
"Maaf, kalau memang Ibu tidak mau merawat Naya, biar saya saja yang merawat dia."
Bu Nita berdiri dan menghampiri Arsen. "Kamu masih bocah bisa apa? Kamu yang membuat Naya seperti ini. Jadi merepotkan kita semua." Perkataan Bu Nita berhenti saat melihat Rangga dan Rani masuk ke dalam ruangan. "Ya sudah kalian mengobrol saja."
Kemudian Bu Nita keluar dari ruangan Naya sambil menatap layar ponselnya.
Naya mengalihkan pandangannya dan menyusut air mata di ujung matanya.
"Nay," Arsen mendekat lalu mengusap puncak kepala Naya. "Jangan sedih. Nih, hp kamu udah aku bawain. Jangan lupa nanti malam vc, biasanya kan kita tidur bareng di kamar." Arsen melirik Rangga. Dia memang sengaja memanasi Rangga dan ingin mencairkan suasana.
"Gak usah diumbar juga kali." Rangga juga mendekat dan melihat kondisi Naya. "Gimana keadaan kamu? Katanya kena DBD?"
Naya menganggukkan kepalanya. "Iya, baru kali ini aku kena DBD. Ini udah mendingan kok."
"Ya ampun Nay, jangan sepelein penyakit. DBD itu bahaya. Tetangga gue kemarin meninggal karena DBD." Seketika Rani mendapat tatapan tajam dari Arsen dan Rangga. "Eh, sorry. Bukan gitu maksud gue. Tapi yang sembuh dari DBD juga banyak kok." Rani tersenyum kaku. Padahal dia sudah biasa bercanda dengan Naya.
"Gimana kata Dokter? Trombositnya udah naik?" tanya Arsen.
"Udah, tapi masih rendah."
"Kalau makan dihabiskan. Kamu mau apa? Aku belikan."
Naya menggelengkan kepalannya.
Kemudian Arsen duduk di dekat brangkar Naya dan mengambil makanan Naya yang baru berkurang sedikit. "Kamu harus makan, biar cepat sembuh." Arsen mulai menyuapi Naya.
Rangga kini beralih duduk di sofa. Hatinya masih saja sakit melihat kedekatan Naya dan Arsen meski dia bisa melihat ketulusan cinta di antara keduanya.
Rani kini juga duduk di samping Rangga. "Kita berdua malah jadi obat nyamuk suami istri bucin."
Rangga hanya tersenyum miring. "Gimana lagi, kalau gak datang bareng Arsen gue sendiri juga gak yakin dibolehin masuk."
__ADS_1
"Makan pelan-pelan saja gak papa, yang penting habis." kata Arsen yang masih berusaha menyuapi Naya.
Tapi Naya justru menatap nanar Arsen. "Aku mau sama kamu aja." kata Naya pelan.
"Iya, nanti aku di sini. Jangan sedih lagi, biar cepat sembuh."
Naya menganggukkan kepalanya. Dia sekarang merasa jika tempat ternyamannya adalah tinggal bersama Arsen.
Setelah beres menyuapi Naya dan membantunya minum obat, Naya akhirnya tertidur dengan usapan lembut dari Arsen di rambutnya.
Beberapa saat kemudian ada Pak Aji yang masuk ke dalam ruangan Naya. Di ruangan itu masih ada Arsen, Rangga, dan Rani.
"Kalian mengapa masih ada di sini? Biarkan Naya istirahat, kalian pulang saja."
Seketika Rangga keluar dari ruangan itu, hanya Rani yang kini berpamitan pada Papanya Naya.
Arsen masih duduk, dia tidak mau beranjak dari tempat itu. "Saya akan tetap di sini untuk menjaga Naya."
"Tapi..."
"Kamu keluar! Biarkan kondisi Naya pulih dahulu."
Kali ini Arsen mengalah. Dia akan melihat besok, jika Naya masih diperlakukan tidak baik dia akan benar-benar bertindak.
Akhirnya Arsen keluar dari ruangan Naya. Sebenarnya berat sekali meninggalkan Naya seperti ini.
...***...
Malam hari itu, Naya tidak bisa tidur meskipun sudah meminum obat. Dia memiringkan dirinya dan berbalas pesan dengan Arsen agar Mamanya tidak tahu jika dia belum tidur. Meskipun Mamanya menjaganya tapi Mamanya hanya sibuk dengan ponselnya.
Beberapa saat kemudian terdengar Pak Aji masuk ke dalam ruangannya. Naya pura-pura tertidur dan meletakkan ponselnya di bawah bantal. Tak lupa ponselnya juga sudah dia silent.
__ADS_1
Pak Aji mendekati Naya. Dia membenarkan selimut Naya dan mencium kening Naya. Setelah itu dia duduk di samping istrinya.
"Ma, di saat Naya sakit tolong kasih perhatian buat Naya biar dia gak minta kembali sama Arsen." kata Pak Aji.
"Kan ini keinginan Papa. Udah bagus dia menikah dan bukan jadi tanggungan Mama lagi, mengapa Papa ingin Naya kembali ke rumah?"
"Dari awal Papa tidak tega menikahkan Naya semuda ini. Tapi Mama yang menyuruh Papa setuju dengan hukuman itu."
Bu Nita memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menatap suaminya. "Bagus dong dia nikah muda daripada jadi selingkuhannya orang seperti Ibu kandungnya."
"Mama jangan bahas lagi masalah ini!"
"Pa, apa kurangnya aku. Aku udah berusaha menerima kesalahan Papa. Bahkan saat selingkuhan Papa meninggal dan meninggalkan Naya yang masih bayi, aku mau menuruti keinginan Papa untuk menutupi semua aib itu dan menganggap Naya sebagai anak aku. Jujur saja, sampai sekarang luka hati itu masih terasa saat melihat Naya karena semakin besar wajah Naya semakin mirip dengan selingkuhan Papa."
"Mama cukup! Kita bicarakan masalah ini diluar!" Pak Aji menarik paksa istrinya keluar karena dia takut Naya terbangun dan mendengar semuanya.
Naya yang hanya berpura-pura tidur jelas mendengar apa yang orang tuanya bicarakan. "Jadi sebenarnya aku anak selingkuhan Papa?"
Satu kenyataan yang sangat melukai perasaannya. Dia tidak pernah mengira kehadirannya di dunia ini sebenarnya sangat tidak diinginkan. Pantas saja selama ini Mamanya tidak pernah menyayanginya dan seringkali memarahinya. Jadi inilah alasannya.
Naya kini menangis tanpa suara. Dia menghubungi Arsen lewat video call.
"Ar, besok jemput aku ya. Pokoknya kamu besok harus jemput aku..."
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1