Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 44


__ADS_3

"Nay, makan yang banyak." Arsen kini menyuapi Naya mie ayam yang tinggal setengah karena nafsu makan Naya memang belum pulih sepenuhnya.


"Ar, jangan disuapi. Malu, ih." Naya menggeser mangkoknya lagi dan kembali makan sendiri.


"Kamu gak pernah habis makannya kalau gak aku suapi." Arsen kini menopang dagunya sambil menatap Naya.


"Ya kan memang lagi masa pemulihan."


"Lihat nih, pipinya tirus gini." Kemudian Arsen mencubit pipi Naya.


"Jangan cubit, ih."


"Arsen, bisa gak kalau di sekolah itu gak usah deket-deket Naya terus." protes Rani karena sedari tadi Rani berada di hadapan mereka dan menjadi obat nyamuk.


"Emang kenapa?" Pandangan mata Arsen kini tertuju pada Rangga yang duduk di sebelah Rani. Dia mengambil air mineral sambil menatap layar ponselnya dengan serius.


"Ngga, mulai sekarang Naya sudah gak kerja di tempat lo lagi. Biar dia di rumah aja." kata Arsen. Setelah sakit, dia tidak akan pernah mengizinkan Naya untuk bekerja lagi.


"Iya, iya, gue ngerti. Gak papa, nanti gue bilang sama bosnya."


Seketika Arsen tertawa, yang membuat Naya mengerutkan dahinya.


"Kenapa tertawa?" tanya Naya.


"Nggak papa, lawak nih orang."


Rangga hanya menatap tajam Arsen. Lalu dia berdecak. Tiba-tiba saja ada yang sengaja menumpahkan es di pundak Rangga.


"Gak liat kalau ada lo." kata Roni tanpa meminta maaf karena memang dia sengaja mencari gara-gara.


Rangga berusaha untuk tenang. Dia kini mengambil tisu dan mengusap bahunya.


"Ngapain lo?" Arsen menunjuk Roni dan dua temannya yang kini berdiri di dekat Rangga. "Lo jangan cari-cari masalah lagi. Gue udah gak pernah ganggu lo!"


Roni berdecak. "Gue udah denger kalau lo udah gak dihukum bokap lo. Makanya lo kasih dia uang buat taruhan adu balap sama Bara."


Arsen akan berdiri tapi dicegah oleh Rangga. "Ck, kalian itu pengecut! Beraninya cuma main belakang."


"Ini bukan urusan lo! Lo bukan geng Arsen!"


"Kalau gue gabung sama dia kenapa? Lo salah berurusan sama gue!" Rangga semakin menantang Roni.


"Oke, nanti malam kita lanjutkan balapan kemarin yang sempat tertunda! Lo ditunggu Bara!" Kemudian Roni membalikkan badannya dan pergi dari tempat itu.


Arsen tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia kini berdiri dan menarik Rangga.

__ADS_1


"Udah Nay, biarin urusan cowok," kata Rani.


"Iya, tapi gue gak mau kalau Arsen ikut balapan lagi. Gue takut."


Rani tersenyum lalu berbisik di telinga Naya. "Takut jadi janda sebelum disentuh?"


"Ih, ngaco!"


Sedangkan Arsen kini sedang berbicara serius dengan Rangga di tempat sepi. "Apa maksud lo tadi?"


"Sebenarnya ada yang mau bakar basecamp lo semalam." kata Rangga.


Mendengar hal itu Arsen sangat terkejut. Dia mengepalkan tangannya. "Lo tahu darimana? Pasti ini perbuatannya Bara!"


"Anak buah gue itu banyak dimana-mana. Lo sekarang udah gak sempet kan urusin basecamp dan juga anak buah lo? Biar gue yang urus semua."


"Eh, lo mau menguasai geng gue juga! Udah gak ada yang namanya bos di geng gue!" Arsen menunjuk Rangga. Bagaimana pun juga dia tidak rela teman-temannya yang tinggal sedikit itu meninggalkannya begitu saja.


Rangga menepis tangan Arsen. "Gue dibandingin sama geng lo, gak ada level!"


"Cih, sombong banget lo. Keluarga lo kan emang terkenal dengan dewa kematian."


Seketika Rangga membekap mulut Arsen. "Jangan seenaknya kalau ngomong. Ada yang lebih parah dari keluarga gue yaitu keluarga Bara. Kenapa gue mau mengaku bergabung dengan lo, karena gue mau menghancurkan Bara!" Kemudian Rangga melepas tangannya dari Arsen.


