
"Ar, nanti antar gue ke tempat Virza," kata Rangga sambil duduk di depan Arsen saat di kantin.
Arsen hanya tersenyum miring menatap Rangga. "Ngalah juga akhirnya."
"Iya, gue kemarin cuma kebawa emosi aja." Kemudian Rangga membuka air mineralnya dan meminumnya.
"Aku ke kelas dulu ya, mau nemenin Rani." kata Naya, dia tidak ingin mencampuri urusan kedua pria itu.
"Gue titip ini buat Rani." Rangga mengambil beberapa makanan ringan kesukaan Rani dan juga minuman dingin.
"Iya." Setelah itu Naya pergi ke kelas sambil membawa titipan Rangga untuk Rani.
"Jadi, gimana selanjutnya?" tanya Arsen.
"Kita lihat dulu gimana reaksi geng Bara. Apa lanjut bertingkah atau gak. "
"Sebenarnya ada masalah apa antara lo dan keluarga Bara. Kalau masalah bisnis, kenapa gak lo selesaiin aja. Perusahaan bokap lo kan sekarang menguasai pasar investasi."
"Gue sengaja mengulur waktu karena gue ingin mencari bukti. Kalau gue langsung bertindak, percuma mereka akan balik tuntut gue."
"Bukti apa? Mungkin gue bisa bantu lo buat cari." tawar Arsen.
Rangga menghela napas panjang. "Lo sekarang cukup jagain Naya. Nanti kalau masalah gue clear, gue akan kasih tahu lo."
"Gue heran sama lo, kalau memang udah gak ada perasaan sama Naya kenapa lo selalu pesan kalau gue harus jagain Naya. Tanpa lo suruh, gue juga pasti jagain Naya." Kemudian Arsen menghabiskan minumannya.
"Iya, sekarang beda. Bukan lagi soal perasaan. Gue belum bisa cerita masalah ini karena gue belum punya bukti." Kemudian Rangga berdiri dan membayar ke penjaga kantin sebelum akhirnya pergi.
__ADS_1
"Mencurigakan." gumam Arsen.
...***...
"Ih, perhatian banget Rangga sama lo." kata Naya. Dia kini menemani Rani yang duduk di bangkunya.
"Dari dulu Rangga memang perhatian sama gue. Kan kita bestie." Rani membuka makanannya lalu memakannya.
"Bestie tapi sering berantem juga ya. Seru hubungan lo sama Rangga. Moga aja kalian berjodoh." kata Naya sambil tersenyum.
"Ih, Nay, kok doanya gitu sih. Gue kan pengen sama Kak Virza aja."
"Jodoh gak ada yang tahu, Ran."
Beberapa saat kemudian ada teman Naya yang masuk ke dalam kelas dan memanggil Naya. "Nay, dicariin Papa kamu."
"Papa?" Naya mengernyitkan dahinya. Buat apa Papanya mencarinya? Mau tidak mau, dia harus menemui Papanya. Kemudian dia berdiri dan keluar dari kelas. Ternyata Papanya sudah menunggunya di ujung koridor kelas.
"Naya, apa kabar? Papa kangen sama kamu." kata Pak Aji.
Naya hanya terdiam. Dia mengalihkan pandangannya dari Papanya. "Baik, Pa." Hanya itu yang dia jawab dan bertanya balik.
"Papa barusan ada perlu dengan kepala sekolah jadi langsung menemui kamu," kata Pak Aji lagi.
Naya masih saja terdiam.
"Nay, Papa sangat sayang sama kamu. Papa masih boleh menemui kamu lagi, kan?"
__ADS_1
Naya menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah. Jaga diri kamu baik-baik. Papa hanya bisa mendoakan kebahagiaan kamu."
Naya hanya menganggukkan kepalanya lagi. Kemudian Pak Aji berdiri dan pergi meninggalkan Naya.
Setetes air mata mengalir di pipi Naya. Bukannya dia marah dengan Papanya, tapi dia hanya belum bisa berdamai dengan keadaan.
"Nay? Kenapa?" Arsen duduk di samping Naya dan menghapus air mata Naya.
"Papa ke sini. Aku gak tahu kenapa aku masih saja merasa sedih." Naya menundukkan pandangannya. Dia menghela napas panjang dan berusaha untuk menerima semua ini.
"Aku ngerti. Memang masih butuh waktu untuk bisa menerima semua ini."
Naya menganggukkan kepalanya. "Aku masih saja belum bisa menerima kalau aku anak selingkuhan Papa. Entahlah, mengapa rasanya masih nyesek di hati. Kalau aku bisa memilih, kadang lebih baik aku gak tahu kenyataan yang sebenarnya."
"Sssttt, udah jangan bilang gitu. Jangan sedih lagi. Kamu udah punya aku, udah punya orang tua baru juga yang sayang sama kamu. Satu saran aku, jangan menghindar dan jangan membenci Papa dan Mama kamu. Ikhlaskan semuanya, maka sesak di hati kamu akan berkurang."
Naya tersenyum menatap Arsen. Andai saja saat itu bukan di sekolah, dia pasti sudah memeluk Arsen dengan erat.
"Gini dong senyum. Kita ke kelas yuk. Bentar lagi bel masuk." Arsen menarik tangan Naya agar berdiri. Kemudian mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas.
Satu senyum licik mengembang seiring kepergian mereka. "Oke, satu bom waktu sudah terakit. Nanti akan meledak jika waktunya tiba." Dia matikan rekaman suara itu, lalu melangkah pergi.
.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...