Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 132


__ADS_3

"Sayang, jadwal sesar kamu dimajukan karena bb dedek udah bagus dan semua organnya juga udah berfungsi dengan baik," kata Arsen pada Naya yang sedang menatap hasil USG 4 dimensi yang baru dilakukan tadi siang.


"Iya Mas, gak papa biar cepat ketemu dedek." Naya kini menggeser dirinya dan bersandar di bahu Arsen. "Aku sebenarnya takut, gimana ya rasanya operasi sesar?" Dari beberapa video yang dia lihat, operasi sesar itu terlihat sangat menakutkan.


"Jangan takut. Pasti gak akan sakit. Rencana kan pakai metode ERACS. Katanya lebih cepat sembuhnya. Kalau melahirkan normal lagi takutnya penglihatan kamu akan bermasalah lagi." Arsen mengusap rambut Naya lalu mencium puncak kepalanya. "Kamu tenang saja, aku akan selalu menemani kamu. Aku sudah tanya pada Dokter Sinta, setelah proses pembiusan aku boleh menemani kamu di ruang operasi."


"Makasih ya, Mas Arsen selalu ada untuk aku." Kedua tangan Naya kini memeluk pinggang Arsen.


"Aku yang harusnya makasih sama kamu. Kamu sudah mengandung dan melahirkan anak-anak kita."


"Itu sudah menjadi tugas seorang Ibu."


"Dedek belum lahir aja Mama udah sering bawa Arnav tidur di kamarnya. Katanya biar gak terlalu posesif sama kamu. Kita jadi berduaan terus gini." Arsen tersenyum kecil. Meskipun berduaan, dia juga belum bisa melewati malam panas bersama Naya. "Sekarang kamu tidur, ini sudah malam." Arsen membantu Naya merebahkan dirinya di atas ranjang. Usia kandungan yang sudah delapan bulan itu membuat Naya semakin kesulitan untuk bergerak.


Satu tangan Arsen kini mengusap perut buncit Naya yang langsung disambut tendangan keras dari dalam perut. "Aktif banget. Belum tidur ya?" Lalu Arsen menciumi perut yang bergerak-gerak tak beraturan itu.

__ADS_1


"Mas, nanti setelah dedek lahir, aku mau lanjut kuliah ya. Mas Arsen aja udah wisuda, tapi aku gak lulus-lulus. Ya meskipun ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga tapi mendidik kedua anak kita juga butuh ilmu."


Arsen kini merebahkan dirinya di sebelah Naya. "Iya, kamu lanjut saja. Nanti kita cari baby sitter buat jaga mereka biar Mama yang mengawasi. Rencananya tahun depan aku juga mau lanjut S2."


Seketika Naya menatap nanar Arsen. "Mas, akhirnya akan lanjut S2 juga?"


Arsen menganggukkan kepalanya. "Persaingan di dunia bisnis semakin ketat. Selain berbekal modal, kita juga harus berbekal ilmu."


"Mas Arsen hebat ya. Aku gak nyangka, Mas Arsen bisa jadi suami dan Ayah yang sangat bertanggung jawab. Padahal dulu waktu sekolah sangat ngeselin, tukang bolos, perokok berat, pemabuk juga."


Naya menganggukkan kepalanya. Dia semakin menempelkan wajahnya di dada Arsen.


"Karena kandungan kamu masih ada sedikit masalah, jadinya aku gak pernah enak-enak sama kamu. Lama banget sampai kadang aku lupa rasanya." kata Arsen sambil tertawa. Dia rela melakukan apapun asal Naya dan kandungannya sehat.


"Iya, kata Dokter kemarin padahal boleh asal pelan-pelan."

__ADS_1


"Kamu kayak gak tahu aku aja, kalau udah keenakan aku gak bisa kontrol gerakan. Gak papa, lebih baik puasa lama daripada kandungan kamu kenapa-napa."


"Kalau butuh bantuan bilang sama aku," kata Naya.


"Kalau minta bantuan sama kamu, nanti aku minta plus plus, biarin ajalah aku selingkuh sama sabun dulu."


Naya tertawa mendengar pernyataan Arsen. "Aku baru tahu, pantas aja kadang kalau mandi lama."


"Iya." Arsen masih saja tertawa. "Nanti setelah waktunya, kamu pasti habis aku makan."


"Ih, takut banget sama singa kelaparan."


"Udah malam, sekarang kamu tidur. Besok kita jalan pagi-pagi sambil olahraga kecil-kecil ya."


Naya menganggukkan kepalanya lalu dia memejamkan matanya dan tertidur di dekapan Arsen.

__ADS_1


__ADS_2