendangan kecil. "Saat merasakan gerakan nyata dari dalam perut kamu, rasanya aku sangat bahagia."
Arsen menegakkan dirinya lalu beralih mencium bibir Naya. Bibir itu saling memagut dan menyesap. Satu tangan Arsen sudah berhasil membuka penutup buah sintal yang semakin menggodanya. "Makasih ya..."
"Buat apa?"
"Sudah mengandung anak aku."
"Ih, ngapain bilang makasih. Aku juga sangat bahagia memiliki buah hati kita."
"Kira-kira cewek atau cowok ya?"
"Gak tahu, kata kamu buat kejutan saja di gender reveal nanti. Tapi cewek atau cowok yang penting lahir dengan sehat dan sempurna."
__ADS_1
"Iya, dan tentu saja Ibunya juga harus sehat."
Naya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Kemudian bibir Arsen semakin turun ke leher Naya, menyusuri leher mulus itu dengan bibirnya dan menghisapnya kecil.
Naya semakin mendongak saat bibir Arsen semakin menjelajah dan singgah di area favoritnya. Satu tangan Arsen semakin turun ke bawah dan mengusap lembut hingga basah.
Suara Naya sudah tidak bisa tertahan lagi. Dia memang sudah merindukan sentuhan Arsen karena hampir sebulan itu dia beristirahat total.
"Ar, beneran gak papa kan?" tanya Naya saat Arsen sudah memposisikan dirinya. Meskipun dia sudah ingin melakukannya tapi dia sendiri takut jika mimpi buruk itu akan terulang lagi.
"Aku pelan-pelan sayang. Kamu rasakan saja." Perlahan tapi pasti Arsen mulai memasuki Naya. Dia gerakkan pinggulnya secara perlahan. Kedua tangannya kini terpaut dengan jemari Naya.
"Ar," panggil Naya dengan mata sayunya yang telah merasakan kenikmatan itu.
"Apa sayang?"
"Enak."
"Iya, udah lama gak rasain. Jadi rasanya makin makin gini. Aku cepatin dikit ya? Kayaknya fast charging ini. Kalau perutnya gak nyaman bilang ya."
Naya menganggukkan kepalanya, tapi Arsen justru melepas dirinya dan menggeser tubuh Naya ke tepi ranjang. Kemudian dia kembali memasukinya sambil berdiri. "Kalau gini aman, dedek gak akan kegencet."
Naya hanya menyahuti perkataan Arsen dengan suara de sah nya karena semakin Arsen memompa dirinya rasanya dia semakin melambung tinggi.
.
💕💕💕
.
Ish, othor orangnya gak tegaan ma Arsen. Padahal mau othor buat puasa sampai 9 bulan tapi gak jadi. 🤣
.
Tetep stay di sini ya sampai akhir..
__ADS_1