Rangga menghela napas panjang. "Dendam turun temurun." Rangga akan melangkahkan kakinya tapi dicegah oleh Arsen.


"Bukannya lo gak mau..."


"Gue terpaksa." Rangga memotong kalimat Arsen. "Lo jangan ikut campur masalah ini. Tugas lo sekarang cuma jagain Naya. Jangan sampai Naya terlibat masalah ini." Kemudian Rangga pergi meninggalkan Arsen.


Arsen semakin tidak mengerti dengan ini semua. Dirinya sudah berubah menjadi lebih baik mengapa Rangga justru akan mengikuti jejaknya dulu?


...***...


"Ar, kamu kerja gak hari ini?" tanya Naya sambil merebahkan dirinya. Setelah pulang sekolah dan makan, dia langsung beristirahat karena kondisi tubuhnya masih belum pulih seratus persen.


"Enaknya nemenin kamu tidur." Arsen naik ke atas ranjang dan memeluk tubuh Naya.


"Jangan malas. Nanti mau makan apa? Jangan mentang-mentang udah di kasih kartu sakti sama Papa langsung jadi malas."


"Besok saja aku kerja." Arsen menarik selimut lalu mengeratkan pelukannya.


Naya memutar tubuhnya dan menatap Arsen. "Ar, ada masalah apa Rangga sama Roni?"


"Urusan laki-laki. Kamu jangan ikut campur." Kemudian Arsen mencium singkat kening Naya agar tidak berkerut.

__ADS_1


"Tapi aku gak mau kamu balapan. Bahaya, aku gak mau kamu kenapa-napa."


Arsen tersenyum lalu menangkup kedua pipi Naya. "Iya. Sekarang aku udah punya kamu. Aku udah keluar dari zona itu." Kemudian Arsen mendekatkan dirinya dan mencium lembut bibir Naya.


Naya kini sudah bisa mengimbangi permainan bibir Arsen. Bahkan dia sudah berani menyesap dan menggigit bibir itu.


Satu tangan Arsen kini menelusup ke dalam kaos Naya. Mengusap punggung lembut itu tanpa penghalang apapun.


"Sayang, kapan unboxing?" tanya Arsen dengan wajah merahnya. Rasanya dia sudah ingin sekali melakukannya bersama Naya.


Pipi Naya bersemu merah. Apalagi saat mendengar Arsen memanggilnya sayang. "Mau kapan? Terserah, mumpung jadwal merah masih lama."


Senyum Arsen semakin mengembang di bibirnya. "Weekend aja ya. Biar hari Minggu bisa istirahat di rumah."


Naya mengangguk pelan. "Tapi jawab pertanyaan aku dulu, sebenarnya Rangga pemilik restoran tempat aku kerja kan?"


Arsen terdiam. Sepertinya dia memang tidak bisa menyembunyikan masalah ini terlalu lama dari Naya.


"Jawab jujur, kalau gak aku cancel nih malam minggu."


"Iya, iya, jadi Rangga itu pemilik restoran tempat kamu kerja. Dia anak orang kaya, bahkan mungkin lebih kaya dari aku."


Seketika Naya menatap Arsen dengan serius. "Terus kenapa identitasnya disembunyikan?"


"Aku gak begitu paham masalah itu. Yang jelas keluarga Rangga sangat berbahaya. Papa aja sangat hati-hati jika bekerja sama dengan keluarga Rangga."


"Maksud kamu Rangga dari keluarga mafia?" tebak Naya.


Arsen tak menjawabnya. Dia tidak bisa menjelaskan semua itu. Hanya Rangga yang tahu bagaimana keluarganya yang sebenarnya.


"Aku gak terlalu tahu masalah itu. Tapi yang jelas, Rangga itu baik. Tapi..." Arsen semakin mendekatkan dirinya. "Aku akan tetap cemburu kalau kamu dekat dengan Rangga."


"Ih," Naya mencubit hidung Arsen lalu mencium bibirnya. "Masak masih gak percaya sama aku?"


"Percaya, tapi ini kurang lama." Arsen menunjuk bibirnya agar Naya kembali menciumnya lagi.


Naya kembali mencium bibir Arsen. Semakin dalam dan penuh perasaan.


.


💕💕💕


.


Malam minggu ya.. 🤭

__ADS_1


__ADS_2