Married With Bad Boy

Married With Bad Boy
BAB 65


__ADS_3

"Jalan-jalan yuk, mumpung libur." ajak Arsen sambil duduk di sebelah Naya.


Naya yang sedang duduk di depan televisi sambil menikmati cemilannya hanya melirik Arsen. "Drama aku belum kelar."


"Kamu tuh betah banget ya di rumah, tapi gak papa aku malah suka." Arsen mengambil toples yang ada di tangan Naya lalu ikut memakan cemilan itu. Dia kini menyimak drama yang dilihat Naya. "Masih ganteng aku, mereka itu cuma menang putih. Tapi kamu seneng banget lihat aktor-aktor itu."


Naya mencebikkan bibirnya. "Kamu dibanding mereka itu jauh."


"Halah, palingan mereka kalau urusan ranjang juga loyo. Lihat aja gayanya sok imut, bisa juga malah suka pedang-pedangan."


"Sssttt, kalau gak suka udah diam aja. Jangan diliat. Kamu lihat kartun aja di kamar."


Arsen justru menyandarkan kepalanya di bahu Naya.


"Ar, jangan gini nanti dilihat Bi Nur atau Mama." Naya mendorong kepala Arsen tapi Arsen semakin memberatkan kepalanya.


"Kamu lebih suka lihat di sini. Di kamar kan juga ada TV."


"Hidup aku gak di kamar aja. Kalau di kamar kamu ganggu. Kamu ganti channelnya ke layar biru."


"Belajar Nay, cari gaya-gaya baru."


"Dih."


Arsen masih saja bersandar manja di bahu Naya sambil sesekali menyuapi Naya.


Beberapa saat kemudian ponsel Naya berbunyi. Ada sebuah panggilan yang masuk.


Arsen mengambil ponsel Naya yang ada di atas meja dan melihat nama yang tertera. "Rani telpon."


Naya segera mengangkat panggilan itu. "Hallo Ran." Terdengar suara tangisan Rani di seberang sana. "Ran kenapa kamu nangis?" Kemudian Naya berdiri dan berjalan ke kamarnya.


"Nay, gue bertengkar sama Rangga dan gue sekarang udah putus juga sama Kak Virza."


"Kenapa bisa putus?" Naya duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Arsen mengikuti Naya lalu mendekatkan telinganya dan menguping pembicaraan mereka.


"Gue ke villa sama Kak Virza terus Rangga nyusulin gue."


"Ke villa mau ngapain?"


"Ya..." Rani semakin menangis. "Iya gue emang salah, harusnya gue gak lakuin ini sama Kak Virza. Tiba-tiba Rangga datang dan marah banget. Dia ninggalin gue karena gue gak mau ikut pulang sama Rangga. Nay, sekarang Rangga juga blokir nomor gue."


"Lo tenang dulu. Mungkin Rangga masih butuh waktu untuk sendiri. Nanti kalau keadaan udah tenang, baru lo temui Rangga dan minta maaf. Gue yakin Rangga gak beneran marah sama lo."


"Tapi Ran, Rangga gak pernah marah sampai kayak gini."


"Sebenarnya lo berat sama Virza atau Rangga?"


"Ya gue, berat dua-duanya tapi gue lebih gak mau lagi kalau Rangga yang jauhin gue. Gue udah sahabatan sama Rangga sejak kecil, Nay. Gue emang sering bertengkar tapi gak sampai separah ini apalagi sampai blokir nomor."


"Iya, biarkan keadaan tenang dulu nanti lo minta maaf sama Rangga. Gue yakin, dia cuma marah sesaat aja. Udah jangan sedih lagi. Kalau butuh hiburan, gue bisa nemenin lo jalan."


Seketika Arsen mencubit pinggang Naya.


"Ar, apaan sih." Naya menepis tangan Arsen yang masih saja mencubiti pinggangnya.


"Tadi aku ajak jalan gak mau, sekarang malah ngajak Rani jalan."


"Kan beda situasi." Naya meletakkan ponselnya di atas nakas. "Tadi udah kamu matiin kan tvnya di depan?"


"Udah."


Naya kini menghidupkan televisi lalu mencari channel untuk melanjutkan filmnya.


"Ar, emang Kal Virza itu kalau ke cewek gimana? Me sum?"


Arsen duduk di samping Naya dan merengkuh bahunya. "Sejauh ini, Virza jarang banget deket sama cewek. Ya namanya cowok wajarlah kalau penasaran dengan rasa itu." Arsen tertawa menatap Naya.


"Termasuk kamu."

__ADS_1


"No, no, itu dulu saat aku ada di kegelapan. Itu aja aku nyesel banget. Tapi meskipun gitu aku dulu punya prinsip, kalau aku lagi pengen lebih baik bayar daripada rusak anak orang."


Naya mencebikkan bibirnya.


"Aku jujur loh." Arsen mencubit bibir Naya. "Yang jelas sekarang aku padamu."


"Jangan-jangan kamu iming-iming Kak Virza ya, makanya Kak Virza jadi pengen nyoba sama Rani."


"Ujung-ujungnya jadi aku yang tertuduh. Emang dasarnya Virza aja yang imannya gak kuat. Maunya yang gratisan. Atau..." Arsen semakin menatap Naya. "Jangan-jangan yang kasih tutor sama Rani."


"Ih, nggak! Malu ih cerita urusan ranjang sama teman. Ya kemarin sih Rani sempat tanya, gimana rasanya hubungan? Ya, aku jawab enak."


"Tuh kan, kamu juga ikut andil."


"Ya iman Rani aja yang lemah."


Arsen semakin tertawa dan mencubit gemas pipi Naya. "Untuk masalah ini biarkan mereka bertiga yang selesaikan sendiri. Kita gak perlu ikut campur."


Naya menganggukkan kepalanya. "Iya, ini menyangkut perasaan. Rani pasti bingung harus milih Rangga atau Kak Virza. Eh, tapi Kak Virza kenapa langsung putusin Rani?"


"Maybe, Virza merasa bersalah. Dia orangnya memang gitu. Gak bisa pikir panjang." Arsen mengambil remote tv dan mengganti channel yang di tonton Naya.


"Ar, tuh kan. Film aku belum selesai udah diganti."


"Nanti aja kamu lanjut. Aku mau cari gaya baru dulu, kan nilai kamu kalah sama aku. Katanya aku boleh minta apa aja sama kamu."


Naya memutar bola matanya lalu merebahkan dirinya. Kemudian dia memutar tubuhnya dan tengkurap sambil memeluk guling. "Aku mau tidur ngantuk."


Arsen tersenyum menatap Naya. Dia justru menindih tubuh Naya dari belakang. "Jadi mau pakai gaya tengkurap. Oke, siapa takut."


"Arsen!"


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya .. 😂


__ADS_2