
"Anak-anak udah semakin besar." Naya duduk di samping Arsen sambil melihat kedua anak mereka yang bermain di taman. Tidak hanya ada Shena dan Arnav tapi juga ada Reynand dan Vicky.
Kedua orang tua mereka juga ada di sana. Rani dan Rangga yang sedang menggelar tikar sambil mempersiapkan makanan, ada Virza dan Laras yang sedang menenangkan putri keduanya yang baru berusia satu tahun yang sedang menangis karena ingin ikut kakaknya.
"Makanan udah siap, ayo kita makan dulu." teriak Rangga.
Seketika anak-anak mereka berlari mendekat. Shena selalu berada di samping Vicky.
"Kak Vicky nih adik dari tadi mau ikut," kata Laras. Dia kini duduk di dekat putra pertamanya.
"Sini adik Verli." Vicky memangku adiknya. Seketika Verli tertawa dengan riang.
"Adik cewek pada nempel sama Vicky semua," kata Arsen sambil mengambil irisan buah semangka lalu memakannya.
"Iya, Vicky benar-benar kakakable banget. Buatin adik lagi gih," kata Naya sambil tertawa.
"Pengennya sih gitu," sahut Virza. Tentu saja dia sangat bersemangat membuatnya.
"Ih, dua aja udah cukup," kata Laras sambil mencubit pinggang Virza. Karena dia juga wanita karir, jadi dua anak sudah membuatnya tak bisa membagi waktu. "Reynand tuh udah saatnya punya adik."
Rangga hanya tersenyum kecil sambil merengkuh bahu Rani. "Kita sudah putuskan untuk punya Rey saja."
"Ya gak papa." Arsen mendekatkan dirinya pada Rangga. "Tapi buatnya nggak trauma kan?" Bisik Arsen yang langsung mendapat satu jotosan dari Rangga.
"Ibu, Shena pengen adik."
Naya melebarkan matanya mendengar permintaan Shena. "Kan sudah punya adik Verli."
"Gak mau. Gak bisa dibawa pulang. Shena juga mau main di rumah."
"Shena, di rumah kan sudah ada Caca dan Rara."
"Ih, itu boneka Ibu. Nanti beli adik beneran ya." Shena menggoyang-goyang tangan Ibunya.
"Shena, adik beneran gak ada yang jual. Bisanya dibuat sendiri." kata Arsen.
"Ya sudah, nanti buatin ya Ayah."
__ADS_1
Seketika semua tertawa mendengar perkataan Shena.
"Beres, nanti buat ya Ibu."
Naya hanya berdengus kesal. Dia berbisik di telinga Arsen. "Jangan bicara macam-macam sama Shena."
"Ya kan buatnya tiap hari tapi gak dijadiin," bisik Arsen.
Seketika Naya mencubit pinggang Arsen karena semakin hari Arsen semakin me sum. "Shena makan dulu." Naya menyuapi Shena yang sedang bermain dengan Verli.
Mereka menikmati makan siang bersama di taman dengan angin sepoi yang sejuk. Memang jadwal rutin mereka satu bulan sekali selalu ada waktu untuk piknik bersama agar hubungan kekeluargaan mereka semakin erat.
"Bulan depan udah liburan kenaikan kelas, next mau liburan kemana?" tanya Virza.
"Gimana kalau ke luar negeri?" usul Arsen. Selama ini dia memang belum pernah mengajak keluarganya liburan keluar negeri.
"Serius? Lihat nanti saja soalnya aku sibuk," kata Rangga. "Gak bisa ninggalin pekerjaan lama-lama."
"Yah, Papa selalu saja sibuk setiap hari," kata Rey yang kecewa dengan perkataan Papanya. "Padahal Papa cuma ada waktu sebulan sekali seperti ini saja. Setelah itu Papa sibuk dari pagi sampai malam." Reynand berdiri lalu berlari dan duduk di bawah pohon untuk menyendiri.
Rangga segera menyusul putranya. Dia kini duduk di samping putranya dan merengkuh bahunya. "Maafin Papa ya. Iya, Papa akan usahakan. Kita akan liburan sama-sama."
Rangga sangat tersentuh dengan perkataan putranya. Dia sudah berusaha membagi waktunya tapi benar-benar tidak bisa. Perusahaannya berkembang pesat dan dia belum menemukan orang kepercayaan yang tepat untuk membantunya. "Iya, Papa mengerti. Sudah jangan sedih lagi. Papa bangga sama Rey yang sangat sayang sama Mama. Jangan menangis lagi jagoan Papa ini." Rangga menghapus sisa-sisa air mata Rey di pipinya.
"Ada apa?" Rani datang dan duduk di sebelah Rey.
"Rey, sini! Kita mabar yuk!" panggil Arnav.
"Iya." Seketika Rey berdiri dan berlari menghampiri Arnav.
Rangga kini hanya berdua dengan Rani. "Maafin aku. Aku belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu."
"Kenapa bilang seperti itu?"
"Iya, aku belum bisa membagi waktu aku untuk kamu dan Rey. Aku tahu kamu kesepian. Aku akan berusaha meluangkan waktu untuk kalian berdua." Rangga merengkuh bahu Rani dan mengusap lengannya. "Apa kamu ingin kita punya anak lagi?"
Rani hanya terdiam.
__ADS_1
"Saking takutnya aku kehilangan kamu sampai aku mengabaikan apa mau kamu. Besok kita ke Dokter kandungan lagi ya untuk program lagi. Sekarang aku jadi berpikir, buat apa aku punya segalanya kalau ternyata aku masih belum bisa membahagiakan keluarga aku. Aku sangat sayang sama kamu, Ran."
"Aku juga sayang sama kamu."
"Woy, sini! Jangan pacaran berdua disitu. Ayo foto bareng!" teriak Arsen. Dia sudah menyuruh Gery untuk mengambil foto ketiga keluarga itu.
Rangga dan Rani akhirnya mendekat. Selalu saja sesi foto-foto sangat seru dengan kelima bocah yang tidak bisa diam itu.
Mereka tertawa bersama melihat tingkah lucu anak-anaknya.
"Lucu banget sih mereka. Semoga mereka tetap akur seperti ini," kata Naya. Dia gemas sendiri melihat tingkah Shena, ditambah Verli yang baru bisa berjalan.
"Iya, semoga saja mereka juga bisa saling menjaga sampai mereka besar nanti." Arsen juga tertawa melihat anak-anaknya. Kini mereka semua ikut berfoto dengan tawa lebar di bibir mereka.
..._SELESAI_...
.
Selesai juga cerita ini... 😁 Sebenarnya othor masih sayang sama Arsen tapi othor gak bisa berlama-lama buat konflik lagi. Biar ceritanya jelas gak bertele-tele. Next pasti ada kelanjutan cerita anak-anak mereka. Masih belum tahu kapan, othor gak janji. Mungkin nunggu lolos event tema bad boy lagi.. 🤭🤭
.
Karena novel ini sampai di level keinginan othor, sesuai janji othor GA kecil-kecilan ya. Othor tambahin nih GA nya.
Untuk tiga gift teratas masing-masing dapat 25 ribu.
Untuk ranking 4 dan 5 masing-masing dapat 20 ribu.
Akun yang terpilih di bawah ini langsung chat othor ya mau diambil via apa...
Makasih yang sudah setia menemani cerita ini sampai akhir.. 😘😘😘😘
.
Jangan lupa baca karya aku lainnya ya..
__ADS_1
...x x x x x x x x x x x x x x x x x x...
.