
Rangga menarik napas panjang. Detak jantungnya juga tak kalah cepat dengan Rani. Dia sudah menyiapkan banyak kata-kata tapi kenapa rasanya sangat sulit dia ucapkan?
"Aku..." Baru mengucapkan satu kata Rangga menghentikan kalimatnya. "Maaf Rani, aku memang tidak bisa berkata romantis." Rangga tersenyum kecil sambil mengusap wajahnya.
"Eh, kita nungguin lo ngomong malah bercanda." Arsen menjitak kepala Rangga karena saking gemasnya.
"Ar, biarin Kak Rangga ngomong. Ih, kamu tuh." Naya menggandeng lengan Arsen agar dia tidak berbuat rusuh lagi.
"Iya, aku memang gak bisa romantis tapi aku yakin sama perasaanku buat kamu, Ran. Aku cinta sama kamu, maukah kamu menikah denganku?" tanya Rangga sekali lagi dan disaksikan kedua orang tua mereka.
Rani tersenyum menatap Rangga. Bukan hanya Rangga yang suaranya terasa berat untuk keluar tapi juga dirinya. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Aku punya rencana ingin menikahi kamu satu minggu lagi. Kamu gak perlu mikir apapun, nanti biar diurus semuanya sama anak buah aku. Apa kamu bersedia?" tanya Rangga untuk memastika rencananya itu.
Rani terdiam beberapa saat, dia kini justru bertanya pada kedua orang tuanya. "Hmm, gimana Ma? Apa Mama dan Papa setuju?"
Mereka semua kini tertawa. "Kenapa tanya Mama. Kalau Mama ya jelas setuju. Tapi itu terserah kamu yang menjalani."
"Papa juga setuju."
"Ya sudah aku juga setuju," kata Naya pada akhirnya.
Seketika Rangga dan juga keluarganya tertawa. "Akhirnya..."
"Naya kalian akhirnya akan jadi keluarga sama kita." kata Mamanya Rani.
"Iya tante. Saya senang sekali." Naya kini berpindah duduk di sebelah Rani. "Rani, selamat ya, akhirnya kamu menemukan jodoh kamu yang ternyata udah dekat banget."
"Iya, makasih ya. Ini semua berkat kamu yang yakinin aku." Kemudian mereka saling berpelukan sesaat.
Sedangkan Arsen kini berbisik di samping Rangga. "Satu minggu lagi bro, siapin stamina lo."
Seketika Rangga menjotos lengan Arsen. "Lo bisa aja. Gue masih full power."
__ADS_1
Para orang tua kini mengobrol perencanaan pernikahan Rani dan Rangga yang tinggal satu minggu lagi. Sedangkan anak-anak mereka sedang asyik mengobrol sendiri.
"Nay, capek gak?" tanya Arsen dia kini berpindah di samping Naya sedangkan Rani duduk di samping Rangga.
Naya menggelengkan kepalanya. "Nggak kok."
"Makan dulu, kamu gak lapar?" Arsen mengambil makanan yang ada di atas meja dan menyuapi Naya. "Nih, kalau mau romantis itu harus ekspresif."
Rangga dan Rani hanya mencibir. "Baru bisa mesra aja belagu."
"Iya tuh. Gue juga bisa mesra nanti kalau udah nikah." Rangga menatap Rani sambil tersenyum.
"Ih, ngapain lihat aku kayak gitu."
"Emang kenapa?"
"Udah, aku gak bisa bayangin soal itu. Ih, geli banget sama teman sendiri," kata Rani.
"Ya jadi, tapi kalau soal itu mikir-mikir dulu." Rani dan rangga mulai berdebat lagi.
Rangga kini menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Emang tujuan kamu nikah itu apa?"
"Ya gak tahu, tujuan kamu tuh apa?"
Rangga menepuk dahinya sendiri. Ternyata kebiasaan adu argumen yang tidak ada ujungnya itu masih saja berlaku.
Naya dan Arsen semakin tertawa. "Lucu, nanti kalau udah ngerasain pasti juga ketagihan. Iya kan, Nay?"
"Loh, kok malah tanya aku."
"Ya kan aku sama Rangga udah temenan dari kecil, gak bisa aja ngebayanginnya." kata Rani.
"Gak usah dibayangin langsung dipraktekin aja." Rangga merengkuh bahu Rani dan mendekatkan dirinya. Dia menoleh pada para orang tua yang sekarang mengobrol di meja makan. Tanpa diduga, Rangga justru mengecup singkat bibir Rani.
__ADS_1
Seketika Arsen menutup kedua mata Naya. "Jangan dilihat, nanti dedek kena sawan." Kemudian Arsen juga memutar dirinya. "Udah kalian lanjut aja. Kalau cuma nempel sih gak terasa." kata Arsen sambil tertawa.
"Rangga, ih, malu." Rani mendorong tubuh Rangga agar menjauh.
"Kenapa malu? Biar Arsen gak ngatain aku terus."
"Sayang, makan dulu yuk. Biarin mereka berdua melakukan pemanasan," ajak Arsen sambil membantu Naya berdiri.
"Iya, yuk!" Arsen dan Naya kini berjalan menuju ruang makan dan ikut bergabung bersama para orang tua.
Setelah Arsen dan Naya pergi, Rangga menggenggam tangan Rani dengan erat.
"Lucu. Aku masih gak nyangka dengan jalan cerita kita."
"Iya, aku juga gak nyangka. Aku janji, aku akan selalu berusaha membahagiakan kamu," kata Rangga. Sepertinya dia sudah mulai bisa menguasai janji-janji manis para lelaki.
"Jadi kita udah pensiun bertengkarnya nih?"
Rangga kembali merengkuh bahu Rani dan mengacak rambutnya. "Gak seru kalau gak debat sama kamu, asal jangan sampai ada pertengkaran yang serius aja."
"Oke, siap, laksanakan."
"Makan dulu yuk. Eh, salah, kebalik. Harusnya kamu yang ajak. Ini kan rumah kamu."
"Gak papa, sama aja." Kemudian mereka berdua beranjak menuju ruang makan dan bergabung dengan semua keluarganya.
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1