
"Baby Arnav lucu banget. Ih, gemes. Untung mirip Ibunya," kata Rani. Malam itu Rani dan Rangga datang menjenguk Naya.
"Emang kenapa kalau mirip gue?" Arsen sedang duduk di samping Naya sambil menyuapi Naya buah melon.
"Ya tetep lucu, tapi Ayahnya tetep ngeselin." Rani hanya tertawa lalu mencium pipi Arnav.
Di ruangan Naya malam itu sangat ramai, ada Virza juga yang datang menjenguk. Kedua orang tua Naya dan juga kakaknya.
"Sini, aku mau gendong ponakan aku juga." Rangga berganti menggendong Arnav dan menimangnya pelan. "Pasti besarnya nanti jadi raja jalanan juga nih. Mau lahir aja di sirkuit balap."
"No, no, gak boleh. Biar bapaknya aja yang kayak gitu. Anaknya jangan," kata Arsen. Dia jelas tidak ingin putranya mengikuti jejaknya kelak.
"Iya, gak boleh pokoknya," timpal Naya. "Ar, aku udah kenyang." Naya menggelengkan kepalanya saat Arsen terus menyuapinya.
Arsen meletakkan piring itu di atas nakas lalu dia berdiri dan mendekati Rangga yang masih menggendong buah hatinya. "Gas kan. Langsung buat."
"Gas udah tiap hari tinggal nunggu hasilnya."
"Ih," Rani kini duduk di dekat Naya karena obrolan mereka sudah mengandung hal negatif. "Nay." Rani mengusap lengan Naya. Dia merasa kasihan melihat kondisi Naya saat ini. "Moga kamu cepat pulih. Besok kamu operasi jam berapa?"
"Jam 1 siang."
"Semoga operasinya lancar ya."
"Amin. Makasih ya."
Rani kini memeluk Naya dari samping. "Kamu hebat ya. Aku gak bisa bayangin kalau aku ada di posisi kamu. Pasti aku gak bisa lalui ini semua."
"Setiap cobaan pasti ada takarannya masing-masing."
Kemudian Rani melepas pelukannya dan melihat Virza yang sedang berdiri di dekat Kakaknya Naya. "Eh, Nay, Virza ada hubungan sama Kak Laras?" tanya Naya sambil berbisik.
__ADS_1
"Aku gak tahu perkembangannya kayak gimana? Yang jelas mereka memang lumayan dekat."
Rani tertawa kecil. "Lucu juga kalau Kak Virza jadi kakak ipar kamu."
"Iya, keliatannya mereka cocok."
Sedangkan Virza sedari tadi hanya terdiam di dekat Laras. Setelah dari acara tunangan Riki dulu, mereka memang sudah tidak berkomunikasi lagi. Padahal Virza menunggu jawaban Laras tentang ajakannya menghadiri wisudanya besok lusa.
Laras kini melihat kedua orang tuanya yang sedang mengobrol dengan orang tua Arsen, akhirnya dia beranikan diri berbicara dengan Virza.
"Kamu jadi wisuda gak?" tanya Laras.
"Ya jadi. Masak iya wisuda gak jadi."
"Kenapa kamu gak chat aku?" tanya Laras lagi.
"Aku nunggu chat kamu."
"Kamu masih mau ajak aku?"
"Nggak usah. Aku langsung ke kampus kamu aja. Kamu kuliah di fakultas teknik kan?"
Virza menganggukkan kepalanya. "Iya. Nanti chat aja kalau udah sampai."
Laras menganggukkan kepalanya.
"Calon kakak ipar malah bisik-bisik disitu," celetuk Arsen.
Seketika Virza dan Laras berdiri. Ingin rasanya Virza melempar sepatu pada Arsen. Sedari dulu sahabatnya itu sangat usil meskipun sudah jadi bapak sekalipun.
"Ck, calon kakak ipar." kemudian Arsen tertawa. Terasa sangat lucu saat dia membayangkannya jika Virza memang jadi kakak iparnya nanti.
__ADS_1
Rangga hanya menahan tawanya. Bisa-bisanya mereka bertiga akhirnya menjadi satu keluarga jika Virza memang bersama Laras.
"Apaan lo. Udah lo jangan godain gue terus. Gue culik anak lo ntar." Virza meraih Arnav dan menggendongnya.
"Udah cocok jadi bapak rumah tangga. Segerakan!" kata Arsen.
Virza hanya tersenyum kecil, dia kini menimang Arnav yang sedikit membuka matanya itu karena sudah mengantuk. "Udah ngantuk? Lucu banget. Hasil karya Arsen lucu juga ternyata."
"Yaiyalah. Udah kalian cepetan buat prakarya juga." Kemudian Arsen mendekati kedua mertuanya. "Mama Nita dan Papa Aji, kalau laki-laki itu jadi suami Laras, Mama sama Papa setuju gak?"
Seketika orang tua Laras menatap Virza.
Virza ingin menghilang saja dari muka bumi ini. Arsen benar-benar menguji nyalinya. Dia belum ada niat untuk serius karena dia juga belum mempunyai perasaan apa-apa. Bisa-bisanya Arsen bertanya pada kedua orang tua Laras tentang hal itu.
"Eh, maaf Om, Tante, jangan didengarkan omongan Arsen."
"Kalau Laras suka ya kita setuju aja." kata Pak Aji.
"Tuh, udah lampu hijau dari orang tua. Gimana Kak Laras?"
"Apaan sih, Ar. Kamu tuh, aku masih mau sendiri." Laras duduk di sofa dan melipat tangannya. Meskipun dalam hati kecilnya dia mengharap, tapi dia gengsi mengakuinya.
Virza menurunkan Arnav di box nya karena telah tertidur. Kemudian dia menarik Arsen keluar dari ruangan itu.
"Lo jangan berbuat ulah. Jangan ungkit hubungan gue dan Laras. Kita belum serius, cuma pura-pura."
Arsen hanya tertawa. "Pura-pura tapi sama-sama baper." Kemudian Arsen menepuk bahu Virza. "Semangat. Gue dukung lo." Lalu dia masuk ke dalam ruangan itu.
Virza tak menyusulnya, dia justru duduk di kursi tunggu yang berada di koridor rumah sakit. Memikirkan perasaannya yang tidak tahu untuk siapa sebenarnya.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...