
"Mas," pekik Naya saat Arsen tiba-tiba memasukinya dari belakang. "Mentang-mentang kita udah nikah bertahun-tahun, jadi gak pernah pemanasan dulu."
Arsen tersenyum, dia membungkukkan dirinya dan memeluknya dari belakang. "Senggol dikit udah panas, sayang. Kamu sekarang kan juga gampang pengen."
"Ih, siapa bilang?"
Arsen semakin menambah gerakan pinggulnya. "Nih, terasa kok udah basah." Dia singkirkan rambut Naya yang menutupi leher lalu dia ciumi leher putih itu. Beberapa kaki menghisapnya dan meninggalkan jejak tanda merah.
Kemudian Arsen kembali menegakkan dirinya dan semakin menambah kecepatannya.
Naya sudah dibuat Arsen seperti melayang dan melambung tinggi. Dia selalu hanyut dalam pusara Arsen. Hanya bisa pasrah dalam kendali Arsen.
"Sayang, gak mau nambah dedek lagi?" tanya Arsen tiba-tiba.
"Katanya dua anak cukup."
"Tapi sebentar lagi mereka udah besar. Jadi pengen dengar suara tangisan bayi lagi."
"Ih."
"Bercanda sayang. Kita besarkan dan didik mereka saja dengan baik. Buatnya memang enak tapi aku tahu kamu melahirkan bertaruh nyawa dengan cara apapun itu."
Naya tak mendengar apa yang dikatakan Arsen. Dia sangat menikmati permainan Arsen.
Kedua tangan Arsen semakin me re mas pan tat Naya saat kenikmatan itu menjalari seluruh tubuhnya.
"Ah, Mas." Naya semakin mencengkeram sprei. Tubuhnya terguncang hebat mendapat serangan bertubi-tubi dari Arsen. Akhirnya Naya mencapai puncaknya. Tubuhnya bergetar beberapa saat lalu dia melemas.
__ADS_1
"Kalau pakai gaya ini kamu cepat banget keluarnya." Lalu Arsen membalik tubuh Naya dan kembali memasukinya. Dia tindih tubuh Naya dan menciumi leher Naya. Sesekali menghisapnya hingga tanda merah itu membekas lagi di leher Naya.
"Aku sayang kamu, Nay."
"Aku juga sayang kamu." Naya mengalungkan kedua tangannya di leher Arsen. Mereka saling bertatapan dengan sesekali bibir mereka berdesis nikmat.
Beberapa detik kemudian wajah Arsen semakin dekat. Bibir mereka saling memagut. Gerakan mereka sudah tidak terkontrol lagi. Saling mencari kenikmatan hingga mencapai puncak bersama.
...***...
Setelah melewati malam yang panas, Naya masih saja tertidur sambil memeluk Arsen. Matahari sudah bersinar terang, tapi mereka berdua belum juga bangun dari tidurnya.
Gedoran keras akhirnya membangunkan mereka berdua.
"Ibu, Ayah." teriak Shena dari luar pintu.
"Sekarang hari minggu, kamu gak usah bingung." Arsen menarik tubuh Naya lagi dan mendekapnya.
"Tapi Shena udah bangun. Tuh, dia gedor pintu. Pasti haus ingin dibuatkan susu."
"Biarkan sama Bi Nur atau Mama dulu. Kamu istirahat aja. Sekali-kali santai. Tuh, gedorannya udah gak ada."
Karena suara gedoran sudah tidak terdengar, akhirnya Naya tak memberontak pelukan Arsen lagi. Dia kembali menyembunyikan wajahnya di dada Arsen.
"Sekali-kali nikmati pagi kamu dengan bermalasan gini. Udah, sekarang kamu tidur lagi. Kamu bukan pembantu ataupun baby sitter, tapi kamu istri aku."
"Tapi sudah kewajiban seorang Ibu merawat anak-anaknya."
__ADS_1
"Iya, aku tahu. Tapi kalau sekali-kali menikmati hidup kamu sendiri, gak papa. Anak-anak kita juga banyak yang jaga."
Naya mengangguk pelan lalu dia kembali tertidur dalam pelukan Arsen.
"Tuh kan, masih mengantuk." Arsen mencium puncak kepala Naya. "Aku sayang banget sama kamu.
Naya tersenyum kecil dengan mata yang masih terpejam, "Aku juga sayang banget sama kamu."
"Kirain tidur lagi."
"Iya, barusan mau tidur tapi ada yang bangun dan nyenggol perut aku."
"Yang bawah emang gak bisa bohong."
Naya akhirnya bangun dari tidurnya. Dia menarik tangan Arsen agar mengikutinya. "Mandi bareng yuk, Mas," kata Naya dengan senyumannya yang menggoda.
"Mandi?" Arsen jelas paham maksud Naya. Dia tersenyum kecil lalu mengikuti langkah Naya masuk ke dalam kamar mandi.
Naya menghidupakan shower lalu dia memeluk tubuh Arsen. Mereka saling bertatapan penuh cinta di bawah guyuran shower. "Tetap bersamaku ya, sampai tua nanti."
"Itu pasti." Kedua wajah itu saling mendekat. Kemudian mereka memulai kembali permainan panas itu.
💕💕💕
.
.
__ADS_1
Ish, bikin bikin othor iri saja. Othor gak punya shower. 😒