Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 62


__ADS_3

"Nay, ayo pulang." ajak Arsen karena Naya masih saja duduk sambil memegang perutnya. Arsen membungkukkan dirinya dan menatap Naya. "Kenapa? Jadwal merah ya?"


Naya menganggukkan kepalanya. Sudah beberapa bulan tinggal bersama Arsen, Arsen mulai hafal dengan Naya. Naya selalu mengeluh sakit saat hari pertamanya di tanggal merah.


"Yah, gagal jadi Ayah," canda Arsen sambil tertawa.


Seketika Naya mencubit pinggang Arsen. Untunglah di kelas sudah sepi, hanya ada Rani dan Rangga.


Rani tertawa melihat tingkah mereka. "Udah ngebet jadi orang tua? Emang udah bisa jaga bayi? Ntar anaknya nangis ikutan nangis."


"Lo urusin hidup lo aja sana, jangan urusin rumah tangga gue." Arsen membantu Naya berdiri lalu menggandeng lengannya. "Nanti di rumah cepat istirahat ya."


"Iya." Kemudian mereka berdua keluar dari kelas.


"Gue antar pulang." Rangga menahan lengan Rani saat Rani akan melangkah pergi.


"Gak usah, gue dijemput," tolak Rani.


"Ayah lo sibuk di kantor." Rangga tidak melepas lengan Rani agar dia tidak kabur.


"Gue bisa pesen grab."


"Lo keras kepala amat. Ya udah, gue gak akan ganggu hubungan lo sama Virza. Nanti gue sama Arsen juga akan ke tempat Virza."


Seketika Rani tersenyum dan mengeratkan tangannya di lengan Rangga. "Gini dong, baru bestie."


Rangga membalas tatapan Rani. Dia juga tidak mengerti, mengapa dia selalu berkorban untuk Rani. Apa memang rasa itu murni karena sahabat?


"Ayo, katanya mau antar pulang. Kok malah bengong?" kata Rani. Dia kini menarik lengan Rangga agar segera berjalan.


Rangga mengalihkan pandangannya dan mengikuti Rani. "Iya."


Gak mungkin kan gue jatuh cinta sama Rani?


...***...

__ADS_1


"Kamu istirahat dulu," kata Arsen. Dia membantu Naya merebahkan dirinya di atas ranjang. "Biar aku belikan obat di minimarket dekat rumah."


"Naya kenapa, Ar?" tanya Bu Ririn saat melihat Naya yang pulang dari sekolah langsung meringkuk di atas ranjang.


"Biasa, Ma. Sakit di awal tanggal merah." jawab Naya. "Bentar lagi juga hilang."


"Ya sudah, Mama buatkan air rebusan asam jawa biar nyerinya mereda. Gak usah minum obat, di obatin secara alami saja."


Naya hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau belum punya anak memang biasa sakit gini, tapi setelah punya anak pasti gak sakit lagi," kata Bu Ririn sambil berlalu.


Seketika senyum Arsen mengembang di bibirnya. "Kode keras ini. Kayaknya Mama ingin cepat punya cucu." Arsen duduk di tepi ranjang sambil memijat kaki Naya.


"Ih, aku masih pusing mikirin materi buat ujian yang tinggal bentar lagi. Jangan nambahin beban."


"Iya, iya, bercanda. Nanti malam kita belajar ya. Tapi aku mau ke tempat Virza dulu sama Rangga."


Naya menganggukkan kepalanya. " Ya udah. Pulangnya jangan malam-malam."


"Oke." Arsen mencubit pipi Naya lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.


...***...


Tiba-tiba saja, dia teringat dengan Rani.


Gini baru bestie.


Rangga menarik napas panjang, berusaha menenangkan hatinya yang gundah. Selama ini Rani memang tidak pernah dekat dengan pria lain dan saat Rani memiliki pacar, mengapa rasanya dia tidak rela.


Dulu dia berpacaran dengan Naya dan mencintai Naya sampai setahun lamanya tapi Rani selalu mendukungnya. Sekarang harusnya dia bisa mendukung Rani, tapi rasanya sulit menerima keadaan ini.


"Melamun aja lo. Sorry telat, istri rewel di rumah." Arsen tertawa lalu duduk di dekat Rangga.


Rangga tak menjawab, dia hembuskan asap dari rokok yang baru saja dia hisap.

__ADS_1


Arsen hanya tersenyum miring. Dia jelas bisa membaca wajah galau Rangga. "Lo gak rela Rani sama Virza? Lo tenang aja, Virza itu cowok baik-baik."


Tak ada respon dari Rangga.


"Atau jangan bilang kalau lo cemburu?"


Seketika Rangga menjotos lengan Arsen. "Mana ada cemburu sama sahabat."


"Sahabat itu cuma status. Lo udah biasa sama Rani selama bertahun-tahun. Lo pasti ada perasaan takut kehilangan Rani. Mungkin kemarin-kemarin lo ngerasain cinta sama Naya tapi itu cuma sesaat, karena perasaan lo yang sebenarnya itu ya buat Rani."


Rangga tertawa lalu dia mematikan rokoknya. "Sok bijak banget lo. Jangan mentang-mentang udah jadi bapak rumah tangga udah berasa jadi pakarnya cinta." Kemudian Rangga berdiri dan berjalan menuju motornya. "Kita ke Virza sekarang, gue gak bisa sampai malam."


"Oke." Arsen juga berdiri dan naik ke atas motornya. Lalu motor mereka segera menuju ke bengkel Virza.


Beberapa saat kemudian motor mereka telah berhenti di depan bengkel Virza.


"Ngapain kalian ke sini?" tanya Virza. Dia membersihkan tangannya yang kotor lalu duduk dengan mereka berdua.


"Gue mau minta maaf sama lo masalah kemarin," kata Rangga. Tidak ada lagi rasa gengsi, karena dia harus bisa bersikap lebih dewasa.


"Ya udahlah, gue juga yang salah. Gue kemarin juga emosi. Gue juga minta maaf sama lo," kata Virza.


"Tapi ingat, selama lo sama Rani, lo harus jagain dia. Jangan pernah libatkan Rani di geng kita."


"Oke. Udah gak perlu bahas lagi masalah itu. Gimana rencana kita ke depannya?"


Mereka bertiga mengobrol dengan ditemani rokok dan kopi yang membuat mereka betah hingga larut malam.


.


💕💕💕


.


Ini kumpulan cowok bad boy ya ternyata... 🤭 Masih SMA udah pada merokok. Jangan ditiru ya...

__ADS_1


.


Like dan komennya mana nih. Bentar lagi mereka lulus dan lanjut kuliah. Nanti konfliknya aku kasih yg ringan2 aja gak berat kayak kehidupan ini...


__ADS_